Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm@glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Serving My Times
Oleh: Gito T. Wicaksono

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman”
2 Timotius 4:7

Dalam album foto untuk memperingati 30 tahun pelayanan Pdt. Stephen Tong, saya tertarik sekali dengan judul album itu, “Serving My Times”. Saya punya kesan tersendiri dengan kalimat itu, tetapi komentar saya bukan berdasarkan kalimatnya Pak Tong, tapi kesan saya terhadap judul buku itu, dan kekaguman saya terhadap beliau yang memanfaatkan masa hidupnya dari muda sampai sekarang. Yuk kita lihat satu persatu kata-katanya.

Serving”, hebat bener kata ini. Beda dengan iklan yang mengatakan “Enjoy aja…”, atau “Santai…”, “Aku mau bebas…”. Sadar nggak sih kalau hidup itu serving? Ini makna kalimat yang dalam banget menurut saya. Bahwa hidup adalah serving, bukan enjoying, relaxing atau sekedar living. Serving adalah more than enjoying this live. Serving menandakan ada suatu pertanggung jawaban pada yang memberi tugas serving. Sadar atau tidak kita semua adalah pelayan yang harus memberikan serve (melayani) pada sang  Tuan. Lha, tuannya siapa kalo gitu? Nah ini masalahnya. Kalau hidup itu cuma buat kita sendiri dan tidak melibatkan Tuhan, maka konsep hidup kita  jadi berbeda. Kalau dikatakan hidup adalah serving, maka kita musti tau siapa tuan kita, dan lebih lagi untuk apa kita dicipta.

Sejak Adam dicipta, posisinya jelas. Adam adalah seorang pekerja yang diperintahkan mengelola taman Firdaus. Itu jelas sekali, bahkan sebelum ia dan istrinya jatuh dalam dosa. Hal yang sama juga berlaku untuk kita, kalau hidup Adam adalah serving, maka hidup kita ini pun adalah serving, …bukan sekedar enjoying. Sebagai insan ber-Tuhan maka Ia harus jadi “boss” kita dan kita adalah pekerja-Nya.

Jadi, ada tuan dan hamba. Dan tugas hamba adalah jadi pelayan. Kalau kita tidak hidup sebagai pekerja yang harus menuruti sang Tuan dan hidup mau-mau kita sendiri, berarti kita tidak mengerti apa arti hidup, dan tidak mengerti bagaimana dan kepada siapa kita mempertanggungjawabkan hidup. Jadi, hidup itu ternyata penuh dengan pertanggungjawaban. Suatu saat ketika ajal menjelang dan kita berhadapan dengan Tuhan, maka Ia akan mempertanyakan apa yang kita lakukan dalam hidup. Apakah kita serving atau sekedar enjoying hidup.

Selanjutnya adalah “my times”. Saya mikir emang waktu itu milik siapa? Bukankah semua orang kedapatan pembagian waktu yang sama? Mau miskin, kaya, jelek atau ganteng, semua punya 24 jam per hari. Lalu kenapa Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa waktu itu adalah my times, miliknya? Nah ini dia, ternyata kita hidup dalam ruang dan waktu. Dan masing-masing kita ternyata diserahkan tanggung jawab untuk hidup sesuai dengan ruang dan waktu kita. Jadi, walaupun waktu adalah “milik bersama” tetapi pengelolaannya dikelola oleh masing-masing orang. Memang benar, waktu itu adalah milik kita pribadi. Waktu adalah produk global tetapi penanganannya tergantung otonomi daerah masing-masing. Waktu kita diberikan oleh Tuhan sama, tetapi kesadaran kita akan makna hidup, dan tujuan Tuhan bagi kitalah, yang menentukan hidup kita.

Selain itu, yang harus kita jalani bukan hanya time, tapi times. Artinya jamak, jadi waktu yang kita punya itu banyak banget. Terdiri dari detik demi detik, menit demi menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun. Banyak sekali waktu yang harus kita lalui dalam hidup ini. Tapi, sebanyak-banyaknya waktu, tetap saja waktu kita di dunia terbatas. Walau banyak, tetap ada akhirnya. Nah, tanggung jawab kita dengan waktu yang akan berakhir inilah yang perlu kita cermati, sehingga menjalani waktu sekarang yang sedang berjalan, menjadi lebih bijak.

Waktu adalah milik kita, sebagai anugerah dari Tuhan, tidak ada yang bisa mengganggu gugat. Berguna atau tidaknya kita gunakan waktu, tergantung dari pertanggungjawaban kita selama berada di dalam batasan waktu. So, kita bertanggungjawab sepenuhnya. Kalau sebagai atasan melihat anak buah yang cuma baca komik, nganggur sepanjang hari, atau jalan-jalan saat jam kerja, bagaimana perasaan kita? Begitulah “perasaan” Tuhan, saat Ia melihat anak-anak-Nya menghabiskan waktu nggak karuan.