Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Perumpamaan Tentang Talenta Dipandang Dari Sudut Waktu
Oleh: Haskel Wicaksono


“Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Matius 25:30

Perumpamaan tentang talenta adalah perumpamaan yang jelas sekali menggambarkan tentang penggunaan waktu. Matius 24-25 dikelompokkan oleh Matius sebagai ajaran mengenai “Akhir Zaman”. Kata “akhir” tentu berkaitan banget dengan waktu. Kecuali Tuhan, semua mahluk punya awal tetapi juga punya akhir. Alkitab jelas-jelas mengatakan bahwa waktu akan berakhir. Lalu kata “zaman” juga menunjukkan bahwa kita hidup dalam kronologis waktu selama bertahun-tahun yang disebut sebagai zaman. Ternyata zaman yang kita jalani tidak berjalan terus-menerus. Suatu saat, akan berakhir. The End, Tamat, seperti di film, atau Game Over seperti di game.

Dalam kelompok pengajaran ini, semua berisi tentang sikap kita menjelang akhir dari zaman ini. Ternyata bukan menghitung-hitung, atau menebak-nebak sambil melihat tanda zaman lalu main ramal-ramalan kapan zaman ini berakhir. Tetapi lebih kepada tanggung jawab kita dalam bekerja sambil menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Ternyata yang kita dapatkan cuma kerja…kerja…kerja…dan berjaga-jaga. Salah satu respon dalam bekerja adalah dengan mengembangkan talenta. Talenta, bukan cuma sekadar bakat, entah bakat nyanyi, kotbah, atau pintar main musik. Tetapi lebih kepada sikap hidup kita secara keseluruhan, dengan memaksimalkan seluruh hidup kita bagi Tuhan.

Pertama, kisah perumpamaan ini berkaitan dengan seorang tuan yang mau bepergian dan mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Jadi, ceritanya hamba-hamba itu cuma punya kesempatan setelah sang tuan pergi, dan sebelum sang tuan datang lagi. Apalagi sang tuan nggak bilang kapan dia akan balik. Tapi, toh hamba-hambanya tidak ada yang bertanya, sang tuan juga cuma menyuruh…just do it. Nah, mirip bukan dengan Tuhan Yesus? Ternyata kita juga punya waktu setelah kebangkitan-Nya sampai Ia datang kembali. Ya ampuuun…ternyata udah lebih dari 2000 tahun Ia “pergi”. Dan Ia tidak bilang kapan akan datang lagi. Dari 2000 tahunan itu, kita cuma punya kavling paling-paling 60 atau 70 tahunan. Bisa lebih, bisa kurang dari itu. Murid remaja saya dulu meninggal usia 17. Ada bayi yang baru lahir cuma beberapa jam sudah dipanggil Tuhan. Aduh, ternyata kapan hidup ini akan berakhir tidak ada yang tahu. Apakah akhir hidup kita berbarengan sama akhir dari zaman ini? Nggak tau…yang jelas waktu sekarang ini memang zaman akhir, sebentar lagi game over

Kedua, kita belajar mengenai hamba-hamba yang menggunakan waktu dan buang-buang waktu. Yang menggunakan waktu, bisa berkembang dan menyenangkan hati tuannya. Yang buang kesempatan? Yah, ketika ditanyai cuma bilang “peristiwa penguburan”, yaitu mengubur talenta yang di percayakan. Malas. Padahal ia bisa mendelegasikan yang tidak ia mampu pada manager keuangan, sehingga talenta yang dipercayakan tetap berkembang. Sang tuan tidak menuntut jumlah keuntungan tertentu, kan? Nampaknya yang punya 5 talenta bisa dapat lebih dari itu, demikian pula yang cuma punya dua talenta. Tetapi tidak dihukum, bukan? Ternyata bukan masalah keuntungan setimpal, tetapi masalah kemalasan yang jadi keberatan sang tuan. Mirip dengan kita yang sudah dianugrahi hidup tapi tidak punya respon sama sekali.

Ketiga, baik hamba yang malas maupun yang rajin berakhir dalam kekekalan. Yang rajin akhirnya masuk dalam kebahagiaan sang tuan dalam kekekalan. Yang malas juga kekal, tapi kekal siksaannya. Dia dianggap tidak berguna dan dicampakkan dalam kegelapan yang paling gelap.

Jadi, sebelum waktu kita berakhir di dunia, dan masuk dalam kekekalan, kita punya pilihan. Mari kita hayati hidup ini. Kita mau hidup dalam kekekalan di dalam kegelapan yang paling gelap, atau hidup dalam kekekalan bersama sang tuan. Caranya, dengan mempertanggungjawabkan hidup di masa kini. Ternyata apa yang akan kita alami nanti sangat berkaitan dengan apa yang kita lakukan kini. Tekanannya ada pada doing yang diawali konsep yang benar. Lihat apa yang dikeluhkan sang tuan melihat hamba yang malas. Apakah karena ia tidak bisa mengembangkan talentanya? Bukan…tetapi karena sikap sang hamba. Pikirannya dipenuhi oleh sikap negatif yang berbuntut penguburan talenta. Tetapi sikap yang benar selalu berbuah doing, yang merupakan bentuk responsibility kita terhadap talenta yang Tuhan berikan.

Jika Kristus ada di dalam hati kita, masa’ sih kita tidak punya hasrat untuk bekerja bagi Dia?