|
Pindah Jam Makan
Oleh: Gito T. Wicaksono
Anggapan umum ketika kita mendengar kata puasa adalah
bagaimana kita dalam jangka waktu tertentu tidak makan, menahan
lapar dan haus. Tetapi pada kenyataannya ternyata perbuatan puasa
yang sering kita jalani hanyalah perkara “pindah jam makan”,
sehingga tujuan utama dari puasa tidak tercapai. Sebenarnya apa arti
puasa? Apa kata Alkitab mengenai puasa, dan bagaimana melakukannya?
Puasa adalah salah satu bagian dari ibadah dalam tradisi
keagamaan orang Yahudi yang juga dilakukan pada jemaat mula-mula.
Puasa adalah sebuah tindakan yang tujuannya adalah untuk meninggikan
Allah, merendahkan diri, serta mengakui kelemahan diri. Musa, sang
pemimpin besar, Daud yang adalah raja, Elia, Ester, Daniel, serta
Tuhan Yesus sendiri melakukan puasa. Demikian pula dalam jemaat
mula-mula, serta tokoh-tokoh besar seperti Luther, Calvin, John
Knox, John Wesley, Jonathan Edwards, dlsb.
Puasa tidak berporos pada kepentingan pengalaman manusia,
tetapi puasa dilakukan untuk Allah dan demi Allah; bukan untuk
memaksakan kehendak manusia kepada Allah, tetapi untuk menaklukkan
kehendak manusia dengan seluruh keberadaannya kepada Allah. Puasa
bukanlah dalam rangka membujuk Allah agar keinginan kita berhasil,
dengan “minta dikasihani” oleh Allah. Berpuasa juga bukan
sekadar tidak makan, tetapi juga harus disertai dengan doa, dan
Firman, serta hati yang terus menerus mengarah pada kehendak Allah.
Jadi, puasa adalah sebuah tindakan “mengosongkan
diri”—termasuk mengosongkan diri dari makanan, minuman,
kenikmatan dunia—agar hati kita dapat lebih terfokus untuk bisa
mengerti apa kehendak Allah dalam diri kita, atau terhadap sesuatu
yang kita doakan. Tetapi bukan hanya “mengosongkan” diri saja,
tetapi disertai dengan “mengisi” dengan kehendak Tuhan. Dalam
berpuasa, ingatlah perkataan ini,”Ketika kamu berpuasa dan
meratap…adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku”
(Za.7:5), puasa adalah untuk Allah, dan puasa yang ditolak Allah
adalah ritual puasa yang terlihat rohani tetapi di dalam hati penuh
kemunafikan (Mat.6:16-18).
Puasa dapat pula diorganisir, terutama saat suatu bangsa
mengalami krisis, seperti yang dilakukan umat Perjanjian Lama
(Hak.20:26; 1Sam.7:6; 2Taw 20:3, dsb). Puasa dapat pula dilakukan
sebagai pernyataan sikap pertobatan (1Raj.1:27; Neh.9:1), untuk
mengiringi doa sebagai ungkapan keseriusan (2Sam. 12:16; Mzm. 35:13)
maka wajarlah jika puasa sering diiringi dengan ratap tangis
(2Sam.1:12; 2Sam. 12:31; Yes.31:13).
Lalu bagaimana cara berpuasa? Dapat dikatakan Alkitab tidak
menganjurkan secara rinci cara untuk berpuasa. Tidak ada jam khusus,
cara-cara rinci untuk melakukannya, apalagi hukuman bila kita tidak
melakukan puasa. Puasa dapat dianjurkan, tetapi tidak ada ketetapan
yang benar-benar mengharuskan dan kita yang tidak melakukannya akan
mendapatkan sanksi dari Tuhan. Dengan kata lain, puasa tidak wajib.
Namun puasa adalah suatu disiplin yang masih perlu dilakukan di
zaman ini, untuk berdoa, bergumul, menahan diri dari kenikmatan
duniawi, menahan diri dari makan dan minum untuk sementara. Puasa
baik untuk mengkonsentrasikan diri dalam mengerti kehendak Tuhan
(bukan minta Tuhan kasihan pada kita agar doa kita dikabulkan).
Puasa adalah salah satu tindakan untuk berdiam diri dan membiarkan
Tuhan yang mengisi diri kita dengan kehendak-Nya. Sehingga, setelah
puasa yang kita jalani dalam jangka waktu tertentu, kita dapat
semakin memahami Allah. Itulah sebabnya puasa tidak menjamin doa-doa
kita akan selalu dikabulkan sesuai dengan permintaan, tetapi jika
dilakukan dengan benar maka puasa dijamin akan semakin memudahkan
kita untuk mengerti kehendak Allah, melakukan apa yang
dikehendaki-Nya walau doa-doa kita saat berpuasa tidak dijawab oleh
Tuhan.
Karena tidak wajib, maka disiplin puasa sering sekali
terabaikan di dalam kehidupan berjemaat. Akhirnya puasa jadi
terlupakan, terabaikan, dan malas dilakukan. Perlu dalam jangka
waktu tertentu kita berpuasa (misalnya seminggu sekali,dsb), dapat
pula pada saat pergumulan (tidak rutin), atau ajakan berpuasa dalam
jemaat. Sangat sulit untuk bisa mengerti kehendak Tuhan, memahami
pergumulan sesama, mendoakan bangsa ini, jika hari-hari kita
dipenuhi dengan segudang kenikmatan. Bagaimana bisa berdoa bagi
korban kelaparan dan kekeringan jika kita terbiasa makan 5 potong
ayam setiap hari? Bagaimana bisa mendisiplin diri untuk bertumbuh
dalam iman jika kita terbiasa dengan menu KFC, McDonald, Pizza Hut,
atau ayam Bakar Wong Solo? Apakah makan di tempat-tempat itu salah?
Tidak. Bukan itu maksudnya. Nikmatilah hidup ini, dan berbagilah
dengan orang yang kita sayangi dengan makan di tempat-tempat seperti
itu. Namun jika sebagian besar waktu kita hanya kita gunakan untuk
menikmati hidup dan hanya mengejar kenikmatan, maka iman kita
sesungguhnya berada dalam masalah.
Iman
yang bertumbuh adalah iman yang disertai dengan pergumulan. Kalau
kita beriman tetapi tidak tidak pernah bergumul sama sekali, maka
kita tidak akan pernah bisa memahami arti pergumulan Kristus di
taman Getsemane karena dosa-dosa kita. Jika dosa, kekurangan
kita, bencana, dan kejahatan manusia di dunia tidak menimbulkan
pergumulan dalam hati kita, maka dipastikan iman kita tak akan
pernah bertumbuh. Kita perlu menikmati hidup, tetapi hidup kita
perlu lebih banyak untuk berdiam diri, berdoa, bergumul, merenung,
mengerti Firman Tuhan. Dan salah satu sarana untuk semakin
mengarahkan diri kita pada Tuhan adalah dengan berpuasa. Jadi, puasa
akhirnya semakin mengarahkan kita pada Tuhan dan bukan sekadar
pindah jam makan.
|