|
WWJD
Oleh: John
Adisubrata
“Barangsiapa
memegang perintah-Ku dan melakukannya,
dialah yang mengasihi Aku.
Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan
Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
(Yohanes 14:21)
Akhir-akhir
ini seni cetak dan semboyan-semboyan yang ditampilkan di atas
baju-baju T-shirt
modern zaman sekarang sudah menjadi bertambah
berani
saja, dihiasi
dengan yang
gambar-gambar
yang berwarna-warni. Dari merek-merek terkenal di dunia,
nama-nama atau foto-foto orang/artis termasyhur disertai oleh
kalimat-kalimat sangat ‘catchy’,
sampai kalimat-kalimat yang mengutarakan tema-tema yang sudah
menjurus pada hal-hal yang tidak sopan, bahkan kadang-kadang ... berbau
porno.
Tetapi
di lain pihak, pernahkah
Anda melihat, atau paling sedikit mendengar tentang ‘slogan’ pendek termasyhur yang sekarang sudah menjadi ‘trademark’
orang-orang Kristen semenjak pertengahan dasawarsa ke-90, yang
berbunyi: WWJD (What
Would Jesus Do?)?
Sampai
saat
ini
baju-baju T-shirt seperti itu masih bisa terlihat dikenakan oleh
kaum muda-mudi,
bahkan
kadang-kadang oleh orang-orang yang sudah lebih ‘mature’
umurnya,
baik di
Australia
, Eropa,
maupun
di
Indonesia
. Saya
sendiri memiliki dan sering kali mengenakannya.
Semboyan
berbentuk pertanyaan pendek yang berhasil dipromosikan secara global
oleh perusahaan-perusahaan ‘kristiani’
ini mempunyai sejarah yang cukup mengesankan. Tahukah Anda, siapa
yang memulai slogan yang
sudah diterima secara internasional oleh para pengikut Kristus dari
berbagai denominasi, besar ataupun
kecil, sebagai salah satu semboyan kristiani yang paling dikenal di
dunia saat ini?
Alkisah,
… pada tahun 1896 sebuah buku yang ditulis oleh Charles Sheldon, berjudul ‘In
His Steps’,
mengakibatkan ungkapan yang sudah berabad-abad sebelumnya menjadi pedoman hidup
orang-orang Kristen ditanggapi oleh tubuh Kristus dengan lebih
serius lagi. ‘Imitatio
Dei’ yang berarti: Meniru
Tuhan, menjadi tema utama buku yang sebenarnya adalah hasil
kumpulan khotbah-khotbah yang ia berikan setiap hari Minggu kepada
jemaat gerejanya di
Topeka
,
Kansas
, di Amerika.
Di dalam buku tersebut
ungkapan Charles Sheldon tampil berkali-kali untuk menantang jemaat
setempat (dan
juga para pembacanya), agar mereka mau memberikan ‘commitment’
pada kehidupan ‘Christian Socialism’. Di sana phrase ‘What Would Jesus Do?’ disinggung berulang-ulang kali, di mana Tuhan
Yesus Kristus
lebih dipromosikan sebagai seorang Pemberi Contoh Moral yang harus diteladani, dari pada sebagai Juruselamat
manusia.
Semboyan tersebut menjadi
termasyhur sekali
di antara para pengikut Kristus di abad
itu, sehingga mengakibatkan timbulnya sebuah gerakan kristiani
populer di Amerika Serikat yang dinamakan:
‘Social
Gospel’, di mana Injil diberitakan oleh
mereka melalui pelayanan kasih terhadap
sesama manusia yang sedang membutuhkannya.
Salah seorang pelopornya yang
bernama Walter Rauschenbusch
mengakui, bahwa semboyan
yang dibahas berkali-kali di dalam buku In His Steps sudah mempengaruhinya untuk melibatkan
diri
di dalam gerakan tersebut. Buku yang pada tahun 1935 sudah
diterjemahkan ke dalam 21 bahasa
ternyata berhasil menjadi salah satu ‘bestseller’
bertaraf antarbangsa selama dua abad berturut-turut.
Salah satu kisah nyata
mengharukan yang disajikan
di sana
adalah kisah pertemuan salah seorang dari beberapa tokoh-tokoh terpenting di dalam buku tersebut,
seorang pendeta bernama Rev
Henry Maxwell dengan seorang lelaki tunawisma,
yang mengakibatkan hati nuraninya merasa tertegur sekali. Pertemuan
tak terduga itu menggugah dirinya
untuk mempertimbangkan kembali ungkapan: Meniru
Tuhan
dengan menanggapinya secara lebih serius
lagi.
Laki-laki yang
tidak memiliki tempat tinggal tetap tersebut menceriterakan
kesulitannya untuk memahami tingkah-tingkah laku orang-orang Kristen
yang pernah ditemui olehnya.
“Saya
mendengarkan mereka menyanyi di dalam gereja pada suatu malam
pertemuan doa,” ujarnya: “All
for Jesus, all for Jesus (Semua untuk
Yesus, semua untuk Yesus),
All
my being’s ransomed powers (Seluruh
keberadaanku di bawah kuasa-kuasa penebus), All my thoughts, and
all my doings (Segala
pikiran-pikiranku, dan
segala perbuatan-perbuatanku), All
my days, and all my hours
(Semua hari-hariku, dan semua jam-jamku).”
“Saya
merasa heran ketika duduk di atas tangga di luar gereja mendengarkan
lagu itu dikumandangkan
dari dalam,”
terusnya: “Menurut pendapat
saya, banyak sekali masalah
yang terjadi
di dunia ini yang bisa diatasi dengan segera,
jika semua orang yang ada di dalam gereja tersebut tidak hanya
menyanyi saja, tetapi pergi dan melakukannya.”
Ia menghela nafas sebentar
sebelum meneruskan keluhannya: “Mungkin
saya belum bisa memahaminya. Tapi … apakah
yang akan Yesus lakukan? (What
Would Jesus Do?) Apakah itu yang kalian maksudkan dengan
mengikuti langkah-langkah-Nya? Kelihatannya, … orang-orang yang beribadah di dalam gereja-gereja yang besar
dan megah selalu
mengenakan pakaian-pakaian yang indah,
tinggal di dalam rumah-rumah yang bagus, memiliki uang yang
berlebih-lebihan untuk bisa membeli barang-barang yang mewah, pergi
bertamasya di musim panas,
dan lain sebagainya.
Sedangkan orang-orang yang
berada di luar gereja, … beribu-ribu
banyaknya, mati kelaparan terhimpit di
dalam rumah-rumah kecil bersesak-sesakan, harus berjalan kaki kian-kemari untuk mencari nafkah. Mereka
tidak pernah memiliki piano atau pigura-pigura foto di dalam rumah,
bahkan harus hidup penuh penderitaan akibat kekerasan, kemabukan dan
perbuatan-perbuatan dosa yang terjadi di sekeliling mereka.”
Inilah awal dari banyak
sekali tokoh-tokoh
yang tampil di dalam buku itu yang menggunakan ungkapan berbentuk
pertanyaan: “What
Would Jesus Do?” pada saat mereka harus menghadapi berbagai macam
persoalan-persoalan penting yang memerlukan keputusan-keputusan
mereka seketika itu juga.
Mereka selalu bertanya: “Tindakan
apakah yang akan dilakukan oleh Yesus, jika Ia harus menghadapi
masalah yang sedang kuhadapi ini?”
Sebagai akibat
tantangan-tantangan tersebut,
semua tokoh-tokoh
yang tampil di dalam buku itu
harus lebih bersungguh-sungguh di dalam
menanggapi makna iman kristiani mereka. Mereka harus lebih bersandar
pada pusat kepercayaan mereka, yaitu: Kristus
dan Kehidupan-Nya!
Di
dalam Kitab Matius pasal
yang ke-25,
Tuhan
Yesus
mengajar para pengikut-Nya
mengenai
hal-hal yang akan terjadi di akhir zaman. Ia berkata, bahwa Ia akan
datang kembali diiringi oleh semua malaikat sorgawi, duduk di atas
takhta kerajaan-Nya dengan penuh kemuliaan, serta mengumpulkan
segala bangsa di dunia datang menghadap untuk diadili.
Di
sana
mereka akan dipisahkan seorang dari pada yang lain, seperti
memisahkan domba dari kambing. Domba-domba
akan
ditempatkan di
sebelah kanan-Nya,
sedangkan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Kaum domba diibaratkan oleh Yesus sebagai hamba-hamba setia yang
melakukan kehendak-kehendak-Nya. Sedangkan kambing-kambing
diibaratkan sebagai para pengikut-Nya yang mengabaikan
perintah-perintah-Nya.
Yesus
melukiskan kesetiaan domba-domba-Nya seperti ini: “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di
sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku,
terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia
dijadikan. Sebab ketika Aku
lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku
haus, kamu memberi Aku
minum; ketika Aku seorang
asing, kamu memberi Aku
tumpangan; ketika Aku
telanjang, kamu memberi
Aku pakaian; ketika Aku
sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku
di dalam penjara, kamu
mengunjungi Aku.”
(Matius 25:34-36)
Hal-hal
yang dilakukan oleh domba-domba tersebut adalah kebiasaan-kebiasaan
yang selalu dikerjakan oleh Tuhan Yesus sendiri selama masa
pelayanan-Nya di dunia yang amat singkat. Di dalam keempat Injil
Perjanjian Baru dikatakan, bahwa Ia selalu melayani setiap orang
yang memerlukan pertolongan-Nya. Semua
itu Ia lakukan dengan penuh kasih dan ketulusan hati. Domba-domba
itu berkenan di hadapan-Nya, karena mereka sudah meniru
langkah-langkah-Nya.
Yesus
mengakhiri
tema bahasan mengenai domba-domba yang setia
itu
dengan
berkata: “Dan
Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala
sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang
paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Matius 25:40)
Ayat
tersebut merangkum seluruh pengertian, bahwa segala sesuatu yang
kita kerjakan untuk orang-orang lain yang sedang membutuhkan
pertolongan kita, adalah tindakan dari Kristus (yang melayani), untuk Kristus (yang
dilayani)!
“Jadi
jika seorang tahu bagaimana
ia harus berbuat baik, tetapi
ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
(Yakobus 4:17)
John
Adisubrata
John.Adisubrata[at]gmail.com
Oktober
2007
|