|
Peka
Oleh: Febe Kurniasari
Akhir-akhir ini saya sering sekali mendengarkan cerita dari teman-teman mengenai kejadian pencopetan waktu mengendarai angkutan umum. Modus pencopetan bermacam-macam. Ada yang dengan cara berpura-pura muntah-muntah, batuk-batuk, atau dengan menyembunyikan salah satu tangan agar tangan tersebut bisa beraksi melakukan tindakan copet.
Tentunya pasti ada faktor tertentu yang melatarbelakangi seseorang melakukan berbagai tindak kejahatan seperti mencopet, mencuri, merampok,
membunuh, dsb. Salah satu alasan yang sering dipakai mengapa seseorang atau kelompok berbuat kejahatan adalah karena sulitnya seseorang memenuhi kebutuhan ekonomi bagi diri sendiri dan keluarga. Perasaan ketidakmampuan untuk memperoleh penghasilan yang cukup demi mempertahankan hidup mampu membuat orang berbuat jahat kepada sesama dan bahkan diri sendiri.
Oleh karena itu, agar kita tidak sampai menjadi korban dari tindak kejahatan yang marak terjadi di tengah masyarakat akhir-akhir ini, kita harus peka terhadap situasi. Dan kepekaan itu timbul dari hati manusia. Hanya saja yang menjadi pertanyaanya, sudahkah kita memiliki kepekaan dalam diri anda? Jika belum, bagaimana caranya agar kita bisa memperoleh kepekaan itu?
Kepekaan berkaitan dengan nilai rasa. Rasa peka terhadap situasi berasal dari hati nurani. Jadi agar kita mempunyai kepekaan terlebih dahulu hati nurani kita harus hidup. Suara hati nurani yang akan berbicara kepada kita di dalam hati. Setiap kali kita hendak mengalami hal-hal buruk hati nurani akan memberi kita tanda yang biasa disebut sebagai
"firasat".
Masalahnya tidak semua orang itu mempunyai hati nurani yang hidup sehingga ia dapat merasakan firasat tiap kali kejadian buruk hendak menimpa diri mereka.
Karena itu kita perlu menghidupkan suara hati nurani agar kita mempunyai kepekaan. Dan suara hati itu hanya bisa dihidupkan oleh Allah. Karena itu mintalah senantiasa pada Allah agar berkenan untuk bersuara dalam hati kita. Tapi jangan lupa agar Allah berkenan bersuara dalam hati, kita harus senantiasa menjaga
"kekudusan" di hadapan Allah dengan melakukan apa yang menjadi perintah dan larangan-Nya yang tertuang dalam Kitab Suci.
Ketika setiap dari kita mau menjaga "kekudusan" maka percayalah Allah akan senantiasa melindungi kita dari segala yang jahat. Amin. Amin. Amin.
|