Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Angin Sepoi-sepoi
Oleh: Manasje Korniawan


“Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi tidak ada TUHAN dalam api itu. Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu.” (I Raja-raja 19:12,13)

Tentunya kita sangat kagum ketika membaca kisah nabi Elia, dan saya dapat membacanya berulang-ulang, dan merasakan betapa hebat kuasa Allah yang menyertai nabi Elia, dan kalau boleh sayapun ingin dapat melakukan seperti yang nabi Elia lakukan.

Dalam Alkitab ditulis mujizat-mujizat yang dilakukan oleh nabi Elia, yang pertama adalah membuat hujan tidak turun di Israel selama tiga setengah tahun (I Raja-raja 17:1), dan selama kekeringan itu, Elia dipelihara oleh Tuhan dan disembunyikan dari raja Ahab di tepi sungai Kerit untuk minum, dan makanan dikirim oleh burung gagak pada pagi dan petang. (I Raja-raja 17:6)

Yang kedua, ketika sungai Kerit menjadi kering karena lamanya hujan tidak turun, nabi Elia disuruh Tuhan untuk menemui janda di Sarfat di wilayah Sidon. Mujizat yang dilakukan oleh nabi Elia adalah membuat tepung dan minyak yang tinggal sedikit tidak habis-habis sampai musim hujan tiba, sehingga nabi Elia, janda dan anaknya terpelihara dari kelaparan. (I Raja-raja 17:9-16)

Yang ketiga, suatu ketika anak janda di Sarfat jatuh sakit keras dan meninggal, mujizat yang dilakukan nabi Elia adalah membangkitkan anak itu dari kematian. (I Raja-raja 17:17-24)

Yang keempat, mengalahkan 450 nabi baal di atas gunung Karmel, dalam pertandingan menurunkan api dari langit, membakar korban persembahan yang dipersembahkan kepada Allah. Doa nabi-nabi baal itu tidak didengar oleh dewanya, sementara doa nabi Elia didengar oleh Allah, yang kemudian api Tuhan turun dari langit menyambar dan membakar korban yang dipersembahkan nabi Elia sampai habis. (I Raja-raja 18:19-40)

Yang kelima, menurunkan api dari langit untuk membinasakan dua perwira dan seratus tentara utusan Raja Ahazia yang akan menangkap dan membawa nabi Elia ke raja Ahazia. (II Raja-raja 1:9-12)

Yang keenam, membelah sungai Yordan dengan memukulkan jubahnya ke air sungai itu, sehingga nabi Elia dan Elisa dapat menyeberang di tanah yang kering. Hal ini terjadi sebelum nabi Elia diangkat ke sorga dengan menggunakan kereta berapi dan kuda berapi. (II Raja-Raja 2:8,11) 

Begitu luar biasa kisah hidup nabi Elia, bahkan nabi Elia tidak merasakan kematian, karena tubuh jasmaninya langsung diangkat ke sorga.
Tetapi saat setelah berhasil mengalahkan dan membunuh semua nabi baal di atas gunung Karmel, Izebel isteri raja Ahab bersumpah akan membunuh nabi Elia. Hal ini membuat nabi Elia ketakutan dan melarikan diri ke padang gurun, dan minta mati di sana, seperti yang tertulis, “Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: ‘Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.’” (I Raja-raja 19:3,4)

Ketika nabi Elia putus asa, Tuhan menguatkan dengan makanan dari sorga, yang dikirim malaikat, dan oleh kekuatan makanan itu nabi Elia berjalan empat puluh hari empat puluh malam, sampai di gunung Allah, yaitu gunung Horeb. Di gunung itu Allah menguatkan nabi Elia dengan jawaban kehadiran Allah dalam angin sepoi-sepoi basa, bukan dalam hal yang dahsyat, dalam angin besar atau gempa atau api.

Hal ini mengingatkan kita bahwa seringkali kita meminta kepada Tuhan hal-hal yang hebat dan dahsyat, mujizat yang luar biasa, kita sering menghadiri KKR-KKR kesembuhan ilahi, pengkothbah top, dan kita merasa bahwa Tuhan hadir disana.
Seringkali kita lupa bahwa kekuatan yang kita peroleh saat menghadiri kebaktian kebangunan rohani (KKR), tidak bertahan lama, dan menyebabkan kita haus untuk mencari mujizat hebat yang lain lagi.

Pernahkah kita merenungkan selama kita hidup, berapa banyak mujizat besar terjadi dalam hidup kita? Atau mungkin kita tidak pernah memikirkan pemeliharaan Tuhan melalui mujizat-mujizat kecil, hal-hal yang kita anggap biasa, dan kita anggap sepele, padahal disitulah Tuhan hadir menyertai dan menolong kita.

Tuhan Yesus juga marah saat melihat banyak orang berbondong-bondong mencari Dia, bukan untuk percaya kepada Yesus, tetapi karena mereka telah dikenyangkan melalui mujizat Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang, seperti yang Tuhan Yesus katakan, “Yesus menjawab mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.’” (Yohanes 6:26)

Jika kita mengikut Tuhan hanya karena kita telah melihat dan merasakan mujizat yang hebat, suatu saat kita akan putus asa seperti nabi Elia, karena suatu ketika tidak merasakan pertolongan Tuhan secara luar biasa. Kita akan cenderung menyalahkan Tuhan karena membiarkan kita sendirian. Padahal sebenarnya hati kita tidak terpaut kepada Tuhan, tetapi kepada mujizat-mujizat.

Kita dapat belajar bahwa karya Allah dalam hidup kita tetap berjalan terus, dan kita dapat bersandar penuh pada tangan Allah yang kuat, yang tidak pernah meninggalkan kita dalam situasi apapun, sampai pada keselamatan yang kekal.

Sapat, 7 April 2007