Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Kehilangan: Belajar Melepas Segala Sesuatu
Oleh: Stella Claudia


Kehilangan adalah salah satu perasaan yang paling saya ngga suka, perasaan paling ngga enak dan menyakitkan menurut saya (mungkin menurut banyak orang juga). Rasanya ngga rela dan berat banget untuk melepaskan sesuatu yang berarti atau berharga buat kita, apalagi orang yang kita sayang…

Biasanya saat mengalami kehilangan, manusia akan bertanya “Kenapa saya harus kehilangan? Kenapa keadaan ga bisa seperti dulu lagi? Kenapa dia pergi/berubah? Kenapa Tuhan ambil dia dariku? Kenapa, kenapa, kenapa??? ... dan segudang kenapa lainnya. Dulu saya pun begitu. Tapi kini Tuhan mengajarkan saya untuk melihat kehilangan dari sisi yang berbeda, yaitu sebagai bagian dari rencana indah Tuhan buat kita.

Bagian dari “rencana indah” Tuhan? Ga salah? Kehilangan kok dibilang rencana indah? Teman-teman, izinkan saya bercerita lebih lanjut.

Sekitar 1 tahun terakhir ini saya deket sama seseorang. Dia benar-benar seorang sahabat yang baik buat saya. Dia perhatian dan selalu bisa menghibur saya pada waktu saya bete atau sedih, memberi dukungan dan semangat saat saya lelah dan perlu kekuatan, dan dia juga menegur serta mengingatkan saya ketika saya mulai error, mengembalikan akal sehat saya lagi.

Saking seringnya kami kontak (hampir tiap hari), secara ngga sadar saya jadi sangat terbiasa dengan keberadaannya. *padahal dulu kenal aja kagak huehehe...*  Sampai tahun lalu menjelang saya sidang, frekuensi kami kontak mulai berkurang. Saya sendiri ngga terlalu jelas penyebabnya, mungkin karena kami sama-sama lagi sibuk-sibuknya semester itu. Menjelang saya sidang pun ngga ada dukungan seperti yang saya harapkan (seperti yang biasanya saya terima) dari dia. Waktu itulah saya pertama kalinya merasa bener-bener kehilangan dia, walaupun kami masih kontak kadang-kadang.

Setelah lulus (6 bulan lalu), saya lanjut belajar bahasa ke China. Dia ngga ikut nganter saya karena ngga bisa. Udah gitu, sebelum saya berangkat dia ngga nyariin saya pula, padahal temen-temen saya yang lain justru pengen ketemu sebelum saya pergi. *ya sedih, ya sebel, tapi ya udah mau gimana lagi hehehe.*

Waktu itu sebenernya saya berat sekali pergi, karena seluruh hidup saya ada di Indonesia . Selain itu, saya tau bahwa jarak dan waktu bisa membuat sesuatu berubah. Saya sudah menyiapkan diri saya untuk itu, tapi ada sebagian diri saya yang ngga ingin kehilangan dia, ga ingin keadaan berubah.

Selama saya di China kami jarang sekali kontak, sampai pas libur bulan lalu saya pulang ke Indonesia . Pada waktu saya pulang, dia keliatannya sih senang… *keliatannya, tapi ga tau sebenernya hehehe* tapi kita jarang banget contact. Sampai saya balik lagi ke China , saya cuma ketemu dia 3 kali, itu juga sebentaarr banget.

Teman-teman, selama libur 1 bulan di Indo, saya berasa banget perbedaan “dulu dan sekarang.” Selama di China saya memang terbiasa ngga contact sama dia, tapi saat di Indo dan keadaan sudah ngga sama dengan dulu, kehilangan itu jadi lebih terasa.

Sebelum saya balik lagi ke China , sekali lagi saya ingatkan diri saya sendiri akan “resiko jarak dan waktu” yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Dengan “sok” tegar saya bilang sama Tuhan: “Tuhan, kalo setelah ini saya jadi makin jauh dan akhirnya saya benar-benar kehilangan dia, saya rela berserah pada kehendak-Mu.” Tapi tetep aja, melepas itu berat... Uda bilang berserah, tapi saya masih berpikir untuk terus contact sama dia huehehe.. Sampai akhirnya Tuhan mengingatkan saya untuk benar-bener melepas & berserah.

Hari minggu lalu, waktu saya latihan koor setelah kebaktian (misa), salah 1 teman orang Filipina yang biasa main gitar tiba-tiba bilang: “Stella, bulan lalu kita sering nyanyi lagu Don Moen lho, sayang sekali kamu ngga ada.” Lalu dia mengeluarkan 1 teks lagu untuk dinyanyiin minggu depan: I Offer My Life. Begitu liat, rasanya “Doeenkk…jleb jleb!!” =b  Dalam hati saya: “Iya, saya diingetin ama Tuhan.”

Malemnya, sate dulu ah sebelum tidur… buka renungan, judulnya “Segala sesuatu harus dilepaskan”  hmphh…jleb jleb jleb!!!

Nas-nya: ”Yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.” (Luk 14:33b)

Jleb jleb jleb jleb!!!!

Semua teguran itu membuat saya benar2 sadar… Segala sesuatu yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Kepunyaan kita : harta benda, orang tua, saudara, teman, sahabat, kesehatan, kemampuan, kepandaian, dsb.. semuanya adalah anugerah Tuhan buat kita, jadi sesungguhnya semua itu (memang) milik Tuhan. Dan karena itu kepunyaan Tuhan, Dia berhak jika ingin mengambilnya kembali.

Teman-teman, kalau Tuhan kasih kita sesuatu, atau Tuhan izinkan kita untuk ketemu, kenal, dan deket dengan seseorang, Tuhan pasti punya rencana tersendiri untuk kita. Supaya kita belajar dari mereka, supaya saling membentuk. Demikian juga jika kita kehilangan, Tuhan pasti punya tujuan bagi kita masing-masing.

Kadang-kadang (ngga selalu), sesuatu itu akan lebih terasa artinya jika sesuatu itu tidak ada. Dari kehilangan yang kita alami, Tuhan mau kita belajar bersyukur atas apa yang (pernah) kita miliki, bersyukur atas anugerah-Nya buat kita. Benar-benar bersyukur!

Dia juga mau kita belajar untuk menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya. Apa yang kita punya itu cuma “dititipin,” jadi jangan pelit kalo Dia mau mengambil lagi milik-Nya itu. Dan karena kita “dititipin”, kita juga harus belajar untuk bertanggung jawab kepada Sang Pemilik, dengan menghargai dan menjaga baik-baik pemberian-Nya.

Dulu, seorang sahabat saya pernah bilang: “jangan terlalu sayang sama sesuatu, karena Tuhan bisa ambil itu dari kamu.” Sebenernya omongan dia BUKAN berarti kita jangan menyayangi sesuatu. Justru kita harus bersyukur dan menyayangi (mengasihi) milik kita. Tapi inget, tempat pertama & yang utama di hati kita harus Tuhan.

Kalo kita terlalu sayang sama sesuatu, sesuatu itu bisa jadi berhala buat kita. Maksudnya, kita lebih menganggap penting sesuatu itu daripada Tuhan. Mungkin kita ngga sadar, tapi itu bahaya. Lama-lama, kita akan lebih bergantung sama sesuatu itu daripada sama Tuhan. Tuhan ngga ingin itu terjadi, karena itulah Tuhan mengizinkan kita mengalami kehilangan. Bukan karena Tuhan jahat dan mau menghukum kita dengan perasaan sakit yang menyiksa, ngga!! Justru karena Dia sangat mengasihi kita, Dia ingin menjaga kita, jadi Dia ingin kita bergantung & berlindung kepada-Nya.

Teman-teman, saya sudah kehilangan orang yang berarti buat saya beberapa kali. Setiap kehilangan memang selalu sakit & melepas memang ngga segampang itu. Tapi kalau kita mau untuk merelakan segala milik kita jadi milik Tuhan, yakinlah Dia akan jaga semuanya untuk kita. Tuhan mau mengangkat beban kita, jadi buat apa kita terus membiarkan diri kita terbeban karena sesuatu yang kita genggam terlalu kencang? Bebaskan diri kita dari belenggu yang mengikat kita, dan kita akan melangkah dengan ringan bersama-Nya… =)

 

I OFFER MY LIFE

All that I am, all that I have
I lay them down before You o Lord
All my regrets, all my acclaim
The joy and the pain
I'm making them Yours

Things in the past, things yet unseen
Wishes and dreams that are yet to come true
All of my hopes, all of my plans
My heart and my hands are lifted to You

Lord I offer my life to You
Everything I've been through use it for Your glory
Lord I offer my days to You, Lifting my praise to You
As a pleasing sacrifice
Lord I offer You my life

“Tetapi apa yang dulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi… karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya.“ (Fil 3:7a, 8a)

Kini hatiku lepas dan ringan…Terima kasih, Pa… ^_^


- China , 7 Maret 2007 -