Pernahkah
anda berjalan seorang diri, menyusuri ‘lorong-lorong’ kehidupan
ini? Banyak faktor yang nampaknya menjadikan kehidupan ini
seakan-akan begitu suram dan kelabu mewarnai setiap pandangan dan perspektif
orang. Muncul ketika sejumlah aneka peristiwa mewarnai kenyataan
hidup ini. Rangkaian peristiwa yang berangsur silih berganti
menjadikan seseorang melihat kembali kehidupannya, penyesalannya,
keputusan yang pernah diambil, namun di satu sisi pikiran kita
begitu jenuh dan penat menanggapi setiap situasi memandangnya
sebagai sesuatu beban yang tak terkendali. Sepertinya berulang kali
penderitaan (teringat juga bencana banjir yang baru melanda). Yah
kita seakan-akan kita ‘korban’ dari sekian peristiwa menimpa dan
andaikata memang benar adanya kita adalah sebagai sosok ‘korban’
haruskah kita menjadi menyingkir kepada realitas kehidupan ini?
Saya teringat dalam sebuah
cuplikan kisah yang sempat saya tonton dalam kisah sebuah drama
serial “The Hospital” akan kisah sosok seorang reporter
televisi yang mencoba menggunakan profesinya untuk menguras berita
konflik yang terjadi dalam sebuah perselisihan di rumah sakit besar
(tentunya dalam hal untuk kepentingan profesinya) dan ternyata
reporter televisi ini memanfaatkan ‘orang dalam’ di rumah sakit
ini untuk mengorek keterangan kisah konflik tersebut akhirnya dalam
perjalanan waktu reporter tersebut malah jatuh hati dengan ‘orang
dalam’ ini yang berprofesi sebagai dokter. Ternyata sebenarnya
dokter ini sudah beristri, namun di satu sisi sang reporter televisi
sudah memiliki hubungan terlarang dengan dokter tersebut. Di akhir
kisah dokter ini menyuruh menggugurkan kandungannya sang reporter
televisi tersebut guna mengakhiri konflik sang dokter dan istrinya
dan sang reporter wanita tersebut.
Apa daya nasi sudah menjadi
bubur, sang reporter tersebut kehilangan arah untuk sebuah keputusan
menggugurkan kandungannya atau tidak? Benarkah sang reporter
televisi tadi adalah ‘korban’? Jelas dia adalah korban karena
kesalahannya sendiri meski di satu sisi dia tak ingin menggugurkan
kandungannya karena nampaknya sang repoter amat jatuh cinta dengan
dokter ini. Keegoisan sosok dokter nampak jelas tergambar bahwa
keinginannya adalah agar anak tersebut digugurkan hanya demi menutup
kisahnya dan sang reporter.
Akhirnya reporter televisi
mengulangi kembali keputusan yang diambilnya untuk menggugurkan
kandungannya atau tidak. Di penghujung cerita, sang wanita reporter
televisi ini akhirnya setelah melewati pergumulan bertekad untuk
melahirkan anaknya dan membesarkannya seorang diri tanpa bantuan
dokter tersebut (yang tampaknya hanya memanfaatkan wanita tersebut
semata-mata) dan sang wanita pun dan kandungannya pergi meninggalkan
dokter tersebut.
Sepertinya episode kisah ini
berakhir sepertinya “indah” sekali sang wanita memang dia
berdosa mengambil suami orang namun dia tak ingin mengakhiri
kehidupan sang bayi dalam tubuhnya, apalagi memutuskan
membesarkannya seorang diri (single mother) karena sang
dokter melepas tanggung jawabnya. (memang indah namun bagaimanapun
bagaimana dengan sosok ayah). Seandainya ada yang mau menerima
kondisi sang reporter wanita ini seperti episode dalam sinetron
serial Wulan, ada sosok pria bernama Awan dimana dia
mau menerima kondisi Wulan yang hampir serupa dengan kondisi
reporter televisi tersebut dimana mereka sama-sama dalam kondisi
serupa married by accident lantas sama-sama ingin berusaha
untuk tetap melahirkannya meski sang ayah yang tak menerimanya
(melepaskan tanggung jawab).
Namun dalam kondisi yang
rumit ini berubah ketika kehadiran Awan sosok pria yang nampaknya
begitu tulus mencintai Wulan meski saat itu dia sedang berbadan dua
ini. Meski (sayangnya) demikian nampaknya kehadiran Awan pun
nampaknya menjadi dilema traumatisme bagi Wulan akan sosok pria di
hatinya. Demikian sosok Awan demikian pula sosok Yesus pun terkadang
tidak mendapat tempat di hati kita karena berbagai ‘kisah’ yang
pernah terjadi nampaknya menimbulkan ‘luka’ sehingga terkadang
kita hampir melupakan dan meragukan sosok-Nya dalam kelamnya
peristiwa kita.
Manusia terbatas menerima dan
memahami setiap kondisi setiap keadaan apalagi di saat
‘kelam’-nya kondisi tersebut. Namun tidak dengan Dia, Mazmur
Daud mengatakan: Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia
membaringkan aku di
padang
yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang. Ia
menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena
nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak
takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah
yang menghibur aku.
Tuhan
selalu beserta kita di dalam lembah kekelaman yang nampaknya
begitu kelam tanpa pengharapan sekalipun Dia selalu beserta kita.
Jangan melarikan diri terhadap kenyataan yang ada, dengan
menenggelamkan diri dengan keberputusasaan, dalam keberputusasaan
pun Dia selalu beserta kita. Sadarilah akan penyertaan-Nya atas kita
sebagai domba-domba-Nya. Serahkan setiap beban persoalan hidup kita
pada-Nya. Biarlah kita boleh semakin bertumbuh lewat setiap kondisi
dan percaya akan pernyertaan Yesus dalam perjalanan hidup kita,
dalam pengenalan kita akan-Nya. (ap)