![]() |
|
|
|
|
|
KESAKSIAN Aku baru menikah pada awal tahun 2007. Hal ini merupakan salah satu berkat terbesar dari Tuhan untukku. Aku sangat bersyukur Tuhan telah memberikan suami yang baik kepadaku. Semakin hari aku semakin mengenal suamiku, dan semakin aku tahu banyak hal yang masih belum kuketahui. Ada banyak kebaikan dalam dirinya yang membuat aku semakin mengagumi dan menyayanginya. Aku menjalani hari-hari awal hidup baruku dengan penuh kebahagiaan sekaligus kekhawatiran. Aku merasa sebagai anak kecil yang baru memasuki kehidupan dunia luar yang belum kukenal sama sekali. Kejadian demi kejadian kulalui dengan hati yang khawatir. Banyak hal yang harus kupikirkan dan kulakukan mulai dari mengurus suami dan mengurus berbagai keperluan rumah. Ada beberapa kejadian yang tidak menyenangkan terjadi, terutama yang menyangkut masalah pembantu. Karena aku hanya tinggal sendirian maka aku memerlukan bantuan pembantu untuk membersihkan dan mengurus hal-hal lain yang berhubungan dengan rumah agar rumahku nyaman untuk ditinggali. Pembantu pertama yang kudapat sekilas baik, tapi ternyata tidak bertahan lama. Kemudian dengan pembantu kedua juga tidak bertahan lama dengan alasan yang tidak masuk akal. Seterusnya sampai dengan pembantu ketiga, terjadi hal yang tidak diinginkan. Pembantu tersebut membawa seorang anak kecil. Dia harus bekerja karena suaminya di desa tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Kami mau menampungnya karena kami
merasa kasihan. Semua berjalan dengan baik pada awal kedatangannya. Tetapi pada suatu hari terjadi hal yang membuat saya shock. Ketika dia mencuci baju, tanpa dia sadari anaknya terbangun dari tidurnya dan terjatuh di kolam ikan di belakang rumahku. Aku begitu terkejut ketika ditelepon oleh suamiku mengenai kejadian tersebut. Badanku terasa bergetar hebat bagaikan disambar petir di siang hari. Aku langsung berdoa dalam hati kepada Tuhan, tolong ibu dan anak itu agar semuanya baik-baik saja. Ketakutanku yang terburuk terjadi, anak itu tidak tertolong dan meninggal di rumah sakit. Aku begitu sedih dan ikut merasakan kesedihan ibunya yang terus menangis tiada henti-hentinya. Terima kasih Tuhan, tidak lama kemudian, kami mendapatkan pembantu yang baru. Aku serahkan pembantu-pembantu baru itu ke dalam tangan Tuhan agar Tuhan yang atur mereka dan aku tidak berharap terlalu banyak lagi dari mereka. Aku percaya Tuhan akan tuntun langkahku dalam menghadapi kehidupanku selanjutnya. Aku serahkan hidupku hanya kepada-Nya sehingga aku dapat merasakan ketenangan dalam hatiku. Terima kasih Tuhan.
|