Malam
sudah semakin larut. Dingin dan gelap. Hujan terdengar turun
rintik-rintik, seakan-akan juga enggan untuk mengisi kekosongan
malam, seiring dan seirama dengan kosongnya jalanan dan hampir
seluruh tempat umum dan terbuka di Kuta yang biasanya tidak pernah
berhenti dari hiruk pikuk serta aroma pariwisata. Kengerian bom
sekalipun - tidak akan mampu menghentikan gerak riuh Kuta di
malam-malam biasa. Memang ada sesuatu yang luar biasa malam ini,
seperti halnya malam serupa setiap tahunnya di awal Tahun Baru Saka.
Nyepi.
Itulah kekuatan spiritual yang mampu menjadi energi psikis bagi
hampir seluruh penghuni Kuta untuk bersepakat melakukan perhentian.
Suatu kebulatan niat untuk mengambil sikap dan posisi diam.
Sepi. Kondisi
religius itulah yang ingin diwujudkan. Hanya
itu. Namun hal ini menjadi semakin terasa khusus dan berbeda
terutama bagi Kuta yang tidak pernah mau dan mampu dibuat diam –
membungkam daya tariknya untuk terus bergemuruh dalam segala
aktivitasnya siang dan malam.
Ternyata memang
gemuruh tersebut tidak terberangus. Kondisi sepi yang mendapatkan
gilirannya untuk tampil malam ini, hanya merupakan magnet yang
sangat kuat bagi gemuruh yang ada di permukaan untuk menjadi gemuruh
yang dibungkus dalam diam.
“Suara yang paling
kuat justru ternyatakan oleh keheningan”, kata Rabindranath Tagore
dalam “Yang Hidup dan Mati”. Untuk
mendengar suara itulah kondisi sepi ini dimaksudkan. Suara yang
sebenarnya sangat dekat dan jernih terdengar bagi siapa pun,
sekalipun seringkali tidak mampu kita sadari. Bukan karena suara
tersebut lebih lemah dari gemuruh. Tapi karena suara itu memang
memaknai kehadirannya dalam sepi. Keheningan yang bersahaja.
Sementara gemuruh memang tidak pernah berbicara tentang apa pun,
termasuk menyangkut makna kehadirannya. Mungkin itulah yang ingin
diungkapkan oleh pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”.
Terlintas
begitu seringnya mulut, berikut tingkah pola kita sebagai manusia,
yang sudah berbuihkan liur dan berbungkuskan kepalsuan hanya untuk
menyuarakan omong kosong dan kesia-siaan. Memang tidak ada yang bisa
terdengar ataupun perlu didengar dari suara yang berisikan
kekosongan. Karena suara yang bersangkutan memang hanya dimaksudkan
untuk tidak berbicara apa pun terkecuali memunculkan gemuruhnya.
Untuk
itulah keheningan dibutuhkan. Agar suara yang sebenarnya - bisa
tampil berbicara, dalam kejernihan bunyi dan arti. Mengungkapkan
pesan. Tanpa riuh. Namun jelas, dalam alunan desah nurani.
Membeberkan kenaifan. Mengoyak kemunafikan. Seiring dengan
nyanyian semesta yang senantiasa menyatakan kemuliaan Sang Pencipta.
Itulah yang
dimaksudkan dengan perayaan Nyepi yang malam ini merebak dengan
keharuman suci penghayatan ritual Saudara-Saudara kita. Sepi yang
dipenuhi dengan bunyi pujian. Tanpa pamrih dan keangkuhan. Hanya ada
syukur dan penyerahan yang didasari kesadaran tentang keterbatasan
diri di hadapan keagungan Sang Pencipta - yang terefleksikan dalam
kebesaran semesta.
Ada
nyanyian sunyi yang terdengar dalam hati dengan alunan lirik yang
dipenuhi oleh penyembahan dan ketulusan.
Perlu keberanian
untuk masuk dalam kesunyian itu. Keberanian untuk penyangkalan diri.
Keberanian untuk melepaskan segala atribut diri. Keberanian untuk
membuka diri – melihat begitu kecilnya diri di dalam semesta tanpa
kemurahan rahmat Sang Pencipta. Keberanian untuk peka terhadap
suara-Nya yang bergelora dalam kemegahan semesta – yang senantiasa
memanggil dan menggapai kesadaran kita akan kuasa-Nya.
Daud dalam mazmurnya
pernah bersaksi, ”Suara Tuhan di atas air… suara Tuhan
mematahkan pohon Aras… suara Tuhan menggetarkan padang gurun…
suara Tuhan membuat beranak rusa betina yang mengandung (Mazmur
29).” Masih pantaskah manusia memegahkan diri, jika debu pun
membisikkan syukur dan memberitakan kesetiaan kasih-Nya? Apalah
manusia di hadapan kemuliaan-Nya?
Rasul Paulus dalam
salah satu suratnya kepada Jemaat di Roma pernah berkata, ”Jika
demikian, apakah dasarnya untuk (kita) bermegah? Tidak ada!
Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan
iman! (Roma
3:27
)” Tanpa gemuruh. Tanpa keramaian penonjolan diri. Tanpa rias
kepentingan diri. Tanpa bungkus kepura-puraan. Hanya nyanyi sunyi.
Alunan bunyi penuh sorak pujian. Untuk dan bagi Sang Pencipta.
“Karena Tuhan jiwaku bermegah,” seru Daud (Mazmur 34:3a).
Nyanyi sunyi itu ada
dan berkumandang, terus tanpa jeda. Dalam nyanyian semesta. Ditimpa
hiruk pikuk kehidupan. Akankah terus kita lewatkan? Dengan segala
kesibukan dan keangkuhan diri? Ataukah akan kita hentikan kegaduhan
ini dengan sepi. Seperti panas terik yang ditiadakan oleh naungan
awan. Membungkam seru
sombong kita. Menjadikan embun di pagi hari sebagai gubahan pujian
tentang keberadaan Sang Pencipta. Menggubah lirik rindu terhadap
kehadiran Tuhan seirama dengan bunyi semilir angin.
Nyepi.
Nyanyi sunyi tentang Tuhan semesta alam. Suara
tanpa bunyi tentang keterbatasan diri tanpa kehadiran-Nya. Riuh
pujian kepada Sang Pencipta. Jujur tanpa kepalsuan. Ucapan syukur
tanpa basa basi. Penyerahan tanpa pamrih. Pemahaman tanpa pretensi.
Suatu dialog bersama Tuhan. Pribadi dan unik.
Malam
ini Kuta kembali menjadi saksi dari kerinduan manusia terhadap
kedekatan dengan Tuhan. Perhentian terhadap perjalanan hidup yang
penuh muslihat dan keserakahan. Pengakuan akan keterbatasan diri. Keharmonisan
dengan Sang Pencipta. Panggilan yang Tuhan senantiasa serukan kepada
kita. Undangan yang selalu Tuhan sampaikan kepada kita. Dalam
hati. Melalui nurani. Sebagai suara yang berkumandang di telan
kesia-siaan gemuruh.
Tuhan menjawab. Ia
selalu dan akan terus begitu. Karena
Ia ada dan menyimak. Ia tahu apa pun pikiran dan isi hati kita.
Bahkan tanpa cetusan permohonan yang dapat kita ungkapkan sekalipun.
Ia ada sejauh kesadaran kita. Menunggu dan terbuka bagi kita. Untuk
kembali. Menikmati dan memperoleh anugerah kasih dan kesetiaan-Nya
yang rahmani. Setiap saat, kapan pun, di mana pun, dan bagaimanapun
kondisi kita.
Nyepi
di malam ini telah menjadi nyanyi sunyi tentang penyangkalan diri
dan persekutuan kembali manusia dengan Penciptanya. Sepinya Nyepi.
Indahnya sunyi. Damainya hati. Riuhnya sukacita dalam hadirat-Nya.
Kuta
– Bali, Tahun Baru Saka 1927, 11 Maret 2005