Manusia
sejak awal penciptaan kita diciptakan oleh Sang Pencipta. Bayangkan
saja kita diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya. Kita mungkin
dapat dikatakan kembaran-Nya kali ya... Namun sayang, sejak
peristiwa taman Eden itu dimana Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa,
kita sebagai manusia telah kehilangan kemuliaan-Nya. Sungguh sayang
…
Itu
berarti setiap manusia telah kehilangan kemuliaan-Nya. Manusia
kehilangan kontaknya dalam hubungan dengan Sang Pencipta. Kita
‘tampaknya’ terpisah akibat dosa. Yah benar akibat dosa kita
semuanya terputus dan tak terhubungkan lagi, kalau tergambar
nampaknya seperti kejadian berikut ketika sedang berhubungan kontak
dengan teman atau saudara kita, namun terputus karena apa yang kita
utarakan di pesawat telepon tak pernah sampai ke teman yang
bersangkutan meski kita berteriak meski kita mencoba memperbesar
volume suara kita tetap kita takkan mampu mendengar teman kita yang
sedang berkomunikasi dengan kita karena keterbatasan kita baik itu
jarak, lokasi, waktu yang berbeda. Akibatnya kita lose contact
dengan teman kita tersebut. Sungguh amat sayang sekali kita gak tak
kabarnya bagaimana? Suaranya bagaimana? (maaf, jadi teringat kisah
keluarga korban musibah pesawat yang jatuh baru-baru ini). Yah
seperti itulah gambaran kita dengan Sang Pencipta kita terputus
bukan karena angin topan bukan karena badai atau karena kesalahan
mesin pesawat atau mekanisme lainnya semuanya karena dosa. Akibat
dosa kita kehilangan kemuliaan-Nya.
Manusia
dengan bermodal nilai spritual apapun yang dimilikinya akan tetap
terbatas untuk mengembalikan hubungan kita dengan-Nya. Lalu
bagaimana kita dapat mengembalikan kisah yang lose contact
ini? Manusia sangat tebatas alangkah sayang kita sungguh fana dan
terbatas tak ada sejengkal atau sesenti pun untuk mencapai
“jarak“ yang terpisah ini. Karena “jarak” ini dimiliki oleh
tiap kita sebagai mausia yang telah terlumuri oleh lumpur dosa.
Setiap manusia tidak ada yang tak berdosa dan tidak apa yang mampu
mengembalikan semua kisah ini. Nampaknya kisah ini sungguh
menyedihkan (benarkah?), padahal sejak semula kita diciptakan serupa
dan segambar dengan-Nya namun kita kehilangan kemuliaan-Nya akibat
dosa kita.
To
be continued adalah kata yang tepat.
Namun kisahnya takkan berakhir begitu saja. Melihat kebobrokan dosa
manusia yang semakin menjadi-jadi. Sang Pencipta tak pernah
meninggalkan kita sebagai ciptaan-Nya, namun Dia datang kembali
mengukir kembali janji yang pernah tercerai-berai akibat dosa
manusia. Siapakah kita sanggup menyelamatkan “kisah” ini? Atas
inisiatif-Nya, lalu Yesus datang ke dunia ini menyalibkan setiap
dosa kita, menebus setiap dosa kita dengan mengganti dengan
nyawa-Nya, tak hanya berhenti pada kisah tragis nan mengharukan ini
namun Dia bangkit dan mengalahkan setiap dosa kita sehingga kita
beroleh kuasa untuk mengalahkan setiap dosa karena kuasa Dia sendiri
pun telah mengalahkan maut.
Ternyata
hanya Dia, Yesus Kristus, Sang Pencipta kita yang hanya mampu
mengembalikan manusia yang telah hilang oleh kemuliaan-Nya. Musim
berlalu, waktu berlalu, kisah berganti, manusia yang telah bobrok
dan hilang kemuliaan-Nya namun Dia temukan kita, kembali temukan
saya dan temukan Anda. Dialah yang menebus dan menghapus setiap dosa
kita. Dialah yang hanya patut dimuliakan, Dia patut dipuji dan
disembah karena Ia raja atas semesta dan sahabat kita. Semua kisah
dimana dosa memutuskan hubungan kita dengan-Nya namun Dia yang penuh
kemuliaan mengembalikannya oleh karena Dia mengasihi kita. Ya hanya
karena anugerah dan kasih-Nyalah kita dipulihkan dan dikembalikan
pada kemuliaan-Nya. Biarlah segala kemuliaan puji dan hormat hanya
untuk kemuliaan-Nya, nama yang kekal Yesus Kristus.(ap)