|
Engkau berharga di mata-Ku
Oleh: Manasje Korniawan
“Kata
Yesus: ‘Angkat batu itu!’ Marta, saudara orang yang meninggal
itu, berkata kepada-Nya: ‘Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah
empat hari ia mati.’” (Yohanes
11:39)
Tentunya kita tidak asing
dengan kisah yang ditulis dalam Injil tulisan Yohanes 11:1-45, yang
mengisahkan Tuhan Yesus membangkitkan Lazarus yang telah mati empat
hari.
Dari kisah ini, kita dapat mengetahui bahwa Tuhan Yesus sangat
mengasihi Lazarus, dan dengan situasi yang menimpa Lazarus,
digunakan Allah untuk menunjukkan kemuliaan-Nya dan memuliakan Anak
Allah (Tuhan Yesus), dengan melakukan mujizat yang luar biasa (ayat
4).
Tetapi yang sangat menarik
dari kisah ini adalah bahwa Tuhan Yesus tidak bekerja sendirian,
melainkan melibatkan orang lain untuk mengambil bagian dalam proses
kebangkitan Lazarus. Seperti yang kita baca pada ayat 39, Tuhan
Yesus tidak menggulingkan batu penutup kubur itu, juga ayat 44,
tidak membuka kain kafan pembungkus tubuh Lazarus. Tuhan Yesus
melibatkan orang yang ada di sana untuk melakukannya.
Yang menjadi pertanyaan
adalah mengapa Tuhan Yesus tidak menyingkirkan batu dan membuka kain
kafan itu dengan sepatah kata saja, seperti saat menyuruh Lazarus
keluar dari kubur? (ayat 43). Dari kenyataan ini dapat kita
menyimpulkan ada dua hal penting yang ingin Allah tunjukkan kepada
kita, yaitu:
1. Allah selalu ingin
melibatkan manusia, Allah ingin bekerja sama dengan manusia
dalam melakukan pekerjaan-Nya, misi-Nya bagi keselamatan manusia.
Di hadapan Allah, tidak ada
di antara kita yang tidak berarti, semua berharga di mata Allah,
seperti yang dikatakan Alkitab dalam Yesaya 43:4, “Oleh karena
engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi
engkau.”
Banyak orang saat ini yang merasa tidak nyaman, merasa tidak
puas dengan keadaan dirinya, merasa ada kekurangannya, sehingga
sering menyalahkan Tuhan, menyalahkan lingkungan, menyesali diri dan
tidak mau menerima keadaan.
Memang manusia seringkali
melihat penampilan, melihat yang diluar, yang kelihatan,
sementara Allah melihat hati manusia, bukan melihat penampilan. Jadi
bagaimanapun kondisi dan keadaan kita, kita harus bersyukur, dan
belajar untuk melihat kelebihan-kelebihan yang Tuhan sudah
karuniakan kepada kita untuk dipergunakan untuk melayani Tuhan,
bekerja sama dalam kuasaNya menggulingkan batu kubur, sehingga karya
Allah terjadi melalui hidup kita untuk lingkungan di sekitar kita.
2. Allah tidak akan melakukan
mujizat untuk menyelesaikan masalah, jika sebenarnya dalam pandangan
Allah kita mampu, dapat menyelesaikan masalah dalam ketaatan
kepada-Nya.
Ketika Tuhan Yesus
memerintahkan untuk mengangkat batu kubur itu, tentunya dengan
pemikiran bahwa batu itu dapat diangkat, disingkirkan oleh tenaga
manusia. Tak mungkin Tuhan memerintahkan sesuatu yang di luar
kemampuan manusia, seperti dikatakan dalam I Korintus 10:13, “Pencobaan-pencobaan
yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi
kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan
membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu
dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu
dapat menanggungnya.”
Di sinilah kita dituntut
untuk taat dan menyelesaikan masalah tanpa menunggu mujizat. Kadang
menghadapi hal-hal sepele kita minta mujizat untuk mengatasinya,
contohnya ketika kita akan berangkat ke gereja, tiba-tiba turun
hujan, terus kita berdoa kepada Tuhan minta mujizat agar hujan
berhenti, dan kita mengancam Tuhan, kalau hujan tidak berhenti, kita
tidak akan berangkat ke gereja. Padahal hal itu dapat diatasi dengan
menggunakan payung atau jas hujan untuk bisa berangkat ke gereja,
tanpa harus ada mujizat hujan berhenti.
Tuhan Yesus tidak akan
menyingkirkan “batu”, permasalahan yang menghadang hidup kita,
jika pemecahannya berada dalam batas kemampuan kita sendiri.
Jadi bagaimana dengan kita sekarang? Seringkali kita merasa tidak
mampu ikut ambil bagian dalam pelayanan, tidak dapat bersaksi, tidak
dapat berdoa atau berbicara di depan orang banyak. Mintalah Tuhan
menolong kita, bekerja dalam hidup kita dan mengubahkan kita agar
kita dapat dipakai menjadi alat kemuliaan-Nya.
Apapun
yang Tuhan berikan kepada kita, kita dapat memuliakan nama Tuhan,
melalui perhatian kepada sesama, sapaan, senyum ramah, ucapan terima
kasih, kerendahan hati yang kita tunjukkan, itu semua merupakan
bagian yang dapat kita lakukan dalam bekerja sama dengan Allah,
melayani-Nya bagi kemuliaan nama Tuhan.
Sapat,
21 April 2007.
|