|
El Shaddai
Oleh: Joseph Wise Poriman
Dua orang berada di penjara bawah tanah yang gelap, lembab dan
senyap. Satu-satunya akses udara hanyalah sebuah jendela kecil yang
diletakkan di atas. Ketika malam tiba, mereka hanya bisa melihat
kegelapan malam. Seorang di antara mereka mendongak ke atas dan
berkata, “Hidup kita benar-benar terpuruk. Satu-satunya hal yang
bisa kita lihat hanyalah gumpalan lumpur hitam di langit!” dia
terus-menerus menggerutu.
Sebaliknya, yang seorang melihat ke atas dan berkata, ”Kita hanya
sementara berada di sini. Coba tengok, aku melihat bintang-bintang
gemerlapan di atas beledu hitam. Sungguh indah! Tidak lama lagi kita
akan bebas dan bisa meraih bintang kita sendiri dan menjadi
bintang!”
Itulah yang namanya paradigma. Cara kita memandang suatu persoalan
bisa berbeda, bahkan bertolak belakang satu sama lain. Persoalan
bisa sama, tetapi cara menghadapinya yang berbeda dan itulah yang
penting. Hal yang sama dialami oleh William Addis yang pada tahun
1770 berada di penjara Inggris. Dia merasa masa depannya suram jika
dia tidak berbuat apa-apa. Apa yang bisa diharapkan seorang mantan
narapidana. Apalagi kalau dia tinggal di Indonesia karena ada
pepatah “Sekali lancung dalam ujian seumur hidup orang tidak
percaya!” Itulah sebabnya mengapa narapidana seringkali menjadi
penjahat kembali karena tidak ada seorang pun yang mau menerimanya
bekerja. Jika pekerjaan baik-baik tidak bisa dia dapatkan, coba
tebak apa yang akan dia lakukan? Anda benar, kembali ke
pekerjaannya semula.
”Where there is a will, there is a way!” William Addis memutar
otaknya agar bisa menjadi wiraswastawan. Dia ingin menemukan suatu
alat yang berguna, dia ingin membuat sebuah alat yang bisa dipakai
untuk membersihkan gigi. Selama berabab-abad orang membersihkan
giginya dengan kain lap.
Akhirnya dia mendapatkan pencerahan. Dia membuat lubang di ujung
tulang ayam yang baru selesai disantapnya. Kemudian dia minta
beberapa helai bulu sikat dari penjaga penjara. Dengan lem, dia
memasukkan bulu sikat itu ke lubang yang sudah dia buat. Jadilah
sikat gigi yang pertama di dunia! Ketika keluar dari penjara, dia
memulai home industry-nya di bidang sikat gigi. Dagangannya
laris manis dan William Addis menjadi orang yang kaya-raya.
Kisah William Addis yang saya tulis kembali dari karya Don L.
Wulffson dari buku Kisah-Kisah Menarik di Balik Penemuan
Benda-Benda Biasa dalam Kehidupan Sehari-hari itu menunjukkan
sekali lagi bahwa Allah kita yang besar sanggup memberikan ide-ide
besar ke dalam otak kita yang kecil. Banyak penemuan akbar yang
terinspirasi dari alam. Seperti gedung Opera House yang terkenal,
jika orang-orang mungkin mengagumi gedung yang menjadi salah satu
“the most photographed building in the world,” mungkin
kita perlu mengagumi ide dasar bangunan akbar itu. Sebab ternyata
arsiteknya terinspirasi oleh konfigurasi keong. Itulah sebabnya
mengapa bentuknya seperti kulit kerang yang ditangkupkan satu sama
lain.
Oleh sebab itu, jika saat membaca Kolom Kita ini Anda mungkin sedang
berada di “lembah kekelaman” dan “lembah airmata” atau
bahkan “lembah bayang-bayang maut”, jangan pernah menyerah.
Persoalan kita mungkin besar sekali, tetapi Allah kita jauh lebih
besar lagi. Sebab Tuhan kita adalah EL SHADDAI (EL=Elohiym yg
artinya Allah, sedang Shaddai artinya=Mahakuasa). Jadi EL SHADDAI
artinya Allah yang Mahakuasa. El Shaddai mampu melakukan
segala perkara, tidak ada yang mustahil bagi El Shaddai.
Lihat
saja kehidupan Abraham, apa yang tidak mungkin bagi Abraham, sangat
mungkin bagi El Shaddai.
Kejadian
17:1 “Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka
Tuhan menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya:
“Akulah Allah Yang Mahakuasa (nah ini, Allah datang kepada Abram
dengan menampilkan diri sebagai El Shaddai). Saat Tuhan datang
sebagai El Shaddai kepada Abram maka yang mustahil menjadi tidak
mustahil.
Kejadian
17:1b-2 “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku
dengan tidak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan
engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak. “
Saat
Tuhan menyatakan diri sebagai El Shaddai kepada Abram dan mengadakan
perjanjian bahwa dia akan melahirkan seorang anak laki-laki, saat
itu Abraham sudah berumur 99 tahun (sepertinya tidak mungkin bisa
punya anak). Tetapi kuasa Tuhan sungguh tak terbatas, hal itu
benar-benar terjadi, tahun depan Sara, isteri Abraham melahirkan
seorang anak laki-laki, itulah Ishak.
El
Shaddai mampu melakukan segala perkara. Sekalipun itu lembah
kekelaman, sekalipun itu lembah air mata atau bayang-bayang maut,
mari, tetaplah berharap pada Allah El Shaddai. Dan di saat kita
merasa tidak mampu dan tak berdaya, di saat itulah Tuhan akan
menyatakan diri sebagai El Shaddai, sebagai Allah yang Mahakuasa.
Sebab
justru pada usia 99 tahun janji untuk memiliki keturunan itu
diberikan pada Abraham, padahal dalam usia 99 tahun itu secara
logika mana mungkin seseorang itu bisa memiliki keturunan, fisiknya
sudah terlalu lemah, seperti yg tercatat dalam:
Roma 4:19 “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia
mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah
kira-kira seratus tahun dan bahwa rahim Sara telah tertutup.“
Rasanya
sudah tidak mungkin lagi Abraham dan Sara memiliki anak, mereka
sudah terlalu tua, fisiknya sudah sangat lemah, bahkan rahim Sara
juga sudah tertutup, tetapi apa yang tidak mungkin bagi El
Shaddai? Tidak ada yang tidak mungkin! Semuanya mungkin bagi
El Shaddai, amen? El Shaddai mampu melakukan segala perkara,
amen? Semuanya mungkin asalkan kita percaya akan kuasa-Nya.
Oleh sebab itu, apapun yang sedang menimpa kita, jangan
pernah putus asa, percayalah Allah yang Mahakuasa, berharaplah
selalu kepada-Nya.
El Shaddai memberkati kita semua.
|