Pada
waktu saya menulis artikel ini saya tak tahu harus berkata apa. Hal
yang selama ini tak kupercaya ternyata benar-benar nyata terjadi
dalam kehidupan saya untuk kedua kalinya.
Saya memulai karier menulis
dengan menjadi penulis kolomnis di glorianet, kolom kita. Saya
menulis dengan dibimbing oleh guru saya di sekolah yang bernama
Bapak Kukuh Widyatmoko, yang juga merupakan
salah seorang penulis kolomnis glorianet. Dengan penuh kesabaran dan
kerendahan hati beliau bersedia untuk membimbing, mengarahkan, serta
meluangkan waktu bagi saya agar saya menjadi termotivasi untuk
menulis.
Sampai hari ini saya tak tahu
mengapa benih menulis diberikan oleh Allah kepada saya melalui
beliau. Padahal mulanya saya merasa bahwa sama sekali saya tak
memiliki bakat dalam hal menulis. Penguasaan struktur tata bahasa
juga boleh dibilang tidak saya kuasai dengan baik.
Namun beliau berhasil memupuk
motivasi saya agar tetap terus-menerus mau belajar menulis. Beliau
berkata bakat 1 persen usaha 99 persen. Mulanya saya dihimbau untuk
menulis segala apa yang saya rasakan dan kerjakan dalam sehari.
Selang beberapa minggu beliau menghimbau saya untuk menulis artikel
pada situs glorianet. Saya pun akhirnya menulis artikel pertama
saya ke glorianet dengan judul "Karakter
Berakar Dari Kebiasaan". Saya tunggu-tunggu
artikel tersebut belum dimuat-muat juga. Tapi saya tidak menyerah.
Saya terus menulis artikel-artikel lain dengan harapan artikel yang
saya buat berikutnya itu lebih baik dari artikel yang
sebelumnya, dan akhirnya artikel saya ada yang dimuat oleh redaksi.
Tetapi sampai dengan saat saya telah mengirim artikel yang
ke
lima
tak ada satu pun artikel saya yang dimuat oleh redaksi. Melihat
kenyataan itu, mulai timbul perasaan ingin menyerah dalam hati. Saya
berpikir kalau memang saya tidak bisa menulis kenapa harus terus memaksakan
diri? Dari pada saya menghasilkan sesuatu yang sia-sia, bukankah
lebih baik menyerah?
Tanpa
saya sadari tatkala ingin menyerah ternyata kenyataan berbicara
lain. Rupanya saya tak diijinkan untuk menyerah. Setelah
sekitar empat bulan lamanya saya menanti kabar baik tentang
dimuatnya artikel saya, akhirnya hal itu sungguh terjadi. Penantian
saya pun berakhir. Suatu ketika Bapak Kukuh mengabarkan
berita yang sangat indah bagi saya bahwa artikel yang saya buat
pertama kali itu justru baru dimuat oleh redaksi setelah empat
bulan lamanya.
Mengetahui hal itu saya
sangat terkejut hampir tak percaya bahwa tulisan saya telah dimuat.
Padahal saya sudah merasa putus asa dan ingin menyerah. Apa yang
selama ini saya anggap sebagai tindakan yang sia-sia sekarang telah
berubah. Dengan dimuatnya artikel tersebut saya jadi dapat merasakan
bahwa perbuatan menulis yang telah saya lakukan selama ini adalah
suatu kegiatan yang bermanfaat. Ketika tulisan yang saya buat dimuat
dan dapat dibaca oleh orang lain, saya dapat merasakan bahwa diri
saya ini sungguh berarti bagi Allah dan orang lain yang membaca
tulisan saya. Karena dengan menulis saya dapat menjadi "terang"
bagi dunia. Amin.