Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm@glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Mataku ... Mata-Mu … ?
Oleh: Alison Subiantoro


Rasul Paulus adalah seorang tokoh Alkitab yang terkenal akan sukacita dan pengharapan yang dirasakannya dalam segala situasi. Lihat saja bagaimana ia mampu menyanyikan lagu-lagu pujian di dalam penjara di Filipi (Kis 16), atau bagaimana ia masih mampu menghibur dan menasehati jemaat-jemaat melalui surat-suratnya yang ia tulis dari dalam penjara. Padahal kalau kita lihat daftar segala kesukaran yang pernah Paulus hadapi (2 Kor 11), sangatlah manusiawi kalau ia frustrasi dan menyerah.

Apakah yang memampukan Paulus untuk bisa bersikap seperti itu? Banyak jawaban yang dapat diberikan, tapi salah satunya adalah perspektifnya yang unik terhadap hidupnya, yaitu perspektif ilahi, cara pandang dari kacamata Allah. Perspektifnya ini membuat ia menyikapi segala yang terjadi dalam dirinya dengan berbeda dari orang-orang lain.

Proses yang dilaluinya untuk memiliki perspektif ini nampaknya dimulai dengan perjumpaan dengan Tuhan Yesus di perjalanan ke Damsyik. Peristiwa itu nampaknya merubah total pola pikir dan pandangannya tentang hidupnya yang dahulu (Flp 3:7). Dari suatu perspektif yang bersifat duniawi menjadi suatu perspektif yang bersifat ilahi. Dari suatu perspektif yang terbatas dalam kemanusiaannya menjadi suatu perspektif yang melihat secara utuh dari kacamata Allah.

Kita pun perlu dan bahkan harus memiliki perspektif yang demikian kalau kita ingin menjalani hidup yang utuh. Kita perlu untuk selalu melihat segala yang terjadi dalam hidup kita dari kacamata Allah, dari kacamata iman.

Ini tentu bukanlah proses yang mudah, yang dapat terjadi dalam semalam. Perlu proses pengenalan yang dalam akan sosok pribadi Allah, akan pola pikir Allah, akan isi hati Allah. Dan untuk bisa melewati proses tersebut, seseorang harus bergaul dekat dengan Firman Allah. Dia harus rajin membaca dan merenungkan isi Alkitab. Dia harus kemudian berusaha pelan-pelan merubah pola pandangnya menjadi sesuai dengan apa yang Allah lihat yang telah Ia nyatakan melalui firman-Nya di Alkitab. Niscaya, hidup yang penuh sukacita dan pengharapan di dunia ini akan dia miliki.