|
Bencana dan Peran Gereja
Oleh: Alison Subiantoro
Ketika
tulisan ini ditulis,
Jakarta
sedang mengalami banjir bandang. Bencana terbaru ini terasa seperti
bagian dari rentetan bencana yang terus menghantam
Indonesia
secara berkelanjutan beberapa tahun belakangan ini. Selain banjir
ini, sebut saja gempa yang mengguncang banyak lokasi di Indonesia,
tsunami yang menggulung Aceh, Nias dan Yogya, lumpur panas yang
menyembur tak terbendung di Sidoarjo, kebakaran hutan yang tak mampu
lagi diatasi di Kalimantan dan Sumatra, letusan gunung berapi, dan
segala bencana alam lainnya. Belum lagi bencana-bencana kecelakaan
seperti jatuhnya pesawat Adam Air, kecelakaan kereta api,
tenggelamnya kapal laut, dsb.
Tak heran ada yang bergumam bahwa negara yang
dulu dipuja-puja sebagai surga dunia, tempat dimana tongkat kayu dan
batu jadi tanaman, pulau kelapa yang sangat subur, tanah air yang
aman dan makmur, sekarang seakan menjadi neraka dunia, tempat dimana
segala masalah dapat dijumpai.
Menanggapi situasi ini, saya mencoba merenungkan
mengenai apa yang seharusnya Gereja (baik sebagai persekutuan
seluruh orang percaya maupun sebagai organisasi resmi) lakukan.
Saya sadari bahwa usaha mencari penyebab semua
bencana itu secara teologis seringkali mustahil, sama seperti Ayub
yang sampai akhir tetap tidak memperoleh penjelasan dari Tuhan
mengenai penderitaan yang dialaminya. Namun demikian, justru karena
ketidakmampuannya itulah akhirnya Ayub memiliki pengenalan yang
makin benar tentang Allah (Ay 42:5). Sehingga, saya pikir mungkin
hal pertama yang harus Gereja lakukan adalah berdoa dan meminta iman
untuk percaya bahwa Tuhan tetap berkuasa.
Hal lain yang saya pikir perlu digumulkan secara
serius adalah mengenai peran Gereja dalam kehidupan berbangsa dan
bermasyarakat di
Indonesia
. Saya khawatir jangan-2 peran Gereja semakin tidak terasa bagi
kemajuan bangsa
Indonesia
. Gereja mungkin dinilai egois, tidak peduli dengan realita
kehidupan masyarakat
Indonesia
. Kalau memang kekhawatiran saya ini benar, situasi
Indonesia
saat ini mungkin adalah suatu tugas ilahi sekaligus kesempatan untuk
Gereja kembali menjalankan perannya sebagai saluran berkat bagi
seluruh rakyat
Indonesia
. Untuk kembali menjadi perpanjangan tangan Tuhan yang menjamah
semua orang, tanpa peduli apapun latar belakang agamanya, sukunya,
rasnya, dsb. Untuk menghadirkan damai (shalom) Kerajaan Allah itu di
Indonesia
.
Namun, kemudian muncul ketakutan saya,
kalau-kalau Gereja
Indonesia
tetap menutup matanya dan tidak bertindak sehingga akhirnya
dicampakkan Tuhan dari bumi
Indonesia
karena ketidaktaatannya seperti ancaman-Nya pada Gereja di Wahyu
3:14-22 …
|