Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Di Setiap Langkah
Oleh: Andi Pratama


Pernahkah anda berjalan seorang diri, menyusuri ‘lorong-lorong’ kehidupan ini? Banyak faktor yang nampaknya menjadikan kehidupan ini seakan-akan begitu suram dan kelabu mewarnai setiap pandangan dan perspektif orang. Muncul ketika sejumlah aneka peristiwa mewarnai kenyataan hidup ini. Rangkaian peristiwa yang berangsur silih berganti menjadikan seseorang melihat kembali kehidupannya, penyesalannya, keputusan yang pernah diambil, namun di satu sisi pikiran kita begitu jenuh dan penat menanggapi setiap situasi memandangnya sebagai sesuatu beban yang tak terkendali. Sepertinya berulang kali penderitaan (teringat juga bencana banjir yang baru melanda). Yah kita seakan-akan kita ‘korban’ dari sekian peristiwa menimpa dan andaikata memang benar adanya kita adalah sebagai sosok ‘korban’ haruskah kita menjadi menyingkir kepada realitas kehidupan ini?

Saya teringat dalam sebuah cuplikan kisah yang sempat saya tonton dalam kisah sebuah drama serial “The Hospital” akan kisah sosok seorang reporter televisi yang mencoba menggunakan profesinya untuk menguras berita konflik yang terjadi dalam sebuah perselisihan di rumah sakit besar (tentunya dalam hal untuk kepentingan profesinya) dan ternyata reporter televisi ini memanfaatkan ‘orang dalam’ di rumah sakit ini untuk mengorek keterangan kisah konflik tersebut akhirnya dalam perjalanan waktu reporter tersebut malah jatuh hati dengan ‘orang dalam’ ini yang berprofesi sebagai dokter. Ternyata sebenarnya dokter ini sudah beristri, namun di satu sisi sang reporter televisi sudah memiliki hubungan terlarang dengan dokter tersebut. Di akhir kisah dokter ini menyuruh menggugurkan kandungannya sang reporter televisi tersebut guna mengakhiri konflik sang dokter dan istrinya dan sang reporter wanita tersebut.

Apa daya nasi sudah menjadi bubur, sang reporter tersebut kehilangan arah untuk sebuah keputusan menggugurkan kandungannya atau tidak? Benarkah sang reporter televisi tadi adalah ‘korban’? Jelas dia adalah korban karena kesalahannya sendiri meski di satu sisi dia tak ingin menggugurkan kandungannya karena nampaknya sang repoter amat jatuh cinta dengan dokter ini. Keegoisan sosok dokter nampak jelas tergambar bahwa keinginannya adalah agar anak tersebut digugurkan hanya demi menutup kisahnya dan sang reporter.

Akhirnya reporter televisi mengulangi kembali keputusan yang diambilnya untuk menggugurkan kandungannya atau tidak. Di penghujung cerita, sang wanita reporter televisi ini akhirnya setelah melewati pergumulan bertekad untuk melahirkan anaknya dan membesarkannya seorang diri tanpa bantuan dokter tersebut (yang tampaknya hanya memanfaatkan wanita tersebut semata-mata) dan sang wanita pun dan kandungannya pergi meninggalkan dokter tersebut.

Sepertinya episode kisah ini berakhir sepertinya “indah” sekali sang wanita memang dia berdosa mengambil suami orang namun dia tak ingin mengakhiri kehidupan sang bayi dalam tubuhnya, apalagi memutuskan membesarkannya seorang diri (single mother) karena sang dokter melepas tanggung jawabnya. (memang indah namun bagaimanapun bagaimana dengan sosok ayah). Seandainya ada yang mau menerima kondisi sang reporter wanita ini seperti episode dalam sinetron serial Wulan, ada sosok pria bernama Awan dimana dia mau menerima kondisi Wulan yang hampir serupa dengan kondisi reporter televisi tersebut dimana mereka sama-sama dalam kondisi serupa married by accident lantas sama-sama ingin berusaha untuk tetap melahirkannya meski sang ayah yang tak menerimanya (melepaskan tanggung jawab).

Namun dalam kondisi yang rumit ini berubah ketika kehadiran Awan sosok pria yang nampaknya begitu tulus mencintai Wulan meski saat itu dia sedang berbadan dua ini. Meski (sayangnya) demikian nampaknya kehadiran Awan pun nampaknya menjadi dilema traumatisme bagi Wulan akan sosok pria di hatinya. Demikian sosok Awan demikian pula sosok Yesus pun terkadang tidak mendapat tempat di hati kita karena berbagai ‘kisah’ yang pernah terjadi nampaknya menimbulkan ‘luka’ sehingga terkadang kita hampir melupakan dan meragukan sosok-Nya dalam kelamnya peristiwa kita.

Manusia terbatas menerima dan memahami setiap kondisi setiap keadaan apalagi di saat ‘kelam’-nya kondisi tersebut. Namun tidak dengan Dia, Mazmur Daud mengatakan: Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang. Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Tuhan selalu beserta kita di dalam lembah kekelaman yang nampaknya begitu kelam tanpa pengharapan sekalipun Dia selalu beserta kita. Jangan melarikan diri terhadap kenyataan yang ada, dengan menenggelamkan diri dengan keberputusasaan, dalam keberputusasaan pun Dia selalu beserta kita. Sadarilah akan penyertaan-Nya atas kita sebagai domba-domba-Nya. Serahkan setiap beban persoalan hidup kita pada-Nya. Biarlah kita boleh semakin bertumbuh lewat setiap kondisi dan percaya akan pernyertaan Yesus dalam perjalanan hidup kita, dalam pengenalan kita akan-Nya. (ap)