Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Siapa Menabur akan Menuai
Oleh: Manasje Korniawan


“Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” (Pengkhotbah 11:1)

Kitab Pengkhotbah berisi tulisan hasil perenungan Raja Salomo yang penuh hikmat dari Allah, dan kitab ini ditulis di masa tua Raja Salomo, dimana setelah ia merasakan kepuasan jasmani, kesenangan hidup di masa muda. Di masa tua, Salomo menyadari kesia-siaan hidup ketika seseorang menyandarkan hidupnya kepada kesenangan duniawi dan materialisme sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan.

Dalam ayat ini, Salomo mengajarkan suatu prinsip alkitabiah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan untuk Tuhan, pasti kita akan memperolehnya kembali dari Tuhan.
Roti bisa diartikan sebagai sesuatu yang berharga bagi kita, seperti benih, makanan, uang, waktu, tenaga, pemikiran, kepandaian, kebaikan, kemurahan hati.

Tetapi sering kita merasa hidup kita kekurangan terus, sehingga kita tak dapat mengucap syukur, apalagi membagi kepada sesama yang membutuhkan.
Sering kita merasa terlalu sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk menolong orang lain, tak ada waktu untuk bersekutu, ke gereja.
Sering kita merasa sudah terlalu capai bekerja sepanjang hari, untuk memenuhi kebutuhan kita, sehingga tak bisa lagi memberikan tenaga kita untuk membantu kegiatan gereja, membantu sesama.
Atau kadang kita merasa tak perlu berbuat baik, menjadi terlalu baik, soalnya sering kali kebaikan kita disalahartikan, mau cari mukalah, agar menonjollah, atau justru dimanfaatkan oleh orang lain, sehingga kita selalu jadi tempat tujuan untuk minta bantuan, jadi bulan-bulanan.

Mengapa Pengkhotbah mengajarkan kepada kita agar menabur “roti”, menabur kebaikan? Mengapa kita harus berbuat baik? Karena Allah telah lebih dulu berbuat baik bagi kita, mengasihi kita, dan memberikan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menebus dosa kita. Jadi kita harus mengembalikan kasih yang Tuhan sudah anugerahkan kepada kita. Juga dalam II Tesalonika 3:13 dikatakan, “Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.”
Jadi firman Tuhan mengajarkan agar kita tidak menjadi jemu, tidak bosan-bosannya berbuat kebaikan, seperti Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, tetap menyertai dan menolong kita dalam menghadapi setiap permasalahan kita.

Pengkothbah 11:6 mengatakan, “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.”
Kita harus selalu menabur firman Tuhan, menabur kebaikan, terus menerus, jangan loyo, karena kita yakin Tuhan pasti memerhatikan apa yang kita kerjakan.

Apakah yang kita lakukan akan sia-sia? Tidak ada artinya?  Tidak bermanfaat? Firman Tuhan mengatakan, “… maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” (Pengkhotbah 11:1b). Tuhan berjanji kita akan mendapatkan balasan, kebaikan, berkat, akan ada pahala, ada mahkota yang tersedia bagi kita, ketika kita kembali ke sorga, bertemu dengan Tuhan. Rasul Paulus mengatakan, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (I Korintus 15:58).

Ada suatu sukacita tersendiri ketika kita melakukan amanat agung Tuhan kita Yesus Kristus, seperti yang ditulis dalam Yesaya 55:10,11, “Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”
Tuhan selalu memberi keberhasilan kepada firman-Nya, dan kita yang menjadi saksi bagi Tuhan Yesus, jerih payah kita tidak sia-sia, tetapi kita akan menerimanya kembali berlipat ganda.

 

Sapat, 17 Juni 2007