“…Aku datang, supaya mereka
mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” Yohanes
10:10
John E. Walvoord telah menuliskan
suatu lagu yang kemudian nadanya dibuat oleh Don Wrytzen. Syair lagu
ini indah, menceritakan betapa cinta Tuhan bagi manusia yang mau
melakukan apa saja termasuk kerelaan-Nya untuk masuk dalam batasan
waktu. Bukankah Ia Allah yang Maha Kuasa, tidak ada batasnya dan
tidak terikat waktu? Lha, kalau Ia sampai rela masuk dalam waktu
ciptaan-Nya sendiri, itu adalah bukti cinta-Nya.
LOVE WAS WHEN
Love was when God become a man
Locked in time and space
Without rank or place
Love was God born of Jewish skin
Just a carpenter with some fishermen
Love was when Jesus walked in history
Lovingly He brought a new live that’s free
Love was God nailed to bleed and die
to reach and love one such as I
(Lagu no. 52, Kupuji Engkau Allah Tuhanku! Buku lagu PERKANTAS,
ed. 4, 2003)
Love was when God become a man.
Yang berdosa adalah manusia, sehingga Ia menjadi manusia. Apa
perlunya? Bukankah Ia Maha Kuasa dan mampu melakukan segala-galanya?
Yah itu cara dan kedaulatannya Tuhan. Manusia yang dicintai itu
suatu saat akan mati, masuk ke dalam maut. Bagaimana caranya agar
Allah bisa masuk maut agar mengalahkan maut itu? Ia bisa
melakukannya dengan cara Allah, tapi Ia melakukannya dengan cara
yang dimengerti manusia. Ia jadi manusia, mati, tetapi bangkit
mengalahkan maut agar manusia tidak binasa dalam maut.
Locked in time and space. Ia
terikat dengan ruang dan waktu. Hal ini sering menjadi perdebatan
sepanjang zaman. Masa’ Allah jadi bayi, terikat dengan waktu dan
tempat. Masa’ Dia hidup dalam satu zaman saja. Tetapi, justru di
sini letak keagungan Allah. Dia mau terkunci dalam waktu dan tempat.
Rasanya tidak masuk akal, tetapi apa susahnya masuk dalam waktu buat
Allah? Jadi, bukannya tidak masuk akal, tetapi akal kita yang nggak
sampai memikirkan kasih sebesar itu. Bahkan, Ia hidup di dunia tanpa
kedudukan dan tanpa tempat tinggal tetap, without rank or place.
Love was God born of
Jewish skin. Allah menetapkan bangsa Yahudi menjadi bangsa
pilihan-Nya, padahal saat ini bangsa ini sering menjadi trouble
maker bagi negara-negara tertentu. Bahkan Indonesia tidak punya
duta besar di sana. Pasti ada alasan Allah memilih Israel sebagai
umat pilihan-Nya, walau saya tidak tahu apa alasan pastinya.
Just a carpenter with some
fishermen. Pergaulannya juga tidak “luas”, tidak pernah ke
Asia Tenggara, Eropa atau Eskimo. Ia cuma jadi tukang kayu dan
beberapa dari murid-murid-Nya adalah alumni danau Galilea yang cuma
ahli menjala ikan. Reputasi-Nya “diragukan” kalau Ia adalah
Allah yang menjadi manusia. Tetapi heran ya, Ia yang saat itu nobody,
dikenal dan dipercayai oleh milyaran manusia di dunia hingga
sekarang, dengan dampak besar di dalam sejarah manusia, entah yang
membenci atau percaya pada-Nya. Kalau memang Ia bukan Tuhan, kenapa
juga setan takut di dalam nama-Nya. Kalau Ia bukan Tuhan, kenapa
juga Ia masih berkarya di tengah umat-Nya yang berdoa, dan berkarya
di dalam nama-Nya.
Love was when Jesus walked in
history. Allah, Alfa dan Omega, yang tidak terikat oleh waktu
mau menjadi terbatas dan tercatat dalam sejarah sebagai manusia.
Diakui atau tidak keillahian-Nya, yang jelas fakta bahwa Ia berada
di dalam sejarah, bukan pepesan kosong atau mitos. Catatan di luar
Alkitab juga bilang begitu. Bukankah ini menakjubkan, bahwa Allah
pernah berada dalam sejarah dunia ini sebagai manusia?
Lovingly he brought a new life
that’s free. Selain itu, Ia adalah Allah yang fokus dalam
waktu hidup-Nya sebagai manusia. Urusan-Nya adalah hidup manusia. Ia
tidak mau manusia binasa, dan fokusnya adalah menyelamatkan manusia
dari belenggu dosa. Ia datang dengan fokus kayu salib, mati
menggantikan dosa-dosa kita agar kematian kita nanti tidak abadi,
tetapi beroleh hidup yang kekal bersama-Nya. Boleh dikata, fokus
kedatangan-Nya adalah untuk mati agar memberi hidup pada manusia.
Yang percaya kepada-Nya, yang akan memperoleh hidup yang kekal itu.
Love was God nailed to bleed and
die to reach and love such as I. Fokus-Nya itu yang membawa-Nya
ke Golgota untuk mati di salib dan bangkit di hari ke-3. Dari
fokus-Nya pula kita dapat melihat apa yang “tidak Ia lakukan.”
Ia tidak membangun “Jesus Orchestra” sebagai model pujian
menyembah Dia. Ia juga tidak membangun “Jesus School”
untuk generasi penerus-Nya. Ia tidak membangun “Jesus Economic
System” agar ekonomi dunia tidak kacau. Ia tidak membangun “Jesus
Church” sebagai model gereja yang paling benar. Bahkan ia
tidak menulis satu buku pun, agar tulisan tangan-Nya tidak
disakralkan. Tetapi fokus hidup-Nya hanyalah untuk mengalahkan
kematian agar yang percaya pada-Nya, sebelum dan setelah
kelahiran-Nya tidak binasa dalam kematian kekal.