• PDF

Hidupku yang Sengsara

Penilaian Pengunjung: / 1
TerjelekTerbaik 
  • Senin, 01 Juni 2009 17:11
  • Ditulis oleh Tema Adiputra
  • Sudah dibaca: 2246 kali
Wah…betapa melankolik judul tulisan ini. Mungkin Anda jadi malas untuk membaca terus. Koq, ya…meratapi hidup terus, sih? Apa tidak ada lagi aspek kebahagiaan dan sukacita dalam hidup ini? Bukankah ada pernyataan bahwa kesusahan hidup sehari cukuplah hari ini saja. Besok punya kesusahannya sendiri? Nah, jangan salah terka. Judul tulisan ini adalah cuplikan dari syair sebuah lagu pop Indonesia yang sangat terkenal di era-1970-an. Dinyanyikan oleh Eddy Silitonga dan grupnya. Saya waktu itu masih kecil, namun sudah menyukai lagu itu…yah…lagu itu acapkali terdengar di acara-acara radio. Juga di TVRI. Jadi memang popularlah lagu itu. Ini cuplikan tambahannya, siapa tahu Anda akan lebih ingat:

….hidupku yang sengsara, penuh dengan penderitaan, oh Tuhan tolong tunjukkan, jalan kehidupan, jauhkan cobaan...uuuuhhh..uuuuu...uuuuhhh…aaaaaaaahhhh…aaaahhh, dst.

Ya! Coba renungkan, sebenarnya di dalam syair lagu pop Indonesia itu ada juga “permintaan tolong ke Tuhan”, ya? Dan tentu saja itu diaplikasikan dengan doa. Nah, saya tidak membawa Anda larut dalam syair lagu itu. Tapi di bawah ini, ada yang hendak saya ungkapkan lebih jauh lagi.

Baru beberapa bulan lalu saya berkunjung ke sebuah ibukota Kabupaten di propinsi Sumatera Utara. Biasalah, mengunjungi seorang sahabat yang menjadi pimpinan sebuah stasion radio (stara) di sana. Mumpung saya ada urusan keluarga besar, maka saya sempatkan untuk menemuinya di “markas”-nya. Wah…betapa senangnya bapak itu. Pertemuan pertama dengannya terjadi di pulau Jawa, dua tahun silam. Waktu itu saya berkata, bila Tuhan izinkan, dan bila ada dana tentu, maka saya akan berkunjung ke staranya. Hm…hm…dengan semangat dia mengharapkan kedatangan saya sesegera mungkin. Dan terwujudlah cita-cita itu. Saya tiba malam hari di kotanya. Langsung didrop taxi ke hotel yang telah disediakannya. Dan setelah “melapor” via telepon ke padanya, maka saya nikmati malam itu di hotel dengan mendengarkan siaran acara rohani dari staranya. Wah…ada keanekaragaman setiap stara yang saya kunjungi di daerah-daerah. Paling tidak warna khas budaya setempat terkadang membuat saya tersenyum. Maklumlah…terbiasa gaya Jakarta, maka ketika mendengar gaya daerah, saya berusaha beradaptasi dan di sinilah saya suka tersenyum sendiri. Tidak salah memang semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu!

Saya menikmati siaran itu dengan rileks saja. Si penyiar pria yang masih muda, suaranya lumayan mantap, dan berat. Namun sayang, terkadang hilang-muncul, keras-pelan suaranya. Saya menduga si penyiar itu tidak stabil napas dan intonasinya atau mungkin kepalanya tidak statis menghadap mikrofon. Bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Yah…apa boleh buatlah, toh besok akan saya lihat sendiri keberadaan stara itu, situasi dan kondisinya. Ya! Saya terus menikmati sapaan dari si penyiar. Dan tentu juga lagu-lagu rohani yang diputarkannya. Sampai tiba-tiba……saya terkejut sekali, hampir tak percaya perihal apa yang saya dengarkan. Begini, setelah si penyiar menyampaikan sebuah renungan singkat dalam sapaannya…maka dia pun menyebutkan judul sebuah lagu rohani, demikian katanya, maka apakah yang terdengar? Ternyata “lagu rohani” yang diperdengarkannya dalam siaran usai renungan singkat itu adalah lagu pop Indonesia yang saya ceritakan di atas itu! Aduuuuuuuhhhhhhhhhhhhh…!! Saya terbengang-bengong di dalam kamar hotel itu. Dan sangat sedih serta prihatin mengapa sampai terjadi hal seperti ini. Tapi…tapi…mungkin juga ini rencana Tuhan untuk saya ketahui masalah tersebut, sehingga besok dalam rapat penyiar saya sebagai narasumber dapat membahas peristiwa salah lagu itu. Hm…hm…tidak ada yang kebetulan di dunia ini!

Dan memang benarlah. Di dalam rapat dan sharing itu terungkaplah bahwa lagu pop yang terputar tadi malam sebagai “lagu rohani” memang ada dalam album kaset yang dikategorikan lagu rohani oleh produser rekaman itu. Dan ketika saya melihat album kaset itu, wahhh….ada beberapa lagu pop Indonesia yang semasa saya kecil begitu akrab di telinga saya---ternyata juga masuk dalam kategori “lagu rohani” hanya karena saya tahu persis syair lagu tersebut ada menyebut-nyebut nama Tuhan. Wah…berani sekali tindakan pengklasifikasian lagu tersebut! Oleh sebab itu di dalam pertemuan dengan Crew stara itu, saya dengan terus terang menegaskan agar jangan memasukkan lagu seperti itu ke dalam kelas lagu rohani. Periksa dulu sejarah sebuah lagu ! Itulah sebabnya modal seorang penyiar maupun redaktur musik sangatlah mutlak untuk rajin membaca dan mencari informasi dari berbagai sumber!

Teringat seorang sobat saya, owner sebuah stara yang dominan acara rohaninya, pada suatu siang didatangi oleh manajer program, meminta pendapatnya untuk sebuah album lagu rohani (benar-benar lagu rohani isinya) apakah layak diputar di stara tersebut. Kami bersama mendengarkan beberapa lagu rohani dari album itu. Saya perhatikan sang owner tersebut beberapa kali menggelengkan kepalanya, namun untuk sebuah lagu dia menganggukkan kepalanya. Itu pertanda bahwa lagu-lagu yang terkena “gelengan kepalanya” tidak layak masuk dalam koleksi lagu rohani stara itu. Dan lagu-lagu yang terkena “anggukan kepalanya” layak diputar di stara itu. Nah…karena relasi saya dekat dengan beliau maka saya tanyakan padanya tentang kriteria yang dipakai. Sang owner mengatakan bahwa yang menggeleng dan mengangguk itu adalah “hatinya” yang telah dia asah untuk peka dan sensitif terhadap sebuah lagu rohani yang dapat memuliakan Tuhan dan memberi berkat pada hati pendengar! Luar biasa! Terlepas dari “cara” yang dipakai sobat saya ini (yang sekarang telah jadi pendeta, padahal sebelumnya dia adalah pengusaha sekuler sukses), catatan khusus di sini adalah, bahwa untuk lagu rohani saja pun masih diperlukan penyeleksian yang ketat untuk dapat diudarakan di sebuah stara!

Kita adalah pewarta Kabar Baik. Dan kita (diri kita, hidup kita) adalah juga bagian dari Kabar Baik itu sendiri. Oleh sebab itu kita perlu memberikan ke pada orang lain yang benar-benar baik dan benar. Maka dari itu manakala kita telah terpanggil menjadi penyiar radio (rohani maupun sekuler) maka adalah kewajiban mutlak untuk mengudarakan yang baik dan benar. Kalau untuk sebuah lagu saja kita telah salah dalam memilih dan memilahnya, sehingga akhirnya diudarakan…dan dengan penuh percaya diri kita katakan ini adalah “lagu rohani”, maka istilah apa yang paling tepat untuk kondisi ini? Saya menjawabnya dengan terus terang: kita telah mengudarakan sebuah ke-sesat-an ! Dan itu bukan Kabar Baik !

Ya! Judul tulisan ini adalah Hidupku Yang Sengsara, apakah kita akan pula menambah kesengsaraan orang lain dengan kesengajaan dan ketidaksengajaan kita menyampaikan sesuatu yang tidak benar dan tidak baik? Hm…hm…hm…adalah bijak dan berhikmat bila kita hendak mewartakan sesuatu dan mengudarakan sesuatu, kita ingat Firman Tuhan berikut ini (Matius 12 : 36-37)…. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Jakarta, 21 September 2004

Tema Adiputra
Komentar-komentar
Tambah Baru Cari
Tulis komentar
Nama:
Email:
 
Website:
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Masukkan kode anti-spam yang terbaca pada gambar di atas!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
where to buy finasteride clomid steroids http://recit.csdps.qc.ca/spips/champagne...