|
Bersyukur Dalam Segala Hal
Oleh: Felicia Yosiana Gunawan
Aku
adalah seorang remaja biasa berumur 14 tahun. Ada berbagai
pengalaman dalam hidupku yang tidak biasa dijumpai orang pada
umumnya. Terutama dalam kehidupan berkeluarga. Ibuku, yang biasa
kupanggil ’Mami’, menderita kanker sejak aku berusia 4 tahun.
Itu berarti ia telah hidup bersama kanker selama 10 tahun. Sesuatu
yang jarang dijumpai, mengingat kanker adalah penyakit yang tidak
bisa disembuhkan. Tentu saja masa-masa sulit tersebut bukan hanya
dialami oleh beliau sendirian, namun juga kami-keluarganya- termasuk
aku. Inilah yang ingin kubagi dengan kalian. Betapa baiknya Tuhan
dalam hidup kami.
Pernahkah
anda mendengar kata ’mukjizat’? Mungkin sebagian orang
menganggap mukjizat itu adalah karunia yang begitu besar dari Tuhan.
Pokoknya yang spektakuler deh! Namun tidak di mataku. Mukjizat
adalah setiap ’hal besar’ yang selalu kita anggap sebagai ’hal
kecil’. Menurutku egois sekali bila beranggapan mukjizat itu harus
sebuah hal besar. Dengan penyakit yang dialami Mami, Tuhan
menjelaskan semuanya padaku. Dapat bernapas setiap hari dan selalu
bersama dengan beliau, adalah mukjizat bagiku. Dengan beranggapan
demikian, aku bisa lebih bersyukur dibanding kebanyakan orang.
Bersyukur untuk setiap hal kecil yang terjadi dalam kehidupan kami
setiap harinya. Dan itu menyenangkan.
Semenjak
sakit Mami mulai bertambah parah, aku mulai sering terserang
penyakit migrain. Susah
sekali belajar dalam kondisi kepala sakit sebelah! Namun, karena
ulangan umum semakin dekat, mau tidak mau aku harus bisa. Apalagi
sejak Mami harus masuk RS Mitra International. Migrainku mulai
sering kumat, jauh lebih sering. Kadang bisa sampai jatuh bila
sedang berdiri! Kalau sudah begitu, biasanya aku akan berdoa.
Sebenarnya dokter memberikan obat migrain padaku, namun aku tidak
ingin menggunakan obat tersebut terlalu sering, karena aku tidak mau
jadi bergantung pada obat. Bila emosi sedang kacau saat sedang
migrain, aku akan berteriak. Tentu saja tidak sekeras itu sampai
satu kompleks akan datang ke rumah sambil bawa pentungan atau golok.
Belajar
di rumah sakit adalah salah satu dari kegiatanku setiap harinya.
Bikin stress! Karena biasanya lampu kamar lebih sering dimatikan
agar Mami bisa tidur. Terpaksa aku harus belajar di luar, dan nggak
jarang jadi perhatian suster. But, enjoy aja. Sejak kecil aku punya
kemampuan untuk ”ngobrol” dengan Roh Kudus. Mungkin karena peran
orang tua-khususnya peran Ibu-agak kurang, sehingga Tuhan
mengaruniakan kemampuan tersebut padaku. Asyik juga! Jadinya bisa
minta advice langsung. Pada waktu aku sedang berdoa, aku punya firasat
nggak enak. Maka itu, aku bertanya pada-Nya: ”Tuhan, emang mau ada
bencana, ya?” Tahu jawaban-Nya? ”Mei!” Saya sendiri nggak
ngerti apa maksudnya. Apa Mei bakal ada bencana?
Mei
tiba. Aku mulai semangat karena ulang tahunku dan ulangan umum sudah
mulai dekat. Maklum, ngincer angpaonya gitu... Untuk itu aku
bermaksud merayakannya di rumah sakit, bersama Mami. Rupanya Tuhan
mulai menunjukan maksud ”Mei”-Nya. Mami harus menjalankan
operasi yang kemungkinan berhasilnya kecil, dengan risiko
terbesarnya adalah... Death! Sebelum pengambilan keputusan, aku dan
Papi menyemangati Mami yang semulanya kurang yakin. Kami mengatakan,
mungkin ini adalah jalan Tuhan. Akhirnya ia mulai kuat, dan siap
menjalani operasi besar tersebut. Waktu dia dibawa masuk ruang
operasi aja keren banget! Kalem dan sama sekali nggak nervous. Berjuang,
’Mi!
Saat
operasi selama 3 jam tersebut berjalan. Semua keluarga yang menunggu
sudah keringat dingin dan nggak nafsu bicara. Tapi aku dan Papi
nyantai aja. Kita tahu Tuhan kasih yang terbaik, dan kita percaya
itu. Walau mungkin orang lain bisa saja beranggapan kita malah nggak
peduli. Nah lho?! Tahu apa hasilnya? Operasi Mami berhasil! Aku dan
Papi diperbolehkan masuk untuk melihat mami yang masih terbius dan
juga ’hasil’ operasinya: sebuah anus buatan di perut bagian
kirinya. Mirip-mirip sosis matang yang keluar dari
lubang di perut. Aku memandanginya dengan jijik dan sebal.
Tapi ada juga suka cita, karena keberhasilan para dokter dalam
operasi Mami. Dalam hati aku berteriak ”Yeaaaaaah!” pada Tuhan.
Dua
minggu setelah Mami pulang, dan aku selesai dengan ulangan umum,
keadaannya mulai memburuk. Ia tidak nafsu makan dan bicara. Namun
saat aku memberitahunya bahwa aku sama sekali tidak perlu ikut
perbaikan ulangan umum, ia masih tersenyum padaku. Padahal aku
belajarnya sambil migrain-migrain-an. Ada perasaan meluap yang
hebat! Aku senang bisa memberikan ’kado’ kelulusanku padanya.
Karena memang ini kado terakhir dariku sebelum ia ”lulus” dari
dunia. Sekali lagi aku berteriak ”Yeaaaaah!” pada Tuhan.
Mukjizat banget tuh! Dan sekali lagi, tidak sekeras sampai aku
mendatangkan orang satu kompleks sambil bawa pipa atau pemukul
baseball lho.
Suatu
sore Papi memberitahuku bahwa keadaan mami memburuk. Aku langsung ke kamar Mami untuk mendampinginya, karena mungkin saja ini
adalah saat terakhir mami. Aku dan papi memegang tangannya. Aku
membisikan ”terima kasih ya, ’Mam, udah ngerawat aku selama 14
tahun.” Dan benar, ia pergi setelah peringatan Tuhan padaku:
”Bersiaplah! 10 Menit lagi!” Untuk pertama, dan kurasa terakhir
kalinya, aku menangis di depan Mami yang sudah pergi memenangkan
pertandingan hidupnya. Selama ini, aku tak pernah menangis di depan
Mami, aku tidak mau ia jadi down
karena aku. Lalu, papi juga cerita bahwa satu hari sebelum ia
dipanggil, Mami sempat mengucapkan:
”Haleluya, Amin!” berkali-kali dengan berbisik. Pemakaman
Mami dilangsungkan keesokan harinya. Tapi aku tidak sedih.
Sebaliknya aku bahagia, karena sekarang ia sudah senang bersama
Yesus.
|