|
Iman Perwira di Kapernaum
Oleh: Manasje Korniawan
”Setelah
Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil
berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: ‘Aku
berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai,
sekalipun di antara orang Israel’" (Lukas
7:9)
Kisah
yang kita baca dalam Injil tulisan Lukas 7:1-10, mengisahkan Tuhan
Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum yang sakit
keras dan hampir mati.
Dalam kisah ini, ada beberapa hal positif yang dapat kita renungkan,
dan menjadi teladan untuk hidup kita.
Yang
pertama, kepedulian
sang perwira terhadap hambanya. Sungguh merupakan hal yang
jarang kita temui, ketika seorang yang terpandang, memiliki jabatan
dan kedudukan yang tinggi masih memikirkan seorang yang tidak
berarti, seorang hamba.
Perwira itu mestinya dapat memerintahkan anak buahnya atau ajudannya
untuk mengurus hamba tersebut. Dia tidak perlu repot-repot turun
tangan sendiri, walaupun perwira itu sangat menghargai hambanya.
Tetapi yang terjadi dalam kisah ini justeru sebaliknya, sang perwira
turun tangan sendiri, meminta tolong beberapa orang tua-tua Yahudi
untuk menjumpai Yesus dan meminta Yesus menyembuhkan hamba itu.
Perwira
itu sangat peduli kepada keadaan hambanya, mungkin hamba itu sudah
dibawa ke tabib yang hebat di Kapernaum, diobati dengan obat yang
terbaik, tetapi kondisinya tidak membaik, malahan makin parah dan
hampir mati. Dalam keadaan seperti itu, sang perwira tidak menjadi
putus asa dan pasrah kepada keadaan, tetapi tetap berusaha mencari
jalan untuk kesembuhan hambanya. Dan usaha kerasnya tidak sia-sia,
perwira tersebut menemukan jalan keluar terbaik, jawaban yang tepat
dari masalah yang dihadapi hambanya, yaitu meminta pertolongan
Yesus. Sang perwira yakin Yesuslah satu-satunya yang dapat
menyembuhkan penyakit hamba itu.
Yang
kedua, perwira
itu memiliki kerendahan hati. Ketika Yesus hampir sampai ke
rumah perwira itu, sang perwira menyadari bahwa dirinya sangat tidak
layak menerima Yesus dalam rumahnya, dia menyadari bahwa hidupnya
tidak bersih dihadapan Tuhan Yesus, penuh dosa dan perbuatan jahat.
Padahal
sebagai perwira yang terpandang biasanya orang segan dan merasa
takut bila akan bertemu dengannya, mungkin akan dipandang sebelah
mata, atau ditolak untuk bertemu dengannya. Tetapi ketika akan
bertemu dengan Yesus, sang perwira inilah yang merasa tidak layak,
dia merasa hidupnya tidak sebanding dengan kesucian Yesus.
Yang
ketiga, perwira
itu memiliki iman yang sangat besar. Sang perwira meyakini bahwa
Yesus memiliki kuasa yang sangat besar, dapat menyembuhkan segala
penyakit, mengusir kuasa gelap, dan sang perwira yakin bahwa hanya
dengan sepatah kata saja yang diucapkan Yesus, maka hambanya yang
sakit keras itu akan sembuh.
Inilah
yang membuat Yesus heran akan besarnya iman perwira itu, dan Yesus
memujinya di depan orang banyak, bahkan diantara umat Israel sendiri
Yesus tidak menjumpai iman sebesar itu. Oleh karenanya Yesus
tergerak untuk menyembuhkan hamba perwira itu.
Bagaimana
dengan kehidupan kita? Apakah kita juga peduli, peka kepada sesama
kita, orang-orang yang mungkin tidak sejajar dengan kita? Teman yang
kurang pandai, hidup dalam kekurangan, apakah kita peduli dan mau
membantu mereka?
Sering kita
merasa sombong karena kita pandai, kita kaya, kedudukan kita tinggi,
tetapi dihadapan Yesus kita semua tidak berarti apa-apa, tidak
sebanding bahkan seujung kukupun tidak.
Dan yang paling
penting, kita dapat menyerahkan segala permasalahan kita, kesulitan
dan tekanan yang kita hadapi kepada Yesus, hanya Yesus saja yang
sanggup menyelesaikan, memberi jalan keluar dari setiap permasalahan
yang kita hadapi, asal kita memiliki iman, seperti iman yang
dimiliki oleh perwira di Kapernaum.
Sapat,
8 Februari 2007.
|