|
Seni Melamun dan Menerawang
Oleh: Alison Subiantoro
Melamun
adalah suatu perbuatan yang cenderung berkonotasi negatif di masa
serba sibuk ini. Ini karena adanya persepsi bahwa ketika melamun,
orang tidak produktif, tidak menghasilkan apa-apa, zero
productivity! Tapi benarkah demikian? Mari kita telaah sedikit
lebih dalam.
Secara asal, melamun dapat dibagi dalam 3 jenis.
Yang pertama adalah melamun kosong, yang berarti
pikiran benar2 kosong, melompong, plong! Jenis ini kabarnya, menurut
orang-orang jaman dulu, berbahaya karena bisa kesambet
setan!!!
Tipe melamun yang kedua adalah melamun negatif.
Tipe ini dicirikan dengan pikiran yang menerawang ke hal-hal yang
tidak baik. Contoh lamunan jenis ini adalah bejo (bengong jorok), melamuni nasib (self-pity), dsb.
Dua tipe melamun yang pertama ini tentu memang cocok dengan konotasi
negatif yang telah saya sebut di awal. Bayangkan saja bagaimana
terganggunya performa seorang pekerja yang sedang patah hati
sehingga jadi sering melamuni nasibnya di kantor. Wah, si bos dan
kolega pasti akan menyuruh dia untuk ambil cuti saja dulu.
Tapi untungnya, ada tipe melamun yang ketiga
yang saya beri nama melamun produktif. Di sini, pikiran seseorang
menerawang ke hal-hal yang baik dan berguna.
Simak saja kesaksian seseorang yang karena kebiasaannya melamunkan
(baca: merenungkan) firman Tuhan siang dan malam, hidupnya menjadi
bak sebuah pohon yang tumbuh di tepi aliran air, yang berbuah lebat
pada musimnya (Mzm 1:2).
Kalau demikian, alangkah baiknya sebetulnya melamun yang benar itu!
Apalagi ketika dalam lamunan itu pikiran kita menerawang masuk ke
dalam pikiran Allah. Sebab di situ banyak rahasia dan perspektif
baru yang akan tersingkapkan oleh terang firman-Nya.
Karena itu, marilah kita sering-sering membawa pikiran kita
menerawang masuk ke dalam firman-Nya.
|