|
Sindir Menyindir
Oleh: Joan Nugroho
Menyindir,
entah artinya apa. Namun Kita semua mengetahui maksudnya. Mungkin
sebagai orang Jawa sangat mengenal kebiasaan ini. Kalau boleh
didefinisikan mungkin maksudnya adalah menyampaikan makna tersirat
di samping kata-kata yang tersurat.
Orang
Jawa dikenal sangat mahir melakukan hal ini. Namun
apakah hal ini berguna? Marilah kita lihat di Alkitab.
Menurut
Anda apakah Tuhan Yesus Kristus pernah menyindir? Jawabnya: Pernah.
Coba lihat bagian Alkitab yang menyebutkan bahwa Tuhan Yesus pernah
berkata dalam Matius 23:27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama
seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang
bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang-belulang
dan pelbagai jenis kotoran. Yesus juga pernah mengungkapkan kepada
orang-orang yang hendak menjebak Yesus “Barang siapa tidak berdosa
hendaklah melempar batu pertama”. Demikian
juga waktu orang Farisi bertanya bolehkan menyembuhkan orang pada
hari sabat dan Yesus menjawab dengan “implicit” pada Matius
12:10-14. Dan akhirnya orang Farisi menjadi dongkol pada ayat 12:14.
Nah, dari tulisan di atas menurut Anda menyindir
itu baik atau tidak?
Nah, mari kita tinjau lagi di Alkitab di Matius
27:40. Ingat saat Yesus menjelang saat terakhir dan orang Farisi
ganti balik menyindir Yesus dengan berkata: “Hai Engkau yang mau
merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari,
selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib
itu!” Ouwch … sindiran yang sangat “menyakitkan hati”.
Nah sampai di sini sindiran itu baik atau tidak?
Mari kita lihat di Alkitab lagi, oh ya pernahkan
mendengar “Kuman di seberang lautan tampak, namun gajah di pelupuk
mata tidak tampak?” di Matius 7:3 “Mengapakah engkau melihat
selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak
engkau ketahui?”
Nah sampai di sini mungkin kalau kita mau
menyindir orang lain pastikan dulu kita sudah seperti Tuhan Yesus
Kristus belum? kalau belum mungkin lebih baik jangan menyindir deh
… karena jangan jangan: “Mengapakah engkau melihat selumbar di
mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau
ketahui?”
|