|
Mengapa Nasibku Demikian Buruk?
Oleh: Heman Elia
Ya,
mengapa nasibku sedemikian buruk? Apakah kesalahanku? Mengapa Tuhan
begitu tega membiarkanku menderita? Sungguhkan Tuhan mempedulikanku?
Adakalanya
kita tidak tahan berteriak atau bertanya demikian. Lebih dari itu,
kita sangat tergoda untuk menyalahkan Tuhan atas segala malapetaka
yang menimpa kita. Bahkan tidak jarang kita melakukan dosa dengan
alasan bahwa toh Tuhan
mengerti bahwa saya “terpaksa” lakukan ini karena penderitaan
yang saya alami.
Penderitaan
manusia modern memang begitu banyak dan rumit. Ketidakadilan terjadi
di mana-mana. Orang yang tidak bersalah acapkali harus menderita
akibat perlakuan orang lain yang tidak baik. Keluarga
terpecah-belah, meninggalkan luka batin yang tak kunjung sembuh.
Anak-anak dan wanita baik-baik diperkosa dan dibiarkan hancur masa
depannya, acapkali bukan oleh orang yang tak dikenal, melainkan oleh
keluarga dekat sendiri. Hubungan baik di bidang bisnis diakhiri
dengan “orang makan orang”, yang menjadi korban penipuan bisnis
justru dituduh menipu dan dijebloskan ke dalam tahanan. Orang
tertular HIV, virus mematikan itu, seringkali akibat kecerobohan
orang lain. Daftar ini masih dapat diteruskan hingga jumlah yang
tidak terbatas.
Bila
orang percaya
mengalami pula semua penderitaan ini, lalu apakah keistimewaan
menjadi orang percaya? Bila kita mungkin bernasib lebih buruk dari orang yang
tidak percaya, lalu bagaimana orang lain dapat tertarik untuk
mengenal Tuhan? Bukankah kita seharusnya dapat mengklaim bahwa
percaya Yesus dapat memiliki kebahagiaan sejati? Kalau demikian,
apakah artinya kebahagiaan sejati itu?
Yesus pun bernasib buruk?
Bila kita tidak puas terhadap hidup ini, rasanya kita perlu
menengok kembali bagaimana hidup Yesus. Sejak lahir Ia harus
menderita. Ia miskin secara materi, ditolak dan dibenci,
dikejar-kejar, bahkan sudah ditentukan sejak semula bahwa kematian-Nya
haruslah secara sangat memalukan dan mengerikan: disalibkan. Apakah
kesalahannya? Sama sekali tidak ada. Bahkan “Dia yang tidak
mengenal dosa dibuat Allah menjadi berdosa karena kita, supaya dalam
Yesus, kita dibenarkan oleh Allah”(2 Kor 5:21).
Apakah
dengan demikian dapat kita katakan bahwa Ia bernasib buruk? Sama
sekali tidak! Karena Allah sangat meninggikan Kristus dan
mengaruniakan kepada-Nya
nama di atas segala nama (Filipi 2:9). Ayat sebelumnya menjelaskan
mengapa Allah sangat berkenan pada Kristus. Yakni bahwa Kristus,
walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah
itu harus dipertahankan, namun ia merendahkan dirinya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Fil 2:6-8).
Jadi
persoalannya adalah dari sudut apakah kita memandang kehidupan kita.
Boleh jadi kita dipandang sebagai bernasib sial oleh dunia. Tetapi
dalam pandangan Allah, kita dimuliakan. Satu syarat, yakni bahwa
kita harus taat kepada Allah walaupun dalam penderitaan. Namun
acapkali justru ketaatan inilah yang paling sulit
kita jalani.
Sepanjang
sejarah umat Israel, mereka berkali-kali dihukum oleh Allah.
Mengapa? Karena dalam zaman
Musa misalnya, umat Israel yang ketika itu dibawa keluar dari Mesir
terus-menerus bersungut-sungut dan menyesali nasib buruk mereka. Hal
ini membangkitkan murka Tuhan, karena menunjukkan pemberontakan dan
ketidakpercayaan umat akan
pimpinan-Nya.
Padahal dalam zaman Musa itu pulalah Allah mengadakan berbagai
mujizat yang sangat mengherankan di depan mata umat Israel.
Yang
diharapkan dari kita sebenarnya adalah kepercayaan penuh bahwa Tuhan
tidak pernah merancang yang buruk untuk kita, bagaimanapun pahitnya
kenyataan yang sedang kita hadapi. Seyogyanya
kita tidak bertanya,
“Apa
sih sebenarnya maunya Tuhan?”
Sebab..... “Adakah tanah
liat berkata kepada pembentuknya:
Apakah yang kaubuat?” (Yes. 45:9).
Sikap
yang indah diberikan oleh Yusuf anak Yakub, yang sekalipun mengalami
berbagai nasib buruk, namun masih percaya dan berpegang pada janji
Tuhan. Yusuf tidak pernah meratapi nasibnya. Sebaliknya, ia
menjalani kehidupannya dengan tabah, sekalipun pemenuhan janji Allah
sama sekali belum dinyatakan. Sikap yang patut diteladani juga
diperlihatkan Ayub, yang di
hari-hari kemalangannya masih mampu mengeluarkan perkataan yang
agung, “Tuhan
yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayub 1:21).
Apakah
dengan demikian kita sebaiknya pasrah saja dan tidak usah berjuang?
Apakah kita harus mematikan kehidupan emosi kita, karena rasa takut
dan sedih sesungguhnya merupakan perasaan yang tidak seharusnya
dimiliki seorang Kristen? Sama sekali tidak!
Kembali
pada Kristus, pada saat Ia menghadapi kayu salib, Ia sangat
ketakutan dan sedih (Mat. 26:37, 38). Bahkan perasaan ini
diungkapkan pula kepada murid-murid terdekat-Nya.
Bukan hanya itu. Dalam doaNya, Ia mengalami pergumulan dan konflik diri
yang sangat hebat. Ia tahu persis penderitaan yang bakal
dihadapi-Nya.
Suatu
penderitaan yang jauh melampaui daya tangkap rasio kita. Dalam
kesulitan, Ia memohon, “Ya
Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari
pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan
seperti yang Engkau kehendaki!”
Jadi,
ketaatan kita bukanlah ketaatan tanpa pergumulan,
melainkan
suatu usaha yang serius untuk tunduk pada keinginan Roh Kudus.
Pergumulan Kristus diakhiri dengan kemenangan. Ia menjalani kehendak
Bapa, dan dengan tenang Ia berjalan ke Golgota. Pada
hari yang ketiga Ia bangkit dari kematian. Sedangkan di dalam
pergumulan dan doa kita, Roh Kudus akan menghibur dan memberi kita
kekuatan untuk menghadapi hidup ini.
Apakah pengharapan kita?
Sekalipun banyak orang mengetahui kebenaran di atas, namun
setelah bertahun-tahun taat dan menunggu, nasib tidak kunjung
berubah menjadi lebih baik. Lalu muncul ketidakpuasan, frustrasi,
dan ketidaksabaran. Apalagi bila membandingkan diri dengan orang
yang melakukan kejahatan namun tetap terus beruntung. Kemarahan
rasanya tidak
terbendung lagi. Bagaimanakah
sebenarnya kita perlu menyikapinya?
Banyak
orang berharap bahwa masalah dan problema hidup akan terselesaikan dengan sendirinya. Banyak orang mengira bahwa bila
Tuhan mengasihi mereka, pastilah segala persoalannya akan dibereskan
Tuhan. Tidak disangkal bahwa hal demikian sangatlah
sering terjadi. Namun tidak selalu persoalan akan berakhir mulus dan
baik. Yusuf akhirnya menjadi raja muda di Mesir, Ayub memperoleh berkat dua kali lipat setelah musibah dahsyat
yang dialaminya. Sebaliknya,
Yohanes Pembaptis mati dipancung kepalanya oleh raja Herodes, Petrus
dan Paulus mati syahid, Yohanes meninggal dalam pengasingan di pulau
Patmos; akhir hidup yang sungguh mengenaskan.
Bila
kita mengamati
secara cermat berbagai kisah di atas, maka kita akan dapati bahwa
kemalangan atau keberuntungan tidaklah dapat menjadi tolok ukur
harapan kita. Yang harus kita raih adalah: hidup yang berkenan
kepada Allah. Bila
hal ini yang kita kejar, kita akan menghasilkan buah Roh, yakni:
kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan,
kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Hidup kita pun akan
lebih sejahtera. Rasa frustrasi juga akan sirna karena kita
mempunyai pengharapan yang tepat.
Keistimewaan
dan daya tarik menjadi pengikut Kristus tidaklah didasarkan pada
keberuntungan dan nasib baik kita. Melainkan pada sukacita dan damai
sejahtera yang kita miliki, apa pun
yang sedang kita alami. Juga karena status dan hak istimewa untuk
menjadi anak-anak Allah karena kita percaya kepada-Nya (Yoh.1:12).
Andaikan
orang Kristen mempunyai respons, ketaatan, dan pandangan yang benar
menurut Firman Tuhan, Rumah Sakit dan ruang konseling pasti tidak
seramai sekarang ini.
Jadi,
kita sungguh mampu berbahagia, meskipun hidup ini memang sulit!!
***
|