|
Mencintai dan Dicintai
Oleh: Kikis Istianta
Sangat romantis… Memberi sebuah inspirasi bagi saya, setelah sekian lama saya tidak memanfaatkan waktu saya untuk
menulis. Sudah jarang sekali bahkan hampir tidak tersentuh file tulisan
saya. Mungkin karena saya sok sibuk, sehingga pikiran saya bercabang-cabang layaknya ranting-ranting
pohon. Tapi lepas dari semua itu saat ini saya ingin mengungkapkan sebuah perasaan mengenai makna cinta.
Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika itu usia saya menginjak kepala tiga, dan beberapa hari menjelang hari ulang tahun saya, saya memberanikan diri meminang calon istri saya dan sekarang menjadi ibu dari seorang anak
kami. Peristiwa yang menurut saya sebagai sebuah karunia, sebuah mukjizat Tuhan.
Ada ketakutan, ada kecemasan dalam diri saya saat itu, bagaimana
tidak? Kami berhubungan belum begitu lama, mungkin hanya satu bulan,
itu pun hanya terlukis dengan kata-kata, melalui sms, bertemu muka belum pernah sama
sekali. Seorang kakak saya dengan penuh kebijaksanaan membuka mata hati saya, memberikan pandangan tentang sebuah rencana masa depan, menggugah semangat saya, hingga pada akhirnya perjalanan cinta kami bernaung dalam ikatan perkawinan.
Mencintai bukan sekedar kata-kata yang harus diucapkan, tetapi bagaimana kita mengaplikasikannya dalam sebuah
kehidupan. Mencintai bukan pula sebuah kata yang mudah diberitakan, namun harus didukung dengan tanggung jawab yang besar dalam
menjalankannya. Demikian pula dalam kehidupan rohani kita, beberapa pertanyaan seringkali muncul dalam pikiran kita, terutama di saat kita dipenuhi oleh rasa ingin dekat dengan Tuhan, merasakan
kehadiran-Nya dalam setiap doa kita, saat itulah kita merasa bahwa kita berusaha untuk menyenangkan
hati-Nya, berusaha agar kita mempunyai perasaan yang sama ketika kita mencintai seseorang dalam hidup
kita. Perasaan yang tulus tanpa berharap. Tuhan, kadang saya berpikir, sudah layakkah saya Tuhan untuk
mencintai-Mu? Aplikasi yang sangat nyata dalam kehidupan rohani kita adalah menjalankan
kebenaran-Nya, yang adalah Tuhan Yesus sendiri, menjalankan
firman-Nya yang hidup, yang tak lekang ditelan zaman, sampai kepada perbuatan iman kita kepada penebusan dosa yang dilakukan Tuhan
Yesus. Segala sesuatu dan apapun yang kita lakukan harus bersumber
pada-Nya. Meskipun kadang kita tersadar bahwa “dunia” tidak sejalan dengan harapan kita untuk melaksanakan
kehendak-Nya.
Dicintai merupakan sesuatu yang kita terima sebagai respon dari tindakan mencintai yang kita
lakukan. Perasaan yang mengungkapkan bahwa ternyata adalah ini, ternyata adalah itu merupakan salah satu bukti bahwa kita
dicintai. Dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial pun akan nampak ketika seseorang mengingatkan atas kelalaian kita, ketika seorang sahabat
memberikan nasihat berharga, ketika kita diperhatikan oleh orang lain karena
ke-”unik”-an kita, juga dalam hubungan rumah tangga, ketika istri saya mengingatkan untuk tetap semangat ketika saya merasa jatuh, ketika banyak hal yang harus saya selesaikan tak kunjung selesai, semua dorongan yag tulus membuat saya merasa diperhatikan, merasa
dicintai. Demikian halnya dengan kehdupan rohani kita, ketika putus asa yang kita alami, diubahkan menjadi suatu peluang, ketika semangat yang patah disiram dengan kesegaran firman, semua menjadi lebih terang, pikiran menjadi lebih
segar. Dan pergumulan hidup yang terangkum dalam doa-doa kita yang sudah dijawab
oleh-Nya, menjadikan pengharapan kita akan pertolongan-Nya semakin nyata, kita senantiasa dicintai oleh-Nya.
Mencintai dan dicintai, menjadikan dunia yang kita lalui menjadi semakin indah, tanpa mengabaikan suka-duka kehidupan kita sebagai pengikut
Kristus.
Sapat, 1 Juli 2007
Happy Birthday to you, Ketut, Agape Mom.
|