Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm@glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Menjadi Terang
Oleh: Febe Kurniasari


Pada waktu saya menulis artikel ini saya tak tahu harus berkata apa. Hal yang selama ini tak kupercaya ternyata benar-benar nyata terjadi dalam kehidupan saya untuk kedua kalinya.

Saya memulai karier menulis dengan menjadi penulis kolomnis di glorianet, kolom kita. Saya menulis dengan dibimbing oleh guru saya di sekolah yang bernama Bapak Kukuh Widyatmoko, yang juga merupakan salah seorang penulis kolomnis glorianet. Dengan penuh kesabaran dan kerendahan hati beliau bersedia untuk membimbing, mengarahkan, serta meluangkan waktu bagi saya agar saya menjadi termotivasi untuk menulis.

Sampai hari ini saya tak tahu mengapa benih menulis diberikan oleh Allah kepada saya melalui beliau. Padahal mulanya saya merasa bahwa sama sekali saya tak memiliki bakat dalam hal menulis. Penguasaan struktur tata bahasa juga boleh dibilang tidak saya kuasai dengan baik.

Namun beliau berhasil memupuk motivasi saya agar tetap terus-menerus mau belajar menulis. Beliau berkata bakat 1 persen usaha 99 persen. Mulanya saya dihimbau untuk menulis segala apa yang saya rasakan dan kerjakan dalam sehari. Selang beberapa minggu beliau menghimbau saya untuk menulis artikel pada situs glorianet. Saya pun akhirnya menulis artikel pertama saya ke glorianet dengan judul "Karakter Berakar Dari Kebiasaan". Saya tunggu-tunggu artikel tersebut belum dimuat-muat juga. Tapi saya tidak menyerah. Saya terus menulis artikel-artikel lain dengan harapan artikel yang saya  buat berikutnya itu lebih baik dari artikel yang sebelumnya, dan akhirnya artikel saya ada yang dimuat oleh redaksi. Tetapi sampai dengan saat saya telah mengirim artikel yang ke lima tak ada satu pun artikel saya yang dimuat oleh redaksi. Melihat kenyataan itu, mulai timbul perasaan ingin menyerah dalam hati. Saya berpikir kalau memang saya tidak bisa menulis kenapa harus terus memaksakan diri? Dari pada saya menghasilkan sesuatu yang sia-sia, bukankah lebih baik menyerah?

Tanpa saya sadari tatkala ingin menyerah ternyata kenyataan berbicara lain. Rupanya saya tak diijinkan untuk menyerah. Setelah sekitar empat bulan lamanya saya menanti kabar baik tentang dimuatnya artikel saya, akhirnya hal itu sungguh terjadi. Penantian saya pun berakhir. Suatu ketika Bapak Kukuh mengabarkan berita yang sangat indah bagi saya bahwa artikel yang saya buat pertama kali itu justru baru dimuat oleh redaksi setelah empat bulan lamanya.

Mengetahui hal itu saya sangat terkejut hampir tak percaya bahwa tulisan saya telah dimuat. Padahal saya sudah merasa putus asa dan ingin menyerah. Apa yang selama ini saya anggap sebagai tindakan yang sia-sia sekarang telah berubah. Dengan dimuatnya artikel tersebut saya jadi dapat merasakan bahwa perbuatan menulis yang telah saya lakukan selama ini adalah suatu kegiatan yang bermanfaat. Ketika tulisan yang saya buat dimuat dan dapat dibaca oleh orang lain, saya dapat merasakan bahwa diri saya ini sungguh berarti bagi Allah dan orang lain yang membaca tulisan saya. Karena dengan menulis saya dapat menjadi "terang" bagi dunia. Amin.