|
Lapor, Bos!
Oleh: Kikis Istianta
Sering sekali saya mendengar kata-kata itu, baik yang sifatnya formal maupun yang informal, atau sekedar
“guyon”. Boleh jadi inilah yag diharapkan dari orang yang kita sebut “bos”, dengan menerima laporan itu, paling tidak si “bos” tahu perkembangan yang sedang terjadi.
Sebenarnya kalau menurut saya, budaya ini perlu banget diperhatikan, artinya kita diharapkan aktif dalam berkomunikasi, apalagi saat ini era komunikasi, muncul banyak layanan komunikasi, hp bertebaran
dimana-mana, nggak sempat bicara, sms pun jadi, serba mudah!!
Memang dalam penerapannya di lapangan, kadang kita ke”lupa”an bahwa komunikasi merupakan bagian utama untuk menjalin hubungan yang baik dengan sesama
kita. Beberapa kali saya memperhatikan sekeliling saya ---berkaitan dengan budaya ini---, ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, jelas akan merugikan orang lain dan akibatnya bisa ditebak, penilaian yang negatif tentunya akan kita terima.
Setelah saya merenungkan, menimbang-nimbang dengan bercermin pada diri saya sendiri, saya teringat ketika saya tidak menyampaikan laporan kepada pimpinan atau rekan sekerja saya yang membutuhkan laporan dari saya, kerugian besar yang saya peroleh, terutama adalah hilangnya kesempatan untuk dapat membantu pekerjaan mereka, berkurangnya kepercayaan mereka terhadap pekerjaan saya, dan yang selebihnya akan berakibat fatal jikalau kita mengambil suatu keputusan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada pimpinan, ditambah lagi apalagi keputusan yang kita ambil tanpa didasari dengan pemikiran jangka
panjang. Padahal ketika pikiran saya sedang “dingin”, saya jadi menyesal dan bertanya mengapa saya
melakukannya? Akhirnya setelah merenung lama, kalau saya boleh menilai dan mengambil hikmahnya, boleh jadi sebenarnya kita masih
egois, dalam diri kita masih ada “ego”, bahwa kita merasa mampu mengatasi masalah sehingga timbul pemikiran dalam diri kita, masalah begini saja kok mesti
lapor. Boleh jadi juga, kita merasa sungkan, kita malu untuk mengungkapkan laporan kita. Sering timbul perasaaan “takut ditolak” ada rasa khawatir dalam diri kita, main perasaan, jangan-jangan….ini adalah bahaya besar yang sedang mengintai kita, timbul krisis tidak pe-de yang berakibat pada sikap-sikap kita
selanjutnya.. Boleh jadi karena kita terlalu mengandalkan kuasa yang ada
di tangan kita, sering kita “bangga” dengan kekuasaan yang kita punyai, akhirnya memunculkan sikap bahwa kita merasa mampu untuk mengambil keputusan
sendiri. Dengan kuasa yang kita miliki merasa sudah mampu”bertanggungjawab”, padahal seringnya keputusan yang kita buat semata-mata hanya menunjukkan gengsi kita saja, posisiku kan ini, itu… Selain itu, yang lebih berbahaya adalah budaya
menggampangkan, gampanglah nanti bisa diatur, atau paling tidak, sudahlah nanti juga tahu sendiri…Padahal beberapa sebab itu akan mengakibatkan kekecewaan bagi orang lain, dan itu tidak seharusnya kita lakukan.
Membudayakan budaya lapor memang dibutuhkan komitmen, kedisiplinan, dan niat kita buat merubah, dan ternyata juga tidak semudah mengungkapkan hanya sebatas tulisan, namanya juga membudayakan, mendarahdagingkan kebiasaan, jadi tetap memerlukan
proses. Yang pasti kita harus meminimalkan beberapa hal di atas, egois,
sungkan, kuasa, dan menggampangkan, harus dirubah, selain itu perlu juga mengembangkan sikap empati, apa yang terjadi apabila “bos” itu adalah saya, betapa mengecewakan sikap
kita. Hal ini penting, karena bagaimana pun ketika kita menempatkan posisi kita pada orang lain, kita bisa melihat diri kita sendiri, terutama kekurangan-kekurangan
kita. Namun yang perlu diingat, jangan pula melaporkan hal-hal yang bersifat “gosip”, sikap ini akan memperparah keadaan
di lingkungan kita, bisa-bisa jadi tukang adu sesama rekan kita di
hadapan “bos”. Sesederhana apapun yang kita lakukan, semestinya kita wajib melaporkan setiap kerja kita, apalagi ketika “bos” sendiri yang meminta kita untuk mengerjakannya, entah itu belum selesai, hampir selesai, atau bahkan sudah selesai sekalipun, kita wajib lapor, supaya tidak menimbulkan praduga yang
bukan-bukan dari “bos” kepada kita.
Demikian halnya dalam kehidupan rohani kita, sudahkah kita melaporkan apa-apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan, sadar tidak sadar, kita lebih diperhadapkan pada bagaimana memohon supaya…dan ketika kita tidak mendapatkan kita tidak melaporkan---boro-boro lapor dapat saja tidak?--- ketika kita mendapatkan apa yang kita
mohon, kita terkadang “lupa” melaporkan, sungguh suatu hal yang bertentangan, padahal kalau Tuhan tahu, betapa kecewanya Dia melihat sikap
kita. Dalam situasi apapun, saya mengutip dari sebuah tulisan yang beberapa waktu lalu saya baca, kita diharuskan untuk “mahir bersyukur” bukan hanya sekedar bisa
bersyukur. Bentuk pelaporan yang sederhana yang harus kita budayakan mulai sekarang!
Bersyukurlah…
Tuhan Yesus Memberkati, Amin.
|