Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm@glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Simplicity
Oleh: Gito T. Wicaksono


Football is simple. But the hardest thing is to play football in a simple way.” (Johan Cruyff). Ketika diminta untuk menulis, tema ini sedang terjadi pesta sepak bola dunia 2006, lalu saya langsung teringat kata-kata tokoh sepak bola legendaris Belanda itu. Demikian pula Hristo Stoichkov, pesepakbola legendaris asal Rumania juga mengatakan, “Soccer is simple…you just need to have the right mentality, fighting in every game, in every practice and for every ball.” Mengapa saya mencantumkan kedua kalimat di atas, karena seperti halnya sepak bola, hidup ini ternyata juga simple banget. Nggak rumit dan nggak usah dibuat rumit. Manusialah yang membuatnya menjadi rumit.

Begitu pula iman kita. Kekristenan adalah iman yang simple. Misalnya, Tuhan Yesus datang dengan sangat sederhana; lahir di kandang domba, hidup sebagai tukang kayu. Dalam mengajar, Ia selalu menggunakan pengajaran yang simple; ia mengajar dengan perumpamaan, menggunakan ilustrasi yang tidak rumit dan dikenal oleh para pendengarnya seperti domba yang hilang, dirham yang hilang, anak yang hilang, mengenai pokok anggur, dsb. Ketika ada di dunia, Tuhan Yesus tidak membangun sesuatu yang rumit, Ia tidak membuat Jesus Orchestra, Jesus Economic System, Jesus Church, atau Jesus Theological Method, kitalah sebagai pengikutnya yang mengembangkan ajaran-Nya. Iman kita tidak rumit, nyaris tanpa ritual. Hanya perjamuan kudus dan baptisan yang perlu dijalankan. Selebihnya, cara beribadah, cara membaca Alkitab, dsb. Tidak terikat dengan ritual-ritual yang njelimet.

Pesan Rasul Paulus, adalah pesan yang simple. Ia cuma mengajarkan suatu landasan kepercayaan akan kematian dan kebangkitan Kristus, bahwa pengorbanan-Nya menyelamatkan kita, dan kita sebagai manusia perlu bekerja di dalam keselamatan itu. Simak saja pada surat 1 Korintus 1:18-2:16. Ajaran Paulus dianggap bodoh hanya karena ia memproklamasikan sesuatu yang dianggap menggelikan oleh dunia. Orang Yunani mengharapkan suatu ajaran yang rasional, memikat pemikiran, dan bersifat agung. Sedangkan orang Yahudi ingin yang spektakuler dan powerful. Itulah sebabnya ajaran mengenai salib ditolak mentah-mentah, karena bagi mereka tidaklah mungkin keagungan sebuah agama dilandasi oleh kematian yang terkutuk di kayu salib. Pada era awal Perjanjian Baru, berkembanglah suatu aliran yang dikenal sebagai ajaran Gnostik yang menganggap bahwa keselamatan tidak berdasarkan iman, tetapi berdasarkan suatu pengetahuan tertentu; pengetahuan tingkat tinggi (gnosis), dengan pengetahuan itu maka manusia akan bisa menuju Surga. Pada masa itu pula tumbuh subur aliran-aliran filsafat yang mengandalkan pemikiran-pemikiran hebat dan segera mengesampingkan simple gospel yang diusung para rasul. Dalam surat Galatia, terlihat betapa marahnya Paulus dengan “injil plus” yang dianut jemaat, karena ketidakpuasan mereka akan Injil yang dianggap terlalu simple. Mereka menambahkan kepada iman mereka ritual-ritual lain, seperti sunat dan melakukan hukum taurat dengan ketat, sehingga anugerah Allah yang sempurna itu sepertinya masih kurang menantang sehingga harus ditambah-tambah.

Tapi apakah karena simple kemudian kekristenan menjadi “gampangan”? Tentu tidak, karena iman kita walaupun simple tetapi tetap reasonable. Jika dapat disimpulkan dari ajaran agama-agama dan kekristenan, maka inti pokoknya adalah: agama-agama mengajarkan rangkaian ritual untuk bisa mencapai Tuhan, rangkaian perbuatan tertentu yang mendatangkan amal kebajikan. Namun dalam kekristenan mengajarkan bagaimana Tuhan yang mencari kita dan Dia menyelamatkan kita berdasarkan anugerah. Amal kebajikan kita adalah sebuah respon setelah kita memperoleh keselamatan, bukan untuk memperolehnya. Lebih masuk akal mana; Tuhan mencari kita, atau kita mencari Tuhan? Di tengah keterbatasan manusia yang berdosa, yang sejak jatuh ke dalam dosa tak bisa menyelamatkan diri sendiri, serta makin parahnya kondisi dunia ini akibat manusia mencari jalannya sendiri-sendiri, maka jauh lebih masuk akal jika Tuhan datang mencari kita. Kalau pun perbuatan amal kebajikan bisa membawa kita kepada Allah, pertanyaannya adalah seberapa banyak perbuatan yang bisa membawa kita kepada Allah?

Sewaktu seorang saudara saya pindah kepercayaan menuju suatu agama yang mengajarkan bahwa manusia harus banyak-banyak berbuat baik agar bisa menuju ke Surga, saya mengatakan bahwa masuk ke agama itu awalnya saja kelihatan gampang, tetapi ketika menjalaninya, ternyata sulitnya bukan main. Dia menghadapi suatu dilema besar; seberapa banyak perbuatannya bisa membawa dirinya kepada Allah, wong loncat untuk menggapai atap rumah saja kita tidak sampai? Kekristenan, kelihatannya saja memiliki doktrin yang sulit dan njelimet. Tetapi inti dasarnya sangat sederhana, simple. Agama mana sih yang tidak memiliki kesulitan untuk dimengerti? Tetapi kekristenan (walau memiliki sisi-sisi yang sulit dimengerti) menawarkan suatu ajaran yang betul-betul simple, akan hadirnya Allah di dalam dunia untuk mencari kita manusia yang terhilang; suatu hal yang sangat mudah dilakukan oleh Allah. Reasonable, kan?

Sebagai mahasiswa teologi, sebetulnya saya ingin menuliskan sesuatu yang sifatnya akademis, intelektual, menguras pikiran, dan penuh dengan footnotes supaya kelihatan lebih ilmiah. Tapi saya lupa bahwa saya sedang menulis mengenai simplicity atau kesederhanaan. Sehingga saya memutuskan hanya akan menuliskan intisari pesan-pesan Injil yang sebetulnya simple sekali seperti yang telah diungkapkan di atas. Di hadapan saya ada buku-buku yang berbicara mengenai agama-agama baru, apologetika, study bible, dan beberapa buku lain sebagai sumber untuk memperkuat tulisan saya. Tetapi kemudian saya teringat dan selalu terkesan dengan kisah seorang profesor dalam bidang teologi asal Jerman. Suatu saat, di hadapan para mahasiswa ia sedang mengajar. Seorang mahasiswa menanyakan suatu pertanyaan, ”Pak, setelah bapak menghayati kekristenan dan mempelajari kekristenan selama bertahun-tahun, apa kesimpulan bapak?” Dengan tenang sang profesor menjawab, ”Jesus loves me this I know, for the Bible tells me so…” (Yesus sayang padaku, Alkitab mengajarku…) Ia menjawab dengan sebuah lirik dari lagu anak-anak yang kita kenal hingga saat ini. Ternyata ia hanya ingin menegaskan sebuah pesan yang sangat sederhana dari Injil dan kekristenan. Sebuah pesan yang menyatakan bahwa karena kasih-Nya Allah mengorbankan diri, memberikan anak-Nya yang tunggal agar siapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Saya berharap simple gospel ini juga membuat kita memiliki kesederhanaan; dalam berteologi dan bertindak. Begitulah kesederhanaan iman kita; lakukan apa yang kita ketahui dan hayati, Trust & Obey (bukan Try & Obey), tanpa harus terpikat oleh ajaran-ajaran yang memuaskan intelektual kita sebagai insan yang intelek (kata lain dari “tidak bodoh”). Sebenarnya, menghayati kesederhanaan pesan Injil tidak serta merta membuat kita menjadi kelihatan seperti orang bodoh. Tetapi menyadari bahwa kita orang bodoh, akan membuat kita lebih mudah memercayai pesan Injil yang memberi hidup karena, ”…yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” (1 Kor 1:25).