Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm@glorianet.org  dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Pelayanan
Oleh: Johannes Judas


Syalom.

Menjadi seorang pelayan Tuhan memang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. Hal ini membutuhkan pergumulan, komitmen, pikiran, tenaga, ketulusan, pengorbanan, dan masih banyak hal lainnya. Sama sekali bukan hal yang sederhana dan bisa diremehkan.

Banyak sekali contoh, sebuah teladan bagi kita mengenai pergerakan pelayan Tuhan dalam melayani dan memberitakan injil sehingga kita mengerti kebenaran dari sebuah pelayanan. Kebenaran itu tentang bagaimana kita menyikapi tanggungjawab yang diberikan kepada kita dalam sebuah misi pelayanan, tentang bagaimana kita harus bersikap saat masa-masa yang sulit, maupun tentang bagaimana kita harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sehingga apapun yang terjadi kita dapat terus melayani tanpa terhenti.

Namun kita sebagai anak muda sering melupakan cerita-cerita tentang para pelayan Tuhan, bahkan di saat kita sedang dibebani tanggungjawab untuk melayani. Kita sering menganggap wacana yang diberikan kepada kita mengenai hal-hal tersebut adalah sesuatu yang biasa, tidak menggambarkan realita yang sedang terjadi “sekarang” dalam dunia pelayanan, dan yang lebih parah kita bosan dengan hal itu.

Kita menganggap bahwa wacana-wacana konvensional yang biasanya berkaitan dengan sebuah aspek historis adalah wacana yang “ketinggalan jaman”.

Kita lupa bahwa semuanya telah terjadi, dengan kata lain tidak ada masalah atau dosa yang benar-benar baru ditemukan di era millenium ini. Semua masalah sudah pernah terjadi dan sebagian besar sudah dituliskan atau diceritakan berikut cara pemecahannya agar dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita.

Jaman memang telah berubah, namun sebenarnya perubahan tersebut hanya bersifat teknis dan bukan berubah secara konseptual. Misalnya ada yang mengatakan anak muda sekarang suka “clubing” dan pornografi, masalah itu sudah ditemukan berabad-abad yang lalu. Hanya saja caranya atau metodenya yang berbeda.

Inti dari “clubing” dan pornografi itu tetaplah sama, yaitu mencari kesenangan, kepuasan, dan lain sebagainya. Kita hanya perlu mempelajari bagaimana metode dosa dalam menjerat manusia, yang selalu berubah setiap waktu.

Kita hendaknya lebih dahulu mengerti bagaimana cara menyikapi suatu masalah sebelum mulai mencari jalan keluarnya.

Kesulitan lain yang timbul saat kita kaum muda masuk ke dalam dunia pelayanan adalah bagaimana kita masih menerapkan berbagai cara yang bersifat sekuler dalam melayani.

Kita tahu bahwa ketika Petrus berhasil berkotbah pada saat peristiwa “Pentakosta”, ia tidak minum-minum untuk merayakan keberhasilannya. Atau ketika murid-murid Yesus tertidur saat berdoa di taman Getsemani dan melakukan kesalahan lainnya, Yesus tidak langsung marah dan “sediem-dieman” ama muridnya melainkan memberi mereka nasehat.      

Hal-hal diatas hanyalah sebagian contoh yang sifatnya menyindir dari segala perbuatan kita yang sebenarnya tidak cocok untuk diterapkan dalam dunia pelayanan.

Mari kita melihat lagi, sebagian realita yang umumnya terjadi dalam organisasi pelayanan Kristen yang sebagian besar anggotanya adalah kaum muda seperti PMK.

Pada umumnya, pelayan-pelayan Tuhan bukanlah memang malaikat yang sepenuhnya dapat lepas dari kesalahan. Mereka juga punya kelemahan dan terkadang jatuh. Akan tetapi alangkah baiknya jika kita yang bekerja bersama dapat saling menguatkan dan menjaga satu sama lain, bukannya malah saling menjatuhkan dan menutup telinga.

Pada kasus yang lain, komitmen seseorang dalam sebuah pelayanan sangatlah berpengaruh terhadap yang lain, rendahnya komitmen seseorang dalam sebuah pelayanan dapat menjadi beban yang amat berat bagi yang lainnya. Hal-hal tersebut belum lagi ditambah dengan perbedaan karakter, pola pikir, dan masih banyak lagi. Pada suatu titik, terkadang kita dapat tidak percaya bahwa kita sedang berada di tengah-tengah sebuah organisasi pelayanan melihat segala kekacauan yang terjadi di dalamnya.

Namun, bukankah segalanya harus berawal dari kita?

Ada sebuah contoh yang amat menarik untuk diperhatikan, sebuah teladan dalam dunia pelayanan Kristen, cerita mengenai salah seorang pahlawan dalam dunia pelayanan bernama David Livingstone.

David Livingstone berasal dari desa Blantyre, Skotlandia. Sejak masih muda ia sudah memiliki ketertarikan terhadap Alkitab dan terus berusaha untuk mencari kebenaran dari kehendak Tuhan, sebelum akhirnya ia dipilih oleh Tuhan untuk memberitakan Injil ke benua Afrika.

Kegigihan dalam bekerja dan ketekunan dalam mewujudkan ambisi telah nampak dalam dirinya sejak ia masih muda. Pada saat ia berminat untuk belajar ilmu kedokteran sementara keluarganya tidak sanggup untuk membiayai, ia tidak putus asa begitu saja. Dengan giat ia bekerja di sebuah pabrik pemintalan dengan gaji hanya 5 shilling per minggu, padahal biaya untuk sekolah kedokteran waktu itu mencapai 12 pounds per sesi (1 pounds = 20 shilling). Namun berkat kerja keras dan ketekunannya ia akhirnya dapat belajar ilmu kedokteran di Anderson College pada tahun i836.

Pada musim gugur 1838, David telah diterima oleh Perhimpunan Perkabaran Injil London (London Missionary Society). Awalnya David ingin pergi ke Cina, tetapi akhirnya ia memilih diberangkatkan ke Afrika karena pihak perhimpunan menutup kemungkinan untuk Cina menyusul situasi negara yang sedang kacau.

Di Afrika inilah sebuah perjalanan dan pelajaran berat telah menanti seorang David Livingstone yang memiliki misi untuk memberitakan injil.

Tantangan pertama David mungkin hanya sebatas medan yang berat di Afrika, namun setelah itu hambatan mulai datang bahkan dari perhimpunan yang dipercayainya.

Di awal David menjelajahi benua Afrika, ia terkena berbagai macam penyakit seperti demam sungai dan sebagainya, belum lagi medan di Afrika yang sangat berat membuat David amat kelelahan secara jasmani. Namun berbekal semangat untuk menyelamatkan bangsa Afrika dari kegelapan, David memperoleh kekuatan yang membuatnya dapat terus bertahan.

David melihat bahwa salah satu cara memasukkan injil ke dunia Afrika adalah dengan membuka benua Afrika kepada dunia luar. Afrika begitu tertutup terhadap dunia luar sehingga kebudayaan yang berkembang di dalamnya masih sangat primitif dan sarat kegelapan. Praktek kanibalisme dan ilmu hitam yang masih sangat kental di Afrika serta  teknologi modern yang juga belum dapat masuk membuat banyak rakyat Afrika menderita. Melihat kenyataan inilah David merasa terbebani untuk mengenalkan injil kepada Afrika agar benua tersebut dapat diselamatkan.

Saat David bersemangat untuk memberitakan Injil, cobaan demi cobaan terus datang melanda David.

Perhimpunan mulai mempertanyakan keberhasilan misi David untuk Afrika berkaitan dengan dana yang dikeluarkan untuk misi tersebut. Keterbebanan David terhadap Afrika, pihak perhimpunan yang tidak bersahabat, dan keterbebanan David akan keluarganya serta keletihan secara jasmani bercampur menjadi satu di Afrika. Namun seorang David Livingstone tidak akan menyerah begitu saja, ia tetap berusaha untuk menjelajahi Afrika sambil terus menguatkan diri untuk mencari jalan keluar dari permasalahan dan kesedihannya.

Pada bulan Desember 1856, setelah 16 tahun menjelajahi Afrika David kembali ke Inggris, dan ia menjadi sangat terkejut. Banyak sekali pujian yang ia terima dari berbagai pihak termasuk dari pihak kerajaan Inggris bahkan perhimpunan. David tentu sangat marah terhadap pihak perhimpunan yang terlihat menjilat. Tetapi saat mendengar pujian dari Ahli Astronomi Kerajaan dari Cape Town, Maclear, David merasa bangga:

Apa yang dilakukan oleh orang ini belum pernah terjadi sebelumnya. Anda dapat pergi ke segala penjuru daerah, sepanjang jalur Livingstone, dan merasa pasti akan posisi Anda.

Ia kemudian diundang untuk berbicara di Universitas Glasgow, di negerinya sendiri Skotlandia.

Sekarang mari kita melihat kisah yang ditulis mengenai saat itu:

Kebiasaan para mahasiswa calon sarjana di jaman itu ialah menyela dan mengganggu pembicara tamu dengan segala macam pertanyaan. Jadi mereka siap menghadapi pengkhotbah ini dengan terompet mainan, suitan, alat pengertak, dan segala macam alat pembuat gaduh. Mereka bahkan menyediakan senapan angin.

Livingstone menaiki panggung dengan langkah gontai seorang yang sudah berjalan sebelas ribu mil. Lengan kirinya menggantung hampir tak berguna di sisinya, karena bahunya pernah diremukkan singa besar. Tubuhnya kurus kering, kulitnya coklat tua dibakar mentari Afrika selama enambelas tahun lamanya. Wajahnya mengandung tak terhitung banyaknya kerut merut akibat didera berbagai demam Afrika yang menyerang tubuhnya. Ia setengah tuli karena demam rematik, dan setengah buta gara-gara ranting pohon menghantam matanya. Ia menggambarkan dirinya sebagai “sekantong tulang belulang.”

Para mahasiswa terlongong-longong menatapnya, mereka tidak bisa percaya apa yang mereka lihat. Alat-alat pembuat gaduh mereka tidak mengeluarkan suara sementara keheningan yang khusyuk menjalar ke seluruh pengunjung. Mereka tahu bahwa ada satu kehidupan yang sudah dikorbankan untuk Allah dan sesama manusia. Mereka mendengarkan sementara Livingstone menceritakan kepada mereka petualangannya yang luar biasa, ia memberitahu mereka kebutuhan sangat besar dari para penduduk asli Afrika.

Ia berkata kepada mereka, “Saya akan memberitahu kalian apa yang menopang saya di tengah semua kerja keras dan penderitaan dan kesepian yang tak dapat saya gambarkan beratnya. Yang menopang saya adalah sebuah janji, janji seorang beradab yang paling terpuji dan sakral, ialah janji, “Ketahuilah, Aku akan menyertaimu senantiasa, sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20)

David Livingstone menghabiskan sisa hidupnya di Afrika sambil terus memberitakan Injil. Ia merasakan kehilangan dari tiga orang yang sangat dikasihinya secara bergantian, ayahnya, anaknya, dan terakhir istrinya. Namun komitmen yang sepenuhnya terhadap Kristus nampak nyata sekali terlihat dalam catatan buku hariannya:

“Aku tidak menilai apapun yang aku miliki atau mungkin punyai sebagai berharga, kecuali yang berhubungan dengan kerajaan Kristus. Jika ada sesuatu yang dapat memajukan kepentingan kerajaan-Nya, maka hal itu harus diberikan kepada orang lain atau disimpan, hanya jika melalui memberi atau menyimpan itu aku dapat membesarkan kemuliaan-Nya, karena dari-Nya aku mendapat pengharapanku pada waktu nanti dan di dalam kekekalan.”   

Susi dan Chuma (para pembantu David di Afrika) mengubur jantung dan organ-organ tubuh bagian dalam David di bawah sebuah pohon mvula. Mereka mengawetkan jasadnya dengan garam dan mengeringkannya di bawah sinar matahari selama dua minggu. Mereka membungkusnya di dalam kain belacu, kemudian pohon bark, dan terakhir dengan kain kapal. Mereka mengikatkan bundelan tersebut ke sebuah batang kayu dan membuatnya. Mereka dan penduduk asli lainnya membawa bundelan tersebut selama delapan bulan menuju Zanzibar (1000 mil lebih).

Di dalam perjalanan , seorang asing menyarankan mereka untuk membuang bundelan tersebut. Chuma menjelaskan, “Tidak. Ini adalah orang besar, sangat, sangat besar…..!!”

Pada tanggal 18 April 1874, Livingstone dimakamkan di Westminster Abbey.

Setelah membaca cerita tentang perjalanan David Livingstone tentunya kita akan memahami, bahwa hal yang diperlukan untuk menjadi pelayan Tuhan adalah penyerahan diri terhadap kehendak-Nya.

Pelayanan tidak membutuhkan jumlah orang yang banyak, uang yang berlimpah, atau orang-orang yang hebat. Pelayanan membutuhkan orang yang berkomitmen penuh, dan mengikuti kehendak Allah.

Lebih baik lemah tetapi berkomitmen dan sedikit tetapi percaya daripada sebaliknya, karena sebuah komitmen dan kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah diberikan atau diajarkan.

Jadi, hendaknya kita semua tetap mencari kebenaran dan jangan merasa puas dengan pengetahuan yang sekarang. Segalanya memang berawal dari diri kita, namun sebuah organisasi pelayanan adalah tempat untuk belajar bersama, berproses bersama untuk mencapai sebuah kebenaran. Pandanglah segala yang terjadi sebagai sebuah proses pembelajaran. Pertengkaran, perbedaan pendapat, perdebatan, kesenangan, semuanya.

Bagaimanapun hebatnya perbedaan dan kekacauan yang terdapat di dalam sekelompok orang Kristen yang sedang bekerjasama untuk melayani Tuhan, jikalau mereka memiliki komitmen dan kemauan untuk belajar, maka pada akhirnya semua itu akan memperlihatkan hasil yang baik.