|
Nota
Oleh: Febe Kurniasari
Banyak sekali orang terutama masyarakat kota yang hidupnya boleh dibilang super
sibuk. Pagi, siang, maupun malam sibuk menghitung-hitung nota jual beli dan bon utang
piutang. Mereka melakukan pekerjaannya dengan begitu serius sampai-sampai lupa untuk
berdoa, beribadah, membaca firman Allah.
Yang ada di benaknya hanyalah bagaimana cara mendapatkan laba yang sebesar-besarnya agar jadi
kaya, sehingga mereka dapat dihargai, termasyur dan lagi mendapatkan pengakuan serta hak-hak istimewa di mata orang lain yang hidup di
masyarakat, terlebih lagi oleh orang-orang yang hidup di lingkungan sekitarnya.
Secara tak sadar mereka telah melakukan dosa yang sangat besar yaitu
"menyembah berhala". Nota ataupun bon telah menjadi Tuhan
mereka. Mereka melakukan kewajiban-kewajiban berdagang seperti:
teliti, tekun, ulet, tanggung jawab agar dapat beroleh hak berupa upah ataupun laba hasil usaha.
Padahal sadarkah kita bahwa semua hukum dagang laba rugi itu sifatnya tidak
kekal? Harta kekayaan yang kita punya dan kumpulkan dengan susah payah selama bertahun-tahun lamanya bisa habis dalam
sekejap karena berbagai macam alasan seperti kebakaran, dirampok,
ditipu, dsb.
Lain halnya dengan hukum Allah, sifatnya kekal abadi untuk
selamanya. Sebab dengan kita melakukan segala perintah dan
larangan-Nya, maka kita tidak hanya akan beroleh berkat yang berlimpah
saja, tapi juga akan beroleh keselamatan kekal dengan menjadi penghuni kerajaan Surga asalkan kita mau
taat kepada segala peraturan hukum Allah itu.
Pertanyaannya sekarang hanyalah kita mau taat pada hukum dagang yang sifatnya sementara saja, atau taat pada Hukum Allah yang kekal yang dapat menyelamatkan kita dari kuasa maut?
|