“Dan
campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang
paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”
Matius 25:30Perumpamaan
tentang talenta adalah perumpamaan yang jelas sekali menggambarkan
tentang penggunaan waktu. Matius 24-25 dikelompokkan oleh Matius
sebagai ajaran mengenai “Akhir Zaman”. Kata “akhir” tentu
berkaitan banget dengan waktu. Kecuali Tuhan, semua mahluk punya
awal tetapi juga punya akhir. Alkitab jelas-jelas mengatakan bahwa
waktu akan berakhir. Lalu kata “zaman” juga menunjukkan bahwa
kita hidup dalam kronologis waktu selama bertahun-tahun yang disebut
sebagai zaman. Ternyata
zaman yang kita jalani tidak berjalan terus-menerus. Suatu saat,
akan berakhir. The
End, Tamat,
seperti di film, atau Game Over seperti di game.
Dalam kelompok pengajaran ini, semua berisi tentang sikap kita menjelang
akhir dari zaman ini. Ternyata bukan menghitung-hitung, atau
menebak-nebak sambil melihat tanda zaman lalu main ramal-ramalan
kapan zaman ini berakhir. Tetapi lebih kepada tanggung jawab kita
dalam bekerja sambil menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.
Ternyata yang kita dapatkan cuma kerja…kerja…kerja…dan
berjaga-jaga. Salah satu respon dalam bekerja adalah dengan
mengembangkan talenta. Talenta, bukan cuma sekadar bakat, entah
bakat nyanyi, kotbah, atau pintar main musik. Tetapi lebih kepada
sikap hidup kita secara keseluruhan, dengan memaksimalkan seluruh
hidup kita bagi Tuhan.
Pertama,
kisah perumpamaan ini berkaitan dengan seorang tuan yang mau
bepergian dan mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya. Jadi,
ceritanya hamba-hamba itu cuma punya kesempatan setelah sang tuan
pergi, dan sebelum sang tuan datang lagi. Apalagi sang tuan nggak
bilang kapan dia akan balik. Tapi, toh hamba-hambanya tidak ada yang
bertanya, sang tuan juga cuma menyuruh…just do it. Nah,
mirip bukan dengan Tuhan Yesus? Ternyata kita juga punya waktu
setelah kebangkitan-Nya sampai Ia datang kembali. Ya
ampuuun…ternyata udah lebih dari 2000 tahun Ia “pergi”. Dan Ia
tidak bilang kapan akan datang lagi. Dari 2000 tahunan itu, kita
cuma punya kavling paling-paling 60 atau 70 tahunan. Bisa lebih,
bisa kurang dari itu. Murid remaja saya dulu meninggal usia 17. Ada
bayi yang baru lahir cuma beberapa jam sudah dipanggil Tuhan. Aduh,
ternyata kapan hidup ini akan berakhir tidak ada yang tahu. Apakah
akhir hidup kita berbarengan sama akhir dari zaman ini? Nggak
tau…yang jelas waktu sekarang ini memang zaman akhir, sebentar
lagi game over…
Kedua,
kita belajar mengenai hamba-hamba yang menggunakan waktu dan
buang-buang waktu. Yang menggunakan waktu, bisa berkembang dan
menyenangkan hati tuannya. Yang buang kesempatan? Yah, ketika
ditanyai cuma bilang “peristiwa penguburan”, yaitu mengubur
talenta yang di percayakan. Malas. Padahal ia bisa mendelegasikan
yang tidak ia mampu pada manager keuangan, sehingga talenta yang
dipercayakan tetap berkembang. Sang tuan tidak menuntut jumlah
keuntungan tertentu, kan? Nampaknya yang punya 5 talenta bisa dapat
lebih dari itu, demikian pula yang cuma punya dua talenta. Tetapi
tidak dihukum, bukan? Ternyata bukan masalah keuntungan setimpal,
tetapi masalah kemalasan yang jadi keberatan sang tuan. Mirip dengan
kita yang sudah dianugrahi hidup tapi tidak punya respon sama
sekali.
Ketiga,
baik hamba yang malas maupun yang rajin berakhir dalam kekekalan.
Yang rajin akhirnya masuk dalam kebahagiaan sang tuan dalam
kekekalan. Yang malas juga kekal, tapi kekal siksaannya. Dia
dianggap tidak berguna dan dicampakkan dalam kegelapan yang paling
gelap.
Jadi,
sebelum waktu kita berakhir di dunia, dan masuk dalam kekekalan,
kita punya pilihan. Mari kita hayati hidup ini. Kita mau hidup dalam
kekekalan di dalam kegelapan yang paling gelap, atau hidup dalam
kekekalan bersama sang tuan. Caranya, dengan mempertanggungjawabkan
hidup di masa kini. Ternyata apa yang akan kita alami nanti sangat
berkaitan dengan apa yang kita lakukan kini. Tekanannya ada pada doing
yang diawali konsep yang benar. Lihat apa yang dikeluhkan sang tuan
melihat hamba yang malas. Apakah
karena ia tidak bisa mengembangkan talentanya? Bukan…tetapi karena
sikap sang hamba. Pikirannya dipenuhi oleh sikap negatif yang
berbuntut penguburan talenta. Tetapi sikap yang benar selalu berbuah
doing, yang merupakan bentuk responsibility kita
terhadap talenta yang Tuhan berikan.
Jika
Kristus ada di dalam hati kita, masa’ sih kita tidak punya hasrat
untuk bekerja bagi Dia?