|
Bukan Sebuah Alasan
Oleh: Kikis Istianta
Baru saja saya masuk kantor, atasan saya mengajak bicara masalah seorang relasi yang sekarang ini lama tak mengantar bahan baku untuk produksi di perusahaan
kami. Dari cerita atasan saya, relasi menelepon berkali-kali tapi kesannya tidak diperhatikan, karena kebetulan saat itu atasan saya berada di pabrik, jadi begitu ada pesan di atas meja kerja, langsung beliau telepon ke relasi yang dimaksud, dan ternyata telepon relasi tak
diangkat-angkat, pikir beliau nanti saja lah. Memang masalahnya sederhana,
di tengah persaingan perebutan bahan baku, dan munculnya beberapa competitor baru pada usaha yang kami jalani membuat kami kewalahan untuk bersaing harga, karena
bagaimana pun juga kami harus berpikir realistis supaya kami tetap bisa eksis pada usaha
kami. Jadi setelah tergiur dengan harga yang ditawarkan competitor maka “lari”lah relasi tadi ke perusahaan yang baru, setelah beberapa bulan baru kemarin dia telepon kembali, sementara kami berpikir
positif saja, syukurlah kalo mau kembali lagi ke kita, kata atasan saya.
Malam harinya, ketika ditunggu-tunggu, karena relasi berjanji nanti malam akan menghubungi, dan ternyata tidak dihubungi, maka atasan saya menghubungi relasi dan ketemu sehingga
pembicaraan pun terjadi, dengan mengemukakan alasan bahwa kami tidak mampu bersaing dalam kondisi saat ini, dan tentu saja dengan pesaing yang menawarkan harga menggiurkan, kami juga agak segan untuk menghubungi, toh percuma saja, karena perhitungan pun tidak akan pernah sesuai dengan biaya yang kita keluarkan alias rugi, maka relasi menanyakan di harga berapa, dan dijawab di harga sekian, kok rendah
betul? dan atasan saya langsung menjawab, itulah yang menjadi sebab mengapa kami tidak mau menghubungi, dan atasan saya menyarankan kalau memang tidak cocok tidak usah antarlah, tapi kalau memang mau antar silahkan, dan relasi menyatakan akan
pikir-pikir dulu, selesailah pembicaraan itu dan menghapus praduga-praduga yang terjadi selama ini, karena ketika kami tahu bahwa relasi mengatakan kalau kami bersikap
“seolah-olah” tidak mau berhubungan kembali dengannya.
Saya mendapat satu pengalaman berharga dengan pembicaraan itu, ketika saya sedang menyampaikan masalah itu ke rekan kerja yang lain, saya jadi lebih bisa merenungkan bahwa segala sesuatu alasan yang kita sampaikan dengan penuh kejujuran dan keterbukaan akan menghasilkan nilai positif yang bisa diterima kedua belah pihak, tanpa harus memegang erat-erat ego, menonjolkan ke “aku”an, kesombongan, ataupun kebohongan, inilah sikap rendah hati yang sudah selayaknya dilakukan oleh setiap insan yang percaya
pada-Nya.
Memang tidak mudah untuk memberikan jawaban, yang paling mudah seringkali kita hanya beralasan saja, tanpa tahu alasannya masuk akal atau tidak
di depan orang lain, tidak ada kerendahan hati untuk mengkoreksi diri sendiri, untuk itulah kita perlu mencari, dan memohon hikmat buat setiap ucapan dan perbuatan kita dari yang senantiasa memperhatikan kita, Sang Juru Wilujeng Jesus
Kristus.
Filipi 2:3
… dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri….
|