|
Ia Mendidik Saya Juga
Oleh: Ester SW
Baru beberapa bulan ini saya mengajar di sebuah sekolah
menengah. Setelah bertahun-tahun tidak bersentuhan dengan dunia
remaja mau tak mau saya harus memutar kembali memori semasa sma
dulu. Saya berusaha mengingat-ingat kembali bagaimana rasanya
menjadi anak ABG dan persoalan-persoalan apa saja yang biasa
dihadapi. Selama minggu-minggu pertama penyesuaian banyak hal baru
yang saya temukan. Saya mendapati bahwa anak remaja sekarang berbeda
dengan jaman saya yang terentang waktu 12 tahun dari mereka. Sikap
hormat dan takut kepada guru mulai luntur tergantikan oleh persoalan
komplek yang telah mereka hadapi di usia mereka. Tetapi tidak
dipungkiri masa-masa sma memang masa yang penuh warna, canda dan
tawa. Kadang-kadang tingkah murid-murid membuat saya tertawa
sehingga sedikit mengurangi kejengekaln saya saat menghadapi mereka.
Setelah lewat satu dua bulan anak-anak kelas satu yang
awalnya manis kini menunjukkan kebandelan mereka. Sering saya
mendapati tatapan mata tidak suka ketika saya menghukum murid yang
berbuat kesalahan. Di lain waktu muncul ekspresi kekesalan dan mulut
yang cemberut ketika saya memberikan tugas yang tidak mereka sukai.
Terkadang saya menerima gerutu mereka jika saya menerapkan aturan
yang tegas kepada mereka. Diperlukan energi ekstra untuk menghadapi
mereka. Kadang harus teriak-teriak menyuruh mereka tenang, harus
berulang kali menerangkan supaya mereka mengerti, harus menegur
mereka supaya mereka menyadari kesalahan mereka. Ketika mendapati
ada murid yang tidak mengerjakan PR, mau tak mau itu membuat saya
marah karena mereka tidak menyadari bahwa menegrjakan PR bukanlah
untuk kepentingan saya melainkan untuk kebaikan mereka sendiri, dan
akhirnya dengan kesal menyuruh mereka lari mengelilingi lapangan (awalnya
males juga memberi hukuman fisik, tapi hukuman fisik ternyata lebih
mempan). Mungkin penyebab stroke, serangan jantung, hipertensi
bukan hanya rokok, tapi juga murid yang bandel. Semua itu membuat
saya menyadari bahwa tugas sebagai pendidik memang tidak mudah.
Kadang kala sikap mereka membuat saya sendiri merasa tidak enak
hati, tapi apa boleh buat semua itu harus diterima untuk kebaikan
mereka.
Ketika saya renungkan, saya teringat bagaimana Yesus menerima
tanggapan yang sangat tidak menyenangkan dari ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi. Ketika Dia datang kepada milik-Nya sendiri Dia
ditolak. Mereka tidak tahu bahwa kedatangan-Nya sesungguhnya untuk
kepentingan mereka. Ia datang untuk menyelamatkan mereka dari
hukuman kekal. Bahkan mereka menganggap Yesus hanyalah guru yang
hebat atau hanya seorang nabi. Mata mereka tertutup dan hati mereka
bebal sehingga tidak menyadari bahwa Yesus adalah Mesias yang
dijanjikan itu, Yesus adalah Allah sendiri.
Dan ketika saya kembali kepada diri saya sendiri saya merasa
tertegur karena sering kali sikap saya terhadap Dia juga tidak baik.
Saya sering protes ketika Dia mengijinkan saya mengalami sesuatu
yang tidak menyenangkan. Saya sering bertanya, “Mengapa saya yang
harus mengalami ini, mengapa bukan dia?” Terkadang saya tidak mau
menerima didikan dan perlakuan-Nya kepada saya. Saya tidak mengerti
bahwa Dia mengerjakan semua itu untuk kebaikan saya. Dia tidak ingin
saya jatuh dalam dosa dan terluka karena menuruti keinginan hati
saya sendiri. Dia ingin membentuk saya sebagai pribadi yang indah
dan berkenan di hadapan-Nya. Dan semua itu membuat Dia harus
menempa, menekuk, mengupas, mengeluarkan, atau bahkan menghancurkan
bagian-bagian hidup saya yang menghambat pertumbuhan iman saya.
Semua itu dilakukan karena Dia mengasihi saya. Tidak ada satu pun
niat jahat dalam diri-Nya. Ia sedang membuat tanah liat menjadi
periuk yang berharga. Sama seperti saya memandang murid-murid saya
dan tidak ingin hidup mereka hancur karena kesalahan tolol yang
mereka lakukan, begitu pula Allah. Ia mendidik saya karena saya
anak-Nya.
|