• PDF

Pemulihan Gambar Diri (1)

Penilaian Pengunjung: / 2
TerjelekTerbaik 
  • Sabtu, 02 Mei 2009 11:04
  • Ditulis oleh Sunanto
  • Sudah dibaca: 1536 kali
Mat 22:39 “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Mayoritas dari anda pasti sudah mengetahui tentang hukum kasih yang kedua ini dimana Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Pernahkah terlintas di benak anda, mengapa kita disuruh mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri? Alkitab versi bahasa sehari-hari menerjemahkan dengan kalimat yang sangat bagus yaitu cintailah sesamamu seperti engkau mencintai diri sendiri. Saya percaya maksud kata mencintai diri sendiri di sini bukanlah dalam arti kita disuruh egois atau mementingkan diri sendiri (selfish). Mencintai diri sendiri juga tidak berarti orang yang merawat tubuhnya secara berlebihan seperti sering ke salon untuk merawat tubuh. Mencintai diri sendiri yang dimaksud disini lebih mengacu kepada sebuah sikap penerimaan terhadap diri sendiri. Bukankah bila kita mencintai seseorang dengan tulus berarti kita menerima keberadaan dia apa adanya?

Jane Hansen, pemimpin Women’s Aglow International menuturkan bahwa kita telah dirancang untuk keintiman dimana kita merindukan kasih dan perhatian yang tulus tetapi akibat telah jatuh ke dalam dosa maka kita hidup di dalam dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang dikendalikan oleh egoisme dan kepentingan diri sendiri. Kita menjalin hubungan dengan orang lain bukan berdasarkan apa yang mereka perlukan melainkan berdasarkan apa yang kita perlukan untuk memuaskan rasa dahaga yang tersembunyi di dalam jiwa kita. Kasih yang sejati merupakan sebuah penerimaan tanpa syarat terhadap orang yang kita kasihi. Kita tidak mungkin bisa mengasihi orang lain dengan benar jika kita sendiri tidak mengasihi diri kita. Kita harus bisa menerima diri kita sendiri apa adanya baru setelah itu kita bisa menerima keberadaan orang lain tanpa syarat. Diperlukan sebuah gambar diri yang sehat agar kita bisa mengasihi orang lain tanpa syarat (tanpa melindungi diri sendiri).

Sebagai keturunan dari Adam yang telah jatuh ke dalam dosa, sebenarnya setiap kita dilahirkan dengan gambar diri yang tidak sehat dalam kadar tertentu. Namun banyak orang yang mengalami kerusakan gambar diri yang parah (batinnya terluka) akibat penolakan atau tidak adanya penerimaan dari orang tua terutama saat masih kanak-kanak. Apalagi di zaman modern ini yang serba cepat dan sibuk sehingga menyebabkan banyak orang tua tidak memiliki waktu untuk anak-anak akibat sibuk bekerja. Berbeda dengan zaman dulu, anak-anak yang dilahirkan di zaman modern ini banyak yang hanya dianggap membuat susah (bukan membawa keberuntungan) oleh orang tuanya. Perlakuan terhadap kita sejak dari kandungan juga dapat sangat mempengaruhi sebab saya mengenal seorang teman yang bergumul dengan penolakan yang berat akibat pernah hendak digugurkan oleh ibunya.

Dalam bukunya ‘Rahasia Hidup Dalam Berkat Allah‘ Gary Smalley dan John Trent Ph.D mengatakan memperoleh atau tidak memperoleh dukungan dari orang tua sangat berpengaruh bagi kita meskipun hal itu sudah lama berlalu. Apa yang terjadi dalam hubungan kita dengan orang tua akan sangat berpengaruh sangat besar dalam hubungan kita di masa kini dan di masa yang akan datang. Sebuah penyelidikan ilmiah menyebutkan bahwa proses pembelajaran emosi sangat penting pada empat tahun kehidupan sehingga seseorang akan bisa ditebak akan menjadi seperti apa nanti sejak masih usia empat tahun. Dr. T. Berry Brazelton seorang spesialis anak dari Harvard mengatakan bayi-bayi yang mendapat dosis persetujuan dan dukungan dalam jumlah besar dalam kehidupan mereka akan mempunyai harapan besar untuk berhasil dalam menghadapi tantangan kehidupan, sedangkan bayi-bayi yang berasal dari keluarga yang berantakan yang menyia-nyiakan mereka akan cenderung memiliki sikap negatif dan mudah kalah dalam menghadapi kehidupan. Ditemukan juga orang tua yang gemar melakukan kekerasan akan menurunkan kecenderungan kepada anak-anak mereka untuk melakukan kekerasan juga. Kebanyakan orang tua yang menganiaya anak mereka ternyata juga mengalami penganiayaan waktu kecil. Orang tua yang memiliki gambar diri yang rusak biasanya akan memiliki anak yang juga memiliki gambar diri yang rusak. Seorang Ayah tidak akan bisa memberikan dukungan kepada anaknya jika ia sendiri tidak pernah mendapatkan dukungan dari generasi sebelumnya.

Seorang pemimpin yang memiliki gambar diri yang rusak akan memiliki rasa tidak aman terhadap orang-orang yang dipimpinnya sehingga ia sering dihinggapi rasa takut pengaruhnya akan hilang.
Gambar diri yang rusak juga menyebabkan kita memiliki takut akan manusia seperti yang dialami oleh raja Saul yang lebih memilih untuk menyenangkan rakyat (manusia) daripada menaati Allah.
Hal ini juga yang menyebabkan Saul iri hati terhadap Daud dan ingin membunuhnya sebab Daud lebih dicintai oleh rakyat. Saya bertemu dengan banyak pemimpin rohani yang memiliki kelemahan seperti Saul sehingga tanpa sadar menyingkirkan setiap orang yang ia rasa membahayakan posisinya. Pemimpin yang tidak aman ini biasanya sangat suka dengan orang-orang yang sukanya menjilat atau ABS (Asal Bapak Senang). Kita tidak akan bisa bertumbuh dewasa menjadi bapa (ibu) rohani yang dapat mengayomi banyak orang jika tidak dipulihkan dari gambar diri yang tidak sehat ini.

Banyak hal yang bisa kita pilih dalam kehidupan ini namun ada beberapa hal yang tidak bisa kita pilih.
Diantaranya yang tidak bisa kita pilih adalah kita tidak bisa memilih dimana akan dilahirkan dan siapa yang akan menjadi orang tua kita. Saya tidak bisa memilih dilahirkan sebagai seseorang yang berkelamin laki-laki dari orang Indonesia keturunan etnis Tionghoa. Saya tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai anak yang ditolak dan setelah saya selidiki ternyata orang tua saya juga telah mengalami penolakan dari generasi sebelumnya. Akan tetapi, saya bisa memilih untuk dipulihkan dengan membuka diri terhadap proses pemulihan dari Tuhan sehingga generasi setelah saya tidak harus mengalami luka penolakan yang pernah saya alami. Anda semua yang bergumul dengan luka-luka batin juga dapat memilih untuk dipulihkan oleh Tuhan jika anda mau terbuka dan diproses olehNya. Langkah pertama untuk mengalami proses pemulihan tentu anda harus terlebih dahulu memiliki keinginan untuk dipulihkan. Tetapi seringkali kita tidak menyadari bahwa ada luka batin dalam hidup kita yang mana ketidaksadaran ini disebut dengan sisi kehidupan yang tak terlihat (blind spot). Biasanya kita baru akan menyadari bahwa kita perlu dipulihkan saat krisis (keadaan terjepit) melanda kehidupan kita .

Seperti pernah saya ceritakan dalam tulisan yang lalu bahwa masa kecil saya sebagian besar suram dan tidak begitu baik. Gambar diri saya rusak begitu parah akibat penolakan yang dialami sejak masih kecil. Luka batin yang mendalam ini juga menyebabkan saya mengidap asma (akibat kepahitan) dan sering gugup berbicara bila sedang dalam tekanan. Saya masih ingat ketika sekolah dasar dulu saya sering menjadi bahan ledekan (hinaan) dari teman-teman. Katanya ketika kecil saya bertampang culun/bodoh (sekarang jelas tidak) sehingga sering menjadi bahan bulan-bulanan orang lain. Dulu saya pernah dendam terhadap mereka yang pernah menghina (juga memukul) namun sekarang saya mengerti bahwa sebenarnya yang menyebabkan itu semua terjadi karena memang gambar diri saya yang rusak parah. Oleh karena itu saya sangat kagum atas pemulihan yang Tuhan kerjakan dalam hidup saya sehingga hari ini saya boleh memiliki gambar diri yang sehat (tentu belum sempurna seratus persen). Walaupun proses pemulihan itu sangat panjang dan menyakitkan namun hasil yang dicapai sangat indah. Seperti kata Dr. Larry Crabb pemulihan yang sejati membutuhkan proses dan biasanya memang lambat namun pasti.

Percayalah, tidak ada metoda instan seperti lewat penumpangan tangan dari hamba Tuhan yang diurapi untuk dapat mengalami pemulihan yang sejati. Saya banyak bertemu dengan anak Tuhan yang merasa sudah dipulihkan setelah mengikuti sebuah camp dimana dia merasa dilawat Tuhan sampai nangis bombay (nangis disertai ratapan) akibat kotbah yang sangat menyentuh. Setelah pulang mereka kesaksian sana-sini mengatakan mereka sudah dipulihkan tetapi beberapa bulan kemudian luka tersebut kambuh lagi sebab ternyata yang sembuh hanya bagian luar belum menyentuh akar persoalan. Saya tidak mau membatasi cara Tuhan bekerja namun pengalaman saya pribadi (juga banyak yang lain) mengajarkan Tuhan biasanya/umumnya tidak bekerja lewat cara instan seperti itu. Tidak ada pertumbuhan tanpa krisis dan tidak ada kesembuhan tanpa rasa sakit itulah metoda Allah. Pemulihan sejati bukan saja membutuhkan dukungan doa melainkan juga perlu waktu dan ketekunan. Ketaatan, penyerahan dan komitmen total sangat diperlukan agar Roh Kudus dapat dengan leluasa bekerja untuk memulihkan hidup kita sampai tuntas ke akar-akarnya.


Sunanto


NB: Tulisan ini bersambung
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Herdy Hutabarat  - Pemulihan gambar diri   |118.97.80.xxx |14-01-2012 15:03:06
Terima kasih artikelnya sangat bagus. Memang tanpa pemulihan gambar diri
seseorang tidak akan dapat bertumbuh mencapai potensi maksimumnya didalam
Tuhan...Semoga tulisan bapak dibaca banyak orang dan menjadi berkat ... Herdy
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
acheter cialis viagra http://depts.washington.edu/icutalk/?ind... levitra generico acquista italia
  • http://pav.univ-tours.fr/?industry=24776... windows 7 price oem price of adobe photoshop