Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Nyanyi Sunyi Nyepi
Oleh: Elim Khiat


Malam sudah semakin larut. Dingin dan gelap. Hujan terdengar turun rintik-rintik, seakan-akan juga enggan untuk mengisi kekosongan malam, seiring dan seirama dengan kosongnya jalanan dan hampir seluruh tempat umum dan terbuka di Kuta yang biasanya tidak pernah berhenti dari hiruk pikuk serta aroma pariwisata. Kengerian bom sekalipun - tidak akan mampu menghentikan gerak riuh Kuta di malam-malam biasa. Memang ada sesuatu yang luar biasa malam ini, seperti halnya malam serupa setiap tahunnya di awal Tahun Baru Saka.

Nyepi. Itulah kekuatan spiritual yang mampu menjadi energi psikis bagi hampir seluruh penghuni Kuta untuk bersepakat melakukan perhentian. Suatu kebulatan niat untuk mengambil sikap dan posisi diam.

Sepi. Kondisi religius itulah yang ingin diwujudkan. Hanya itu. Namun hal ini menjadi semakin terasa khusus dan berbeda terutama bagi Kuta yang tidak pernah mau dan mampu dibuat diam – membungkam daya tariknya untuk terus bergemuruh dalam segala aktivitasnya siang dan malam.

Ternyata memang gemuruh tersebut tidak terberangus. Kondisi sepi yang mendapatkan gilirannya untuk tampil malam ini, hanya merupakan magnet yang sangat kuat bagi gemuruh yang ada di permukaan untuk menjadi gemuruh yang dibungkus dalam diam.

“Suara yang paling kuat justru ternyatakan oleh keheningan”, kata Rabindranath Tagore dalam “Yang Hidup dan Mati”. Untuk mendengar suara itulah kondisi sepi ini dimaksudkan. Suara yang sebenarnya sangat dekat dan jernih terdengar bagi siapa pun, sekalipun seringkali tidak mampu kita sadari. Bukan karena suara tersebut lebih lemah dari gemuruh. Tapi karena suara itu memang memaknai kehadirannya dalam sepi. Keheningan yang bersahaja. Sementara gemuruh memang tidak pernah berbicara tentang apa pun, termasuk menyangkut makna kehadirannya. Mungkin itulah yang ingin diungkapkan oleh pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”.

Terlintas begitu seringnya mulut, berikut tingkah pola kita sebagai manusia, yang sudah berbuihkan liur dan berbungkuskan kepalsuan hanya untuk menyuarakan omong kosong dan kesia-siaan. Memang tidak ada yang bisa terdengar ataupun perlu didengar dari suara yang berisikan kekosongan. Karena suara yang bersangkutan memang hanya dimaksudkan untuk tidak berbicara apa pun terkecuali memunculkan gemuruhnya.  

Untuk itulah keheningan dibutuhkan. Agar suara yang sebenarnya - bisa tampil berbicara, dalam kejernihan bunyi dan arti. Mengungkapkan pesan. Tanpa riuh. Namun jelas, dalam alunan desah nurani. Membeberkan kenaifan. Mengoyak kemunafikan. Seiring dengan nyanyian semesta yang senantiasa menyatakan kemuliaan Sang Pencipta.

Itulah yang dimaksudkan dengan perayaan Nyepi yang malam ini merebak dengan keharuman suci penghayatan ritual Saudara-Saudara kita. Sepi yang dipenuhi dengan bunyi pujian. Tanpa pamrih dan keangkuhan. Hanya ada syukur dan penyerahan yang didasari kesadaran tentang keterbatasan diri di hadapan keagungan Sang Pencipta - yang terefleksikan dalam kebesaran semesta. Ada nyanyian sunyi yang terdengar dalam hati dengan alunan lirik yang dipenuhi oleh penyembahan dan ketulusan.

Perlu keberanian untuk masuk dalam kesunyian itu. Keberanian untuk penyangkalan diri. Keberanian untuk melepaskan segala atribut diri. Keberanian untuk membuka diri – melihat begitu kecilnya diri di dalam semesta tanpa kemurahan rahmat Sang Pencipta. Keberanian untuk peka terhadap suara-Nya yang bergelora dalam kemegahan semesta – yang senantiasa memanggil dan menggapai kesadaran kita akan kuasa-Nya.

Daud dalam mazmurnya pernah bersaksi, ”Suara Tuhan di atas air… suara Tuhan mematahkan pohon Aras… suara Tuhan menggetarkan padang gurun… suara Tuhan membuat beranak rusa betina yang mengandung (Mazmur 29).” Masih pantaskah manusia memegahkan diri, jika debu pun membisikkan syukur dan memberitakan kesetiaan kasih-Nya? Apalah manusia di hadapan kemuliaan-Nya?

Rasul Paulus dalam salah satu suratnya kepada Jemaat di Roma pernah berkata, ”Jika demikian, apakah dasarnya untuk (kita) bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (Roma 3:27 )” Tanpa gemuruh. Tanpa keramaian penonjolan diri. Tanpa rias kepentingan diri. Tanpa bungkus kepura-puraan. Hanya nyanyi sunyi. Alunan bunyi penuh sorak pujian. Untuk dan bagi Sang Pencipta. “Karena Tuhan jiwaku bermegah,” seru Daud (Mazmur 34:3a).

Nyanyi sunyi itu ada dan berkumandang, terus tanpa jeda. Dalam nyanyian semesta. Ditimpa hiruk pikuk kehidupan. Akankah terus kita lewatkan? Dengan segala kesibukan dan keangkuhan diri? Ataukah akan kita hentikan kegaduhan ini dengan sepi. Seperti panas terik yang ditiadakan oleh naungan awan. Membungkam seru sombong kita. Menjadikan embun di pagi hari sebagai gubahan pujian tentang keberadaan Sang Pencipta. Menggubah lirik rindu terhadap kehadiran Tuhan seirama dengan bunyi semilir angin.

Nyepi. Nyanyi sunyi tentang Tuhan semesta alam. Suara tanpa bunyi tentang keterbatasan diri tanpa kehadiran-Nya. Riuh pujian kepada Sang Pencipta. Jujur tanpa kepalsuan. Ucapan syukur tanpa basa basi. Penyerahan tanpa pamrih. Pemahaman tanpa pretensi. Suatu dialog bersama Tuhan. Pribadi dan unik.

Malam ini Kuta kembali menjadi saksi dari kerinduan manusia terhadap kedekatan dengan Tuhan. Perhentian terhadap perjalanan hidup yang penuh muslihat dan keserakahan. Pengakuan akan keterbatasan diri. Keharmonisan dengan Sang Pencipta. Panggilan yang Tuhan senantiasa serukan kepada kita. Undangan yang selalu Tuhan sampaikan kepada kita. Dalam hati. Melalui nurani. Sebagai suara yang berkumandang di telan kesia-siaan gemuruh.

Tuhan menjawab. Ia selalu dan akan terus begitu. Karena Ia ada dan menyimak. Ia tahu apa pun pikiran dan isi hati kita. Bahkan tanpa cetusan permohonan yang dapat kita ungkapkan sekalipun. Ia ada sejauh kesadaran kita. Menunggu dan terbuka bagi kita. Untuk kembali. Menikmati dan memperoleh anugerah kasih dan kesetiaan-Nya yang rahmani. Setiap saat, kapan pun, di mana pun, dan bagaimanapun kondisi kita.

Nyepi di malam ini telah menjadi nyanyi sunyi tentang penyangkalan diri dan persekutuan kembali manusia dengan Penciptanya. Sepinya Nyepi. Indahnya sunyi. Damainya hati. Riuhnya sukacita dalam hadirat-Nya.

 

Kuta – Bali, Tahun Baru Saka 1927, 11 Maret 2005