Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm@glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Budi Pekerti
Oleh: Sunandar


Suatu saat saya mendengarkan siaran dialog interaktif di Radio Republik Indonesia (RRI). Dialog membahas persoalan seputar melunturnya semangat nasionalisme dan kepahlawanan generasi muda sekarang, khususnya ketika bangsa ini sedang bersiap menyambut peringatan Hari Pahlawan 10 November.

Disebutkan dalam dialog tersebut bahwa salah satu tolok ukur melunturnya sikap nasionalisme dan kepahlawanan adalah tidak ada lagi generasi muda yang menghargai jasa pahlawan pejuang kemerdekaan. Generasi muda menjadi generasi yang suka memberontak pada orang tua (dengan berbagai perwujudannya). Generasi muda kehilangan rasa hormat dan sopan santun pada orang tua.

Diskusi kemudian meluas kepada persoalan budi pekerti. Bagaimana tidak, seorang penelepon yang mencoba urun rembug kemudian menyinggung soal tidak adanya pelajaran budi pekerti di sekolah yang menjadi pemicu semua persoalan yang terjadi di antara generasi muda bangsa ini. Bahkan persoalan kritik-mengkritik seperti dalam sebuah acara humor televisi berjudul Republik BBM adalah contoh acara generasi muda yang tidak bermutu alias tidak bermoral. Sarkasme. Tidak etis. Dan lain-lain.

Saya mencoba mencerna. Dan sesaat berikutnya saya memahami bahwa apabila yang dimaksudkan dengan pelajaran budi pekerti oleh si penelepon adalah pelajaran yang turut dimasukkan dalam kurikulum, memang setahu saya saat ini tidak ada pelajaran budi pekerti diajarkan di sekolah. Minimal, saya dan generasi sebaya saya tidak memeroleh pelajaran ini.

Lalu saya menemui ibu saya dan bertanya, mencoba memastikan apakah pelajaran budi pekerti memang pernah diajarkan di sekolah waktu itu. Saya bertanya kepada ibu saya karena paling tidak beliau tidak akan bohong mengenai apa yang pernah beliau pelajari di sekolah. Dan jawaban ibu saya memang benar ada. Pelajaran budi pekerti memang diajarkan di sekolah, menjadi bagian dari kurikulum.

Saya saat ini menempatkan diri sebagai generasi muda. Semula saya setuju kalau generasi muda memang mengalami “degradasi” semangat nasionalisme dan kepahlawanan (ini pendapat pribadi). Mengheningkan cipta yang dilakukan pada setiap upacara bendera di sekolah maknanya telah luruh. Sekadar formalitas. Tetapi mungkin hal ini tidak berlaku bagi para putra-putri dan cucu pejuang.

Hati saya kemudian berontak ketika banyak penelepon siaran RRI ini yang berkomentar bahwa tidak adanya pelajaran budi pekerti menjadi alasan mutlak rontoknya moral generasi muda kini. Apakah pelajaran budi pekerti di sekolah pasti menjamin generasi muda menjadi berhati kudus? Apakah lantas di atas kepala generasi muda ada lingkaran putih layaknya malaikat? Apakah setiap generasi muda dengan serta merta menghormat grak ketika melintas bendera merah putih yang berkibar di tiang tinggi? Jawab saja di dalam hati.

Yang jelas, berbagai macam hal yang ada di sekitar kita akan terus berlomba berebut pengaruh. Mungkin bukan hanya berlomba, tetapi bertanding. Jalan masuk pengaruh tersebut juga berbagai cara. Kalau kemudian yang menjadi penyaring adalah “sekadar” pelajaran budi pekerti, alangkah lelahnya pelajaran budi pekerti menangkis semua pengaruh tersebut. Masih untung bisa dan mau menangkis. Jangan-jangan malah menghindar atau tunggang langgang.

Saya tidak menolak apabila pelajaran budi pekerti di masukkan ke dalam kurikulum. Toh tujuannya baik. Sangat baik. Tetapi semua harus dimulai dengan keteladanan. Keteladanan dari generasi terdahulu. Saya yakin, generasi muda punya rasa nasionalisme dan kepahlawannannya sendiri. Generasi muda pasti mau belajar dari pengalaman, hanya perlu ditekankan bahwa pengalaman yang direnungkan, itulah guru yang terbaik.

Pemazmur dalam pasal 127:4 mengatakan seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Ini personifikasi yang bagus. Bagaimanapun, pahlawan selalu mendapat tempat di hati generasi muda, dengan atau tanpa adanya pelajaran budi pekerti. Pahlawan membuat saya melesat seperti anak panah. Anda?