|
Konflik Itu Indah
Oleh: Gito T. Wicaksono
Mana
ada suatu organisasi mengalami konflik. Kemajuan suatu organisasi
pasti akan disertai dengan konflik. Oleh sebab itu, konflik bukan
dihindari bukan pula dicari-cari. Tetapi ketika itu terjadi, dicari
jalan penyelesaiannya. Jadi, konflik akan tetap ada selama sebuah
organisasi berjalan. Tetapi sejak dini perlu diselesaikan dan dicari
jalan keluarnya. Gimana caranya? Gini lho, buuu…
Pertama, perlu adanya sikap respek pada pihak yang saling
berlawanan. Inget aja kita sama-sama manusia berdosa yang sama-sama
punya kesalahan. Setiap kesalahan pada salah satu bagian tubuh
organisasi juga melibatkan bagian tubuh yang lain sehingga tidak
perlu merasa diri benar, walaupun secara hitam di atas putih kita
memang benar. Berada di pihak yang benar tanpa harus menghina pihak
yang salah, bisa, khan?
Kedua, putuskan suatu jalan keluar. Konflik itu wajar, yang
tidak wajar adalah ketika konflik menjadi berkepanjangan dan tidak
ada penyelesaian. Seperti penyakit, maka akan lebih baik jika
konflik disembuhkan sejak dini. Konflik seperti lubang pada gigi,
kalau didiamkan lama-lama lubang akan membesar dan akan sangat
menyakitkan di masa yang akan datang. Lalu, apa keputusannya? Saya
bagi dalam 4 keputusan yang akronimnya adalah YATI KORAN. Apaan,
tuuuh…
YA:
adalah sebuah kesepakatan, bahwa kedua belah pihak yang berkonflik
sama-sama setuju, mengatakan “ya”. Demi kemajuan suatu hubungan
dan tujuan organisasi, maka untuk sesuatu yang genting dan penting,
harus ada kata sepakat.
TI:
adalah “tidak”. Nah, ini yang susah. Kalau konfliknya menyangkut
sesuatu yang benar-benar prinsip dan terpaksa harus kita katakan
tidak pada keputusannya, maka sebaiknya benar-benar berkata tidak.
Kalau suatu organisasi sudah mulai menyimpang dari prinsip-prinsip
Firman Tuhan, maka sebaiknya kita berkata tidak dan kalau terpaksa,
dapat mengeluarkan diri secara dewasa, bukan ngambek.
KO:
adalah “kompromi”, kalau masalahnya tidak terlalu prinsip, hanya
masalah kecil, maka rela hatilah sedikit untuk berkompromi, nggak
perlu ngotot. Misalnya kalau suatu perusahaan mau beli mobil dengan
kisaran biaya 100 juta. Satu pihak mengatakan beli Toyoya Kijang,
pihak lain menawarkan Mitsubishi Kuda, dan perusahaan tidak akan
hancur gara-gara masalah merk mobil, maka kompromi aja nggak
masalah. Kecuali jika menyangkut kebenaran, melanggar prinsip Firman
Tuhan, nah, kita nggak boleh kompromi.
RAN:
adalah “toleran” yaitu sebuah sikap yang membiarkan sesuatu
terjadi walau hal itu memiliki pandangan yang berbeda dari pendapat
kita, dan kita nggak ikuti pandangan itu tapi nggak juga kecewa atau
marah. Tentu jika hal itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip
Firman Tuhan. Ini sedikit beda dengan kompromi. Kalau kompromi, kita
ikut-ikutan dengan keputusan organisasi. Kalau toleran, kita nggak
ikuti keputusan organisasi, tetapi juga tidak ikut-ikutan
melakukannya, bingung ye…gini lho buuu,… Misalnya, suatu
perusahaan ingin menggunakan jasa antar jemput antara rumah dan
kantor, tapi kita lihat itu nggak efektif. Ya sudah, kalau yang lain
lihat itu efektif, biarkan mereka gunakan jasa antar jemput, kita
pakai motor bebek butut kita, dan ndhak usah nesu.
Tapi…ada tapinya, ternyata semua nggak se sederhana itu.
Kalau konflik kita lebih sering nesu, ngotot-ngototan, eh terjadi
perpecahan. Kalau nggak prinsip, nggak perlu pecah-pecah. Tetapi
kalau nama Tuhan udah nggak lagi dipermuliakan, kita harus
berlawanan, tetapi nggak usah gondhok, wong konflik itu indah kok…
|