|
Ngungkit
Oleh: Febe Kurniasari
Selama ini tulisan saya berbentuk latin. Dan bisa dibilang tulisan saya
sulit untuk dibaca secara sekilas. Orang-orang yang membaca tulisan
saya harus mempunyai daya konsentrasi yang tinggi dalam hal membaca.
Yang menyebabkan seseorang harus berkonsentrasi penuh saat membaca
tulisan tangan saya adalah karena huruf latin saya jelek. Di samping
itu jarak antara huruf yang satu dengan huruf yang lain sangat
dekat. Jadi untuk bisa memahami isi atau makna tulisan saya orang
yang membaca tulisan saya harus fokus.
Karena tulisan latin saya yang sulit untuk dibaca itulah salah seorang dosen
saya sering sekali menegur saya. Bahkan karena tulisan yang jelek
nilai ujian saya baik ujian tegah semester maupun akhir semester
dikurangi nilainya sehingga hasil ujian saya untuk mata kuliah hukum
perdata menjadi kurang maksimal.
Yang sering membuat saya jengkel pada beliau bukan karena nilai saya
dikurangi waktu ujian melainkan karena dosen saya itu suka
mengungkit perihal tulisan saya yang jelek dengan melontarkan
sindiran-sindiran yang menyakitkan untuk di dengar telinga di
hadapan semua teman-teman saya yang lain.
Kemarin saya datang agak terlambat ke kampus. Setibanya di ruang tempat
dosen tersebut mengajar hanya tersisa dua kursi kosong. Yang satu
adalah kursi panjang dan yang satunya lagi adalah kursi sandar.
Karena waktu itu kursi yang paling dekat letaknya dengan pintu masuk
adalah kursi panjang, maka saya pun akhirnya duduk di kursi panjang
itu.
Namun sayangnya di depan kursi panjang tidak tersedia meja untuk menulis.
Oleh sebab itu saya menulis dengan beralaskan map. Dan ketika
menulis tiba-tiba dosen itu berkata, “Febe, jangan duduk di situ.
Ayo pindah ke kursi yang di depannya ada meja untuk menulis. Sebab
kalau kamu menulis di kursi yang tidak ada mejanya nanti tulisanmu
yang sudah jelek akan menjadi lebih jelek lagi” terangnya.
Mendengar perkataan dosen saya itu, semua teman-teman lainnya yang
ada di ruangan tersebut langsung tertawa.
Waktu mendengar kata-kata dosen saya yang kembali mengungkit-ungkit tentang
tulisan saya yang jelek untuk kesekian kali, terus terang saja saya
merasa sangat tersinggung. Namun demikian dari kejadian ini saya
belajar bahwa seharusnya saya tidak tersinggung dengan perkataan
dosen saya yang menyakitkan itu. Tetapi seharusnya teguran yang
berupa sindiran tersebut justru harus membuat saya lebih semangat
lagi untuk memperbaiki tulisan tangan saya yang jelek.
Begitu
pula jika ada orang di sekitar anda yang suka mengungkit-ungkit
kelemahan anda dengan cara menyindir, janganlah anda tersinggung dan
menjadi patah semangat. Tetapi justru jadikan teguran-teguran orang
yang ada di sekitar anda sebagai motivasi dalam upaya melakukan
penyempurnaan terhadap setiap kelemahan yang ada pada diri anda.
|