Kehilangan
adalah salah satu perasaan yang paling saya ngga suka, perasaan
paling ngga enak dan menyakitkan menurut saya (mungkin menurut
banyak orang juga). Rasanya ngga rela dan berat banget untuk
melepaskan sesuatu yang berarti atau berharga buat kita, apalagi
orang yang kita sayang…
Biasanya
saat mengalami kehilangan, manusia akan bertanya “Kenapa saya
harus kehilangan? Kenapa keadaan ga bisa seperti dulu lagi? Kenapa
dia pergi/berubah? Kenapa Tuhan ambil dia dariku? Kenapa, kenapa,
kenapa??? ... dan segudang kenapa lainnya. Dulu saya pun begitu.
Tapi kini Tuhan mengajarkan saya untuk melihat kehilangan dari sisi
yang berbeda, yaitu sebagai bagian dari rencana indah Tuhan buat
kita.
Bagian
dari “rencana indah” Tuhan? Ga salah? Kehilangan kok dibilang
rencana indah? Teman-teman, izinkan saya bercerita lebih lanjut.
Sekitar
1 tahun terakhir ini saya deket sama seseorang. Dia benar-benar
seorang sahabat yang baik buat saya. Dia perhatian dan selalu bisa
menghibur saya pada waktu saya bete atau sedih, memberi dukungan dan
semangat saat saya lelah dan perlu kekuatan, dan dia juga menegur
serta mengingatkan saya ketika saya mulai error, mengembalikan akal
sehat saya lagi.
Saking
seringnya kami kontak (hampir tiap hari), secara ngga sadar saya
jadi sangat terbiasa dengan keberadaannya. *padahal dulu kenal aja
kagak huehehe...*
Sampai tahun lalu menjelang saya sidang, frekuensi kami kontak
mulai berkurang. Saya sendiri ngga terlalu jelas penyebabnya,
mungkin karena kami sama-sama lagi sibuk-sibuknya semester itu.
Menjelang saya sidang pun ngga ada dukungan seperti yang saya
harapkan (seperti yang biasanya saya terima) dari dia. Waktu itulah
saya pertama kalinya merasa bener-bener kehilangan dia, walaupun
kami masih kontak kadang-kadang.
Setelah
lulus (6 bulan lalu), saya lanjut belajar bahasa ke
China. Dia ngga ikut nganter saya karena ngga bisa. Udah gitu,
sebelum saya berangkat dia ngga nyariin saya pula, padahal
temen-temen saya yang lain justru pengen ketemu sebelum saya pergi.
*ya sedih, ya sebel, tapi ya udah mau gimana lagi hehehe.*
Waktu
itu sebenernya saya berat sekali pergi, karena seluruh hidup saya
ada di
Indonesia
. Selain itu, saya tau bahwa jarak dan waktu bisa membuat sesuatu
berubah. Saya sudah menyiapkan diri saya untuk itu, tapi ada
sebagian diri saya yang ngga ingin kehilangan dia, ga ingin keadaan
berubah.
Selama
saya di
China
kami jarang sekali kontak, sampai pas libur bulan lalu saya pulang
ke
Indonesia
. Pada waktu saya pulang, dia keliatannya sih senang…
*keliatannya, tapi ga tau sebenernya hehehe* tapi kita jarang banget
contact. Sampai saya balik lagi ke
China
, saya cuma ketemu dia 3 kali, itu juga sebentaarr banget.
Teman-teman,
selama libur 1 bulan di Indo, saya berasa banget perbedaan “dulu
dan sekarang.” Selama di China saya memang terbiasa ngga contact
sama dia, tapi saat di Indo dan keadaan sudah ngga sama dengan dulu,
kehilangan itu jadi lebih terasa.
Sebelum
saya balik lagi ke
China
, sekali lagi saya ingatkan diri saya sendiri akan “resiko jarak
dan waktu” yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Dengan
“sok” tegar saya bilang sama Tuhan: “Tuhan, kalo setelah ini
saya jadi makin jauh dan akhirnya saya benar-benar kehilangan dia,
saya rela berserah pada kehendak-Mu.” Tapi tetep aja, melepas itu
berat... Uda bilang berserah, tapi saya masih berpikir untuk terus
contact sama dia huehehe.. Sampai akhirnya Tuhan mengingatkan saya
untuk benar-bener melepas & berserah.
Hari
minggu lalu, waktu saya latihan koor setelah kebaktian (misa), salah
1 teman orang Filipina yang biasa main gitar tiba-tiba bilang:
“Stella, bulan lalu kita sering nyanyi lagu Don Moen lho, sayang
sekali kamu ngga ada.” Lalu dia mengeluarkan 1 teks lagu untuk
dinyanyiin minggu depan: I Offer My Life.
Begitu liat, rasanya “Doeenkk…jleb jleb!!” =b
Dalam hati saya: “Iya, saya diingetin ama Tuhan.”
Malemnya,
sate dulu ah sebelum tidur… buka renungan, judulnya “Segala
sesuatu harus dilepaskan”
hmphh…jleb jleb jleb!!!
Nas-nya:
”Yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak
dapat menjadi muridKu.”
(Luk 14:33b)
Jleb
jleb jleb jleb!!!!
Semua
teguran itu membuat saya benar2 sadar… Segala sesuatu yang kita
miliki adalah pemberian Tuhan. Kepunyaan kita : harta benda, orang
tua, saudara, teman, sahabat, kesehatan, kemampuan, kepandaian,
dsb.. semuanya adalah anugerah Tuhan buat kita, jadi sesungguhnya
semua itu (memang) milik Tuhan. Dan karena itu kepunyaan Tuhan, Dia
berhak jika ingin mengambilnya kembali.
Teman-teman,
kalau Tuhan kasih kita sesuatu, atau Tuhan izinkan kita untuk
ketemu, kenal, dan deket dengan seseorang, Tuhan pasti punya rencana
tersendiri untuk kita. Supaya kita belajar dari mereka, supaya
saling membentuk. Demikian juga jika kita kehilangan, Tuhan pasti
punya tujuan bagi kita masing-masing.
Kadang-kadang
(ngga selalu), sesuatu itu akan lebih terasa artinya jika sesuatu
itu tidak ada. Dari kehilangan yang kita alami, Tuhan mau kita
belajar bersyukur atas apa yang (pernah) kita miliki, bersyukur atas
anugerah-Nya buat kita. Benar-benar bersyukur!
Dia
juga mau kita belajar untuk menyerahkan segala sesuatu ke dalam
tangan-Nya. Apa yang kita punya itu cuma “dititipin,” jadi
jangan pelit kalo Dia mau mengambil lagi milik-Nya itu.
Dan karena kita “dititipin”, kita juga harus belajar
untuk bertanggung jawab kepada Sang Pemilik, dengan menghargai dan
menjaga baik-baik pemberian-Nya.
Dulu,
seorang sahabat saya pernah bilang: “jangan terlalu sayang sama
sesuatu, karena Tuhan bisa ambil itu dari kamu.” Sebenernya
omongan dia BUKAN berarti kita jangan menyayangi sesuatu. Justru
kita harus bersyukur dan menyayangi (mengasihi) milik kita. Tapi
inget, tempat pertama & yang utama di hati kita harus Tuhan.
Kalo
kita terlalu sayang sama sesuatu, sesuatu itu bisa jadi berhala buat
kita. Maksudnya, kita lebih menganggap penting sesuatu itu daripada
Tuhan. Mungkin kita ngga sadar, tapi itu bahaya. Lama-lama, kita
akan lebih bergantung sama sesuatu itu daripada sama Tuhan. Tuhan
ngga ingin itu terjadi, karena itulah Tuhan mengizinkan kita
mengalami kehilangan. Bukan karena Tuhan jahat dan mau menghukum
kita dengan perasaan sakit yang menyiksa, ngga!! Justru karena Dia
sangat mengasihi kita, Dia ingin menjaga kita, jadi Dia ingin kita
bergantung & berlindung kepada-Nya.
Teman-teman, saya sudah kehilangan orang yang berarti buat saya
beberapa kali. Setiap kehilangan memang selalu sakit & melepas
memang ngga segampang itu. Tapi kalau kita mau untuk merelakan
segala milik kita jadi milik Tuhan, yakinlah Dia akan jaga semuanya
untuk kita. Tuhan mau mengangkat beban kita, jadi buat apa kita
terus membiarkan diri kita terbeban karena sesuatu yang kita genggam
terlalu kencang? Bebaskan diri kita dari belenggu yang mengikat
kita, dan kita akan melangkah dengan ringan bersama-Nya… =)
I
OFFER MY LIFE
All
that I am, all that I have
I lay them down before You o Lord
All my regrets, all my acclaim
The joy and the pain
I'm making them Yours
Things in the past, things yet unseen
Wishes and dreams that are yet to come true
All of my hopes, all of my plans
My heart and my hands are lifted to You
Lord I offer my life to You
Everything I've been through use it for Your glory
Lord I offer my days to You, Lifting my praise to You
As a pleasing sacrifice
Lord I offer You my life
“Tetapi
apa yang dulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi…
karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada
semuanya.“
(Fil 3:7a, 8a)
Kini
hatiku lepas dan ringan…Terima kasih, Pa… ^_^
-
China
, 7 Maret 2007 -