Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm@glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Love Was When
Oleh: Gito T. Wicaksono


“…Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” Yohanes 10:10

John E. Walvoord telah menuliskan suatu lagu yang kemudian nadanya dibuat oleh Don Wrytzen. Syair lagu ini indah, menceritakan betapa cinta Tuhan bagi manusia yang mau melakukan apa saja termasuk kerelaan-Nya untuk masuk dalam batasan waktu. Bukankah Ia Allah yang Maha Kuasa, tidak ada batasnya dan tidak terikat waktu? Lha, kalau Ia sampai rela masuk dalam waktu ciptaan-Nya sendiri, itu adalah bukti cinta-Nya.

LOVE WAS WHEN
Love was when God become a man

Locked in time and space
Without rank or place
Love was God born of Jewish skin
Just a carpenter with some fishermen
Love was when Jesus walked in history
Lovingly He brought a new live that’s free
Love was God nailed to bleed and die
to reach and love one such as I
(Lagu no. 52, Kupuji Engkau Allah Tuhanku! Buku lagu PERKANTAS, ed. 4, 2003)

Love was when God become a man. Yang berdosa adalah manusia, sehingga Ia menjadi manusia. Apa perlunya? Bukankah Ia Maha Kuasa dan mampu melakukan segala-galanya? Yah itu cara dan kedaulatannya Tuhan. Manusia yang dicintai itu suatu saat akan mati, masuk ke dalam maut. Bagaimana caranya agar Allah bisa masuk maut agar mengalahkan maut itu? Ia bisa melakukannya dengan cara Allah, tapi Ia melakukannya dengan cara yang dimengerti manusia. Ia jadi manusia, mati, tetapi bangkit mengalahkan maut agar manusia tidak binasa dalam maut.

Locked in time and space. Ia terikat dengan ruang dan waktu. Hal ini sering menjadi perdebatan sepanjang zaman. Masa’ Allah jadi bayi, terikat dengan waktu dan tempat. Masa’ Dia hidup dalam satu zaman saja. Tetapi, justru di sini letak keagungan Allah. Dia mau terkunci dalam waktu dan tempat. Rasanya tidak masuk akal, tetapi apa susahnya masuk dalam waktu buat Allah? Jadi, bukannya tidak masuk akal, tetapi akal kita yang nggak sampai memikirkan kasih sebesar itu. Bahkan, Ia hidup di dunia tanpa kedudukan dan tanpa tempat tinggal tetap, without rank or place.

Love was God born of  Jewish skin. Allah menetapkan bangsa Yahudi menjadi bangsa pilihan-Nya, padahal saat ini bangsa ini sering menjadi trouble maker bagi negara-negara tertentu. Bahkan Indonesia tidak punya duta besar di sana. Pasti ada alasan Allah memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya, walau saya tidak tahu apa alasan pastinya.

Just a carpenter with some fishermen. Pergaulannya juga tidak “luas”, tidak pernah ke Asia Tenggara, Eropa atau Eskimo. Ia cuma jadi tukang kayu dan beberapa dari murid-murid-Nya adalah alumni danau Galilea yang cuma ahli menjala ikan. Reputasi-Nya “diragukan” kalau Ia adalah Allah yang menjadi manusia. Tetapi heran ya, Ia yang saat itu nobody, dikenal dan dipercayai oleh milyaran manusia di dunia hingga sekarang, dengan dampak besar di dalam sejarah manusia, entah yang membenci atau percaya pada-Nya. Kalau memang Ia bukan Tuhan, kenapa juga setan takut di dalam nama-Nya. Kalau Ia bukan Tuhan, kenapa juga Ia masih berkarya di tengah umat-Nya yang berdoa, dan berkarya di dalam nama-Nya.

Love was when Jesus walked in history. Allah, Alfa dan Omega, yang tidak terikat oleh waktu mau menjadi terbatas dan tercatat dalam sejarah sebagai manusia. Diakui atau tidak keillahian-Nya, yang jelas fakta bahwa Ia berada di dalam sejarah, bukan pepesan kosong atau mitos. Catatan di luar Alkitab juga bilang begitu. Bukankah ini menakjubkan, bahwa Allah pernah berada dalam sejarah dunia ini sebagai manusia?

Lovingly he brought a new life that’s free. Selain itu, Ia adalah Allah yang fokus dalam waktu hidup-Nya sebagai manusia. Urusan-Nya adalah hidup manusia. Ia tidak mau manusia binasa, dan fokusnya adalah menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Ia datang dengan fokus kayu salib, mati menggantikan dosa-dosa kita agar kematian kita nanti tidak abadi, tetapi beroleh hidup yang kekal bersama-Nya. Boleh dikata, fokus kedatangan-Nya adalah untuk mati agar memberi hidup pada manusia. Yang percaya kepada-Nya, yang akan memperoleh hidup yang kekal itu.

Love was God nailed to bleed and die to reach and love such as I. Fokus-Nya itu yang membawa-Nya ke Golgota untuk mati di salib dan bangkit di hari ke-3. Dari fokus-Nya pula kita dapat melihat apa yang “tidak Ia lakukan.” Ia tidak membangun “Jesus Orchestra” sebagai model pujian menyembah Dia. Ia juga tidak membangun “Jesus School” untuk generasi penerus-Nya. Ia tidak membangun “Jesus Economic System” agar ekonomi dunia tidak kacau. Ia tidak membangun “Jesus Church” sebagai model gereja yang paling benar. Bahkan ia tidak menulis satu buku pun, agar tulisan tangan-Nya tidak disakralkan. Tetapi fokus hidup-Nya hanyalah untuk mengalahkan kematian agar yang percaya pada-Nya, sebelum dan setelah kelahiran-Nya tidak binasa dalam kematian kekal.