|
Pelayanan
Oleh: Johannes Judas
Syalom.
Menjadi seorang pelayan Tuhan memang bukanlah
sesuatu yang mudah untuk dijalani. Hal ini membutuhkan pergumulan,
komitmen, pikiran, tenaga, ketulusan, pengorbanan, dan masih banyak
hal lainnya. Sama sekali bukan hal yang sederhana dan bisa
diremehkan.
Banyak sekali contoh, sebuah teladan bagi kita
mengenai pergerakan pelayan Tuhan dalam melayani dan memberitakan
injil sehingga kita mengerti kebenaran dari sebuah pelayanan.
Kebenaran itu tentang bagaimana kita menyikapi tanggungjawab yang
diberikan kepada kita dalam sebuah misi pelayanan, tentang bagaimana
kita harus bersikap saat masa-masa yang sulit, maupun tentang
bagaimana kita harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan
sehingga apapun yang terjadi kita dapat terus melayani tanpa
terhenti.
Namun kita sebagai anak muda sering melupakan
cerita-cerita tentang para pelayan Tuhan, bahkan di saat kita sedang
dibebani tanggungjawab untuk melayani. Kita sering menganggap wacana
yang diberikan kepada kita mengenai hal-hal tersebut adalah sesuatu
yang biasa, tidak menggambarkan realita yang sedang terjadi
“sekarang” dalam dunia pelayanan, dan yang lebih parah kita
bosan dengan hal itu.
Kita menganggap bahwa wacana-wacana konvensional
yang biasanya berkaitan dengan sebuah aspek historis adalah wacana
yang “ketinggalan jaman”.
Kita lupa bahwa semuanya telah terjadi, dengan
kata lain tidak ada masalah atau dosa yang benar-benar baru
ditemukan di era millenium ini. Semua masalah sudah pernah terjadi
dan sebagian besar sudah dituliskan atau diceritakan berikut cara
pemecahannya agar dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita.
Jaman memang telah berubah, namun sebenarnya
perubahan tersebut hanya bersifat teknis dan bukan berubah secara
konseptual. Misalnya ada yang mengatakan anak muda sekarang suka
“clubing” dan pornografi, masalah itu sudah ditemukan
berabad-abad yang lalu. Hanya saja caranya atau metodenya yang
berbeda.
Inti dari “clubing” dan pornografi itu
tetaplah sama, yaitu mencari kesenangan, kepuasan, dan lain
sebagainya. Kita hanya perlu mempelajari bagaimana metode dosa dalam
menjerat manusia, yang selalu berubah setiap waktu.
Kita hendaknya lebih dahulu mengerti bagaimana
cara menyikapi suatu masalah sebelum mulai mencari jalan keluarnya.
Kesulitan lain yang timbul saat kita kaum muda
masuk ke dalam dunia pelayanan adalah bagaimana kita masih
menerapkan berbagai cara yang bersifat sekuler dalam melayani.
Kita tahu bahwa ketika Petrus berhasil berkotbah
pada saat peristiwa “Pentakosta”, ia tidak minum-minum untuk
merayakan keberhasilannya. Atau ketika murid-murid Yesus tertidur
saat berdoa di taman Getsemani dan melakukan kesalahan lainnya,
Yesus tidak langsung marah dan “sediem-dieman” ama muridnya
melainkan memberi mereka nasehat.
Hal-hal diatas hanyalah sebagian contoh yang
sifatnya menyindir dari segala perbuatan kita yang sebenarnya tidak
cocok untuk diterapkan dalam dunia pelayanan.
Mari kita melihat lagi, sebagian realita yang
umumnya terjadi dalam organisasi pelayanan Kristen yang sebagian
besar anggotanya adalah kaum muda seperti PMK.
Pada umumnya, pelayan-pelayan Tuhan bukanlah
memang malaikat yang sepenuhnya dapat lepas dari kesalahan. Mereka
juga punya kelemahan dan terkadang jatuh. Akan tetapi alangkah
baiknya jika kita yang bekerja bersama dapat saling menguatkan dan
menjaga satu sama lain, bukannya malah saling menjatuhkan dan
menutup telinga.
Pada kasus yang lain, komitmen seseorang dalam
sebuah pelayanan sangatlah berpengaruh terhadap yang lain, rendahnya
komitmen seseorang dalam sebuah pelayanan dapat menjadi beban yang
amat berat bagi yang lainnya. Hal-hal tersebut belum lagi ditambah
dengan perbedaan karakter, pola pikir, dan masih banyak lagi. Pada
suatu titik, terkadang kita dapat tidak percaya bahwa kita sedang
berada di tengah-tengah sebuah organisasi pelayanan melihat segala
kekacauan yang terjadi di dalamnya.
Namun, bukankah segalanya harus berawal dari
kita?
Ada sebuah contoh yang amat menarik untuk
diperhatikan, sebuah teladan dalam dunia pelayanan Kristen, cerita
mengenai salah seorang pahlawan dalam dunia pelayanan bernama David
Livingstone.
David Livingstone berasal dari desa Blantyre,
Skotlandia. Sejak masih muda ia sudah memiliki ketertarikan terhadap
Alkitab dan terus berusaha untuk mencari kebenaran dari kehendak
Tuhan, sebelum akhirnya ia dipilih oleh Tuhan untuk memberitakan
Injil ke benua Afrika.
Kegigihan dalam bekerja dan ketekunan dalam
mewujudkan ambisi telah nampak dalam dirinya sejak ia masih muda.
Pada saat ia berminat untuk belajar ilmu kedokteran sementara
keluarganya tidak sanggup untuk membiayai, ia tidak putus asa begitu
saja. Dengan giat ia bekerja di sebuah pabrik pemintalan dengan gaji
hanya 5 shilling per minggu, padahal biaya untuk sekolah kedokteran
waktu itu mencapai 12 pounds per sesi (1 pounds = 20 shilling).
Namun berkat kerja keras dan ketekunannya ia akhirnya dapat belajar
ilmu kedokteran di Anderson College pada tahun i836.
Pada musim gugur 1838, David telah diterima oleh
Perhimpunan Perkabaran Injil London (London Missionary Society).
Awalnya David ingin pergi ke Cina, tetapi akhirnya ia memilih
diberangkatkan ke Afrika karena pihak perhimpunan menutup
kemungkinan untuk Cina menyusul situasi negara yang sedang kacau.
Di Afrika inilah sebuah perjalanan dan pelajaran
berat telah menanti seorang David Livingstone yang memiliki misi
untuk memberitakan injil.
Tantangan pertama David mungkin hanya sebatas
medan yang berat di Afrika, namun setelah itu hambatan mulai datang
bahkan dari perhimpunan yang dipercayainya.
Di awal David menjelajahi benua Afrika, ia
terkena berbagai macam penyakit seperti demam sungai dan sebagainya,
belum lagi medan di Afrika yang sangat berat membuat David amat
kelelahan secara jasmani. Namun berbekal semangat untuk
menyelamatkan bangsa Afrika dari kegelapan, David memperoleh
kekuatan yang membuatnya dapat terus bertahan.
David melihat bahwa salah satu cara memasukkan
injil ke dunia Afrika adalah dengan membuka benua Afrika kepada
dunia luar. Afrika begitu tertutup terhadap dunia luar sehingga
kebudayaan yang berkembang di dalamnya masih sangat primitif dan
sarat kegelapan. Praktek kanibalisme dan ilmu hitam yang masih
sangat kental di Afrika serta teknologi
modern yang juga belum dapat masuk membuat banyak rakyat Afrika
menderita. Melihat kenyataan inilah David merasa terbebani untuk
mengenalkan injil kepada Afrika agar benua tersebut dapat
diselamatkan.
Saat David bersemangat untuk memberitakan Injil,
cobaan demi cobaan terus datang melanda David.
Perhimpunan mulai mempertanyakan keberhasilan
misi David untuk Afrika berkaitan dengan dana yang dikeluarkan untuk
misi tersebut. Keterbebanan David terhadap Afrika, pihak perhimpunan
yang tidak bersahabat, dan keterbebanan David akan keluarganya serta
keletihan secara jasmani bercampur menjadi satu di Afrika. Namun
seorang David Livingstone tidak akan menyerah begitu saja, ia tetap
berusaha untuk menjelajahi Afrika sambil terus menguatkan diri untuk
mencari jalan keluar dari permasalahan dan kesedihannya.
Pada bulan Desember 1856, setelah 16 tahun
menjelajahi Afrika David kembali ke Inggris, dan ia menjadi sangat
terkejut. Banyak sekali pujian yang ia terima dari berbagai pihak
termasuk dari pihak kerajaan Inggris bahkan perhimpunan. David tentu
sangat marah terhadap pihak perhimpunan yang terlihat menjilat.
Tetapi saat mendengar pujian dari Ahli Astronomi Kerajaan dari Cape
Town, Maclear, David merasa bangga:
Apa yang dilakukan oleh orang ini belum pernah
terjadi sebelumnya. Anda dapat pergi ke segala penjuru daerah,
sepanjang jalur Livingstone, dan merasa pasti akan posisi Anda.
Ia kemudian diundang untuk berbicara di
Universitas Glasgow, di negerinya sendiri Skotlandia.
Sekarang mari kita melihat kisah yang ditulis
mengenai saat itu:
Kebiasaan para mahasiswa calon sarjana di jaman
itu ialah menyela dan mengganggu pembicara tamu dengan segala macam
pertanyaan. Jadi mereka siap menghadapi pengkhotbah ini dengan
terompet mainan, suitan, alat pengertak, dan segala macam alat
pembuat gaduh. Mereka bahkan menyediakan senapan angin.
Livingstone menaiki panggung dengan langkah
gontai seorang yang sudah berjalan sebelas ribu mil. Lengan kirinya
menggantung hampir tak berguna di sisinya, karena bahunya pernah
diremukkan singa besar. Tubuhnya kurus kering, kulitnya coklat tua
dibakar mentari Afrika selama enambelas tahun lamanya. Wajahnya
mengandung tak terhitung banyaknya kerut merut akibat didera
berbagai demam Afrika yang menyerang tubuhnya. Ia setengah tuli
karena demam rematik, dan setengah buta gara-gara ranting pohon
menghantam matanya. Ia menggambarkan dirinya sebagai “sekantong
tulang belulang.”
Para mahasiswa terlongong-longong menatapnya,
mereka tidak bisa percaya apa yang mereka lihat. Alat-alat pembuat
gaduh mereka tidak mengeluarkan suara sementara keheningan yang
khusyuk menjalar ke seluruh pengunjung. Mereka tahu bahwa ada satu
kehidupan yang sudah dikorbankan untuk Allah dan sesama manusia.
Mereka mendengarkan sementara Livingstone menceritakan kepada mereka
petualangannya yang luar biasa, ia memberitahu mereka kebutuhan
sangat besar dari para penduduk asli Afrika.
Ia berkata kepada mereka, “Saya akan
memberitahu kalian apa yang menopang saya di tengah semua kerja
keras dan penderitaan dan kesepian yang tak dapat saya gambarkan
beratnya. Yang menopang saya adalah sebuah janji, janji seorang
beradab yang paling terpuji dan sakral, ialah janji, “Ketahuilah,
Aku akan menyertaimu senantiasa, sampai kepada akhir zaman.”
(Matius 28:20)
David Livingstone menghabiskan sisa hidupnya di
Afrika sambil terus memberitakan Injil. Ia merasakan kehilangan dari
tiga orang yang sangat dikasihinya secara bergantian, ayahnya,
anaknya, dan terakhir istrinya. Namun komitmen yang sepenuhnya
terhadap Kristus nampak nyata sekali terlihat dalam catatan buku
hariannya:
“Aku tidak menilai apapun yang aku miliki atau
mungkin punyai sebagai berharga, kecuali yang berhubungan dengan
kerajaan Kristus. Jika ada sesuatu yang dapat memajukan kepentingan
kerajaan-Nya, maka hal itu harus diberikan kepada orang lain atau
disimpan, hanya jika melalui memberi atau menyimpan itu aku dapat
membesarkan kemuliaan-Nya, karena dari-Nya aku mendapat
pengharapanku pada waktu nanti dan di dalam kekekalan.”
Susi dan Chuma (para pembantu David di Afrika)
mengubur jantung dan organ-organ tubuh bagian dalam David di bawah
sebuah pohon mvula. Mereka mengawetkan jasadnya dengan garam dan
mengeringkannya di bawah sinar matahari selama dua minggu. Mereka
membungkusnya di dalam kain belacu, kemudian pohon bark, dan
terakhir dengan kain kapal. Mereka mengikatkan bundelan tersebut ke
sebuah batang kayu dan membuatnya. Mereka dan penduduk asli lainnya
membawa bundelan tersebut selama delapan bulan menuju Zanzibar (1000
mil lebih).
Di dalam perjalanan , seorang asing menyarankan
mereka untuk membuang bundelan tersebut. Chuma menjelaskan,
“Tidak. Ini adalah orang besar, sangat, sangat besar…..!!”
Pada tanggal 18 April 1874, Livingstone
dimakamkan di Westminster Abbey.
Setelah membaca cerita tentang perjalanan David
Livingstone tentunya kita akan memahami, bahwa hal yang diperlukan
untuk menjadi pelayan Tuhan adalah penyerahan diri terhadap
kehendak-Nya.
Pelayanan tidak membutuhkan jumlah orang yang
banyak, uang yang berlimpah, atau orang-orang yang hebat. Pelayanan
membutuhkan orang yang berkomitmen penuh, dan mengikuti kehendak
Allah.
Lebih baik lemah tetapi berkomitmen dan sedikit
tetapi percaya daripada sebaliknya, karena sebuah komitmen dan
kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah diberikan atau
diajarkan.
Jadi, hendaknya kita semua tetap mencari
kebenaran dan jangan merasa puas dengan pengetahuan yang sekarang.
Segalanya memang berawal dari diri kita, namun sebuah organisasi
pelayanan adalah tempat untuk belajar bersama, berproses bersama
untuk mencapai sebuah kebenaran. Pandanglah segala yang terjadi
sebagai sebuah proses pembelajaran. Pertengkaran, perbedaan
pendapat, perdebatan, kesenangan, semuanya.
Bagaimanapun
hebatnya perbedaan dan kekacauan yang terdapat di dalam sekelompok
orang Kristen yang sedang bekerjasama untuk melayani Tuhan, jikalau
mereka memiliki komitmen dan kemauan untuk belajar, maka pada
akhirnya semua itu akan memperlihatkan hasil yang baik.
|