Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Mengapa Nasibku Demikian Buruk?
Oleh:
Heman Elia



Ya, mengapa nasibku sedemikian buruk? Apakah kesalahanku? Mengapa Tuhan begitu tega membiarkanku menderita? Sungguhkan Tuhan mempedulikanku?

Adakalanya kita tidak tahan berteriak atau bertanya demikian. Lebih dari itu, kita sangat tergoda untuk menyalahkan Tuhan atas segala malapetaka yang menimpa kita. Bahkan tidak jarang kita melakukan dosa dengan alasan bahwa toh Tuhan mengerti bahwa saya “terpaksa” lakukan ini karena penderitaan yang saya alami.

Penderitaan manusia modern memang begitu banyak dan rumit. Ketidakadilan terjadi di mana-mana. Orang yang tidak bersalah acapkali harus menderita akibat perlakuan orang lain yang tidak baik. Keluarga terpecah-belah, meninggalkan luka batin yang tak kunjung sembuh. Anak-anak dan wanita baik-baik diperkosa dan dibiarkan hancur masa depannya, acapkali bukan oleh orang yang tak dikenal, melainkan oleh keluarga dekat sendiri. Hubungan baik di bidang bisnis diakhiri dengan “orang makan orang”, yang menjadi korban penipuan bisnis justru dituduh menipu dan dijebloskan ke dalam tahanan. Orang tertular HIV, virus mematikan itu, seringkali akibat kecerobohan orang lain. Daftar ini masih dapat diteruskan hingga jumlah yang tidak terbatas.

Bila orang percaya mengalami pula semua penderitaan ini, lalu apakah keistimewaan menjadi orang percaya? Bila kita mungkin bernasib lebih buruk dari orang yang tidak percaya, lalu bagaimana orang lain dapat tertarik untuk mengenal Tuhan? Bukankah kita seharusnya dapat mengklaim bahwa percaya Yesus dapat memiliki kebahagiaan sejati? Kalau demikian, apakah artinya kebahagiaan sejati itu?

Yesus pun bernasib buruk?
Bila kita tidak puas terhadap hidup ini, rasanya kita perlu menengok kembali bagaimana hidup Yesus. Sejak lahir Ia harus menderita. Ia miskin secara materi, ditolak dan dibenci, dikejar-kejar, bahkan sudah ditentukan sejak semula bahwa kematian-Nya haruslah secara sangat memalukan dan mengerikan: disalibkan. Apakah kesalahannya? Sama sekali tidak ada. Bahkan “Dia yang tidak mengenal dosa dibuat Allah menjadi berdosa karena kita, supaya dalam Yesus, kita dibenarkan oleh Allah”(2 Kor 5:21).

Apakah dengan demikian dapat kita katakan bahwa Ia bernasib buruk? Sama sekali tidak! Karena Allah sangat meninggikan Kristus dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (Filipi 2:9). Ayat sebelumnya menjelaskan mengapa Allah sangat berkenan pada Kristus. Yakni bahwa Kristus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu harus dipertahankan, namun ia merendahkan dirinya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Fil 2:6-8).

Jadi persoalannya adalah dari sudut apakah kita memandang kehidupan kita. Boleh jadi kita dipandang sebagai bernasib sial oleh dunia. Tetapi dalam pandangan Allah, kita dimuliakan. Satu syarat, yakni bahwa kita harus taat kepada Allah walaupun dalam penderitaan. Namun acapkali justru ketaatan inilah yang paling sulit kita jalani.

Sepanjang sejarah umat Israel, mereka berkali-kali dihukum oleh Allah. Mengapa? Karena dalam zaman Musa misalnya, umat Israel yang ketika itu dibawa keluar dari Mesir terus-menerus bersungut-sungut dan menyesali nasib buruk mereka. Hal ini membangkitkan murka Tuhan, karena menunjukkan pemberontakan dan ketidakpercayaan umat akan pimpinan-Nya. Padahal dalam zaman Musa itu pulalah Allah mengadakan berbagai mujizat yang sangat mengherankan di depan mata umat Israel.

Yang diharapkan dari kita sebenarnya adalah kepercayaan penuh bahwa Tuhan tidak pernah merancang yang buruk untuk kita, bagaimanapun pahitnya kenyataan yang sedang kita hadapi. Seyogyanya kita tidak bertanya, Apa sih sebenarnya maunya Tuhan? Sebab..... “Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: Apakah yang kaubuat?” (Yes. 45:9).

Sikap yang indah diberikan oleh Yusuf anak Yakub, yang sekalipun mengalami berbagai nasib buruk, namun masih percaya dan berpegang pada janji Tuhan. Yusuf tidak pernah meratapi nasibnya. Sebaliknya, ia menjalani kehidupannya dengan tabah, sekalipun pemenuhan janji Allah sama sekali belum dinyatakan. Sikap yang patut diteladani juga diperlihatkan Ayub, yang  di hari-hari kemalangannya masih mampu mengeluarkan perkataan yang agung, Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan! (Ayub 1:21).

 

Apakah dengan demikian kita sebaiknya pasrah saja dan tidak usah berjuang? Apakah kita harus mematikan kehidupan emosi kita, karena rasa takut dan sedih sesungguhnya merupakan perasaan yang tidak seharusnya dimiliki seorang Kristen? Sama sekali tidak!

Kembali pada Kristus, pada saat Ia menghadapi kayu salib, Ia sangat ketakutan dan sedih (Mat. 26:37, 38). Bahkan perasaan ini diungkapkan pula kepada murid-murid terdekat-Nya. Bukan hanya itu. Dalam doaNya, Ia mengalami pergumulan dan konflik diri yang sangat hebat. Ia tahu persis penderitaan yang bakal dihadapi-Nya. Suatu penderitaan yang jauh melampaui daya tangkap rasio kita. Dalam kesulitan, Ia memohon, Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki!”

Jadi, ketaatan kita bukanlah ketaatan tanpa pergumulan, melainkan suatu usaha yang serius untuk tunduk pada keinginan Roh Kudus. Pergumulan Kristus diakhiri dengan kemenangan. Ia menjalani kehendak Bapa, dan dengan tenang Ia berjalan ke Golgota. Pada hari yang ketiga Ia bangkit dari kematian. Sedangkan di dalam pergumulan dan doa kita, Roh Kudus akan menghibur dan memberi kita kekuatan untuk menghadapi hidup ini.

Apakah pengharapan kita?
Sekalipun banyak orang mengetahui kebenaran di atas, namun setelah bertahun-tahun taat dan menunggu, nasib tidak kunjung berubah menjadi lebih baik. Lalu muncul ketidakpuasan, frustrasi, dan ketidaksabaran. Apalagi bila membandingkan diri dengan orang yang melakukan kejahatan namun tetap terus beruntung. Kemarahan rasanya tidak terbendung lagi. Bagaimanakah sebenarnya kita perlu menyikapinya?

Banyak orang berharap bahwa masalah dan problema hidup akan terselesaikan dengan sendirinya. Banyak orang mengira bahwa bila Tuhan mengasihi mereka, pastilah segala persoalannya akan dibereskan Tuhan. Tidak disangkal bahwa hal demikian sangatlah sering terjadi. Namun tidak selalu persoalan akan berakhir mulus dan baik. Yusuf akhirnya menjadi raja muda di Mesir, Ayub memperoleh berkat dua kali lipat setelah musibah dahsyat yang dialaminya. Sebaliknya, Yohanes Pembaptis mati dipancung kepalanya oleh raja Herodes, Petrus dan Paulus mati syahid, Yohanes meninggal dalam pengasingan di pulau Patmos; akhir hidup yang sungguh mengenaskan.

Bila kita mengamati secara cermat berbagai kisah di atas, maka kita akan dapati bahwa kemalangan atau keberuntungan tidaklah dapat menjadi tolok ukur harapan kita. Yang harus kita raih adalah: hidup yang berkenan kepada Allah. Bila hal ini yang kita kejar, kita akan menghasilkan buah Roh, yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Hidup kita pun akan lebih sejahtera. Rasa frustrasi juga akan sirna karena kita mempunyai pengharapan yang tepat.

Keistimewaan dan daya tarik menjadi pengikut Kristus tidaklah didasarkan pada keberuntungan dan nasib baik kita. Melainkan pada sukacita dan damai sejahtera yang kita miliki, apa pun yang sedang kita alami. Juga karena status dan hak istimewa untuk menjadi anak-anak Allah karena kita percaya kepada-Nya (Yoh.1:12).

Andaikan orang Kristen mempunyai respons, ketaatan, dan pandangan yang benar menurut Firman Tuhan, Rumah Sakit dan ruang konseling pasti tidak seramai sekarang ini.

Jadi, kita sungguh mampu berbahagia, meskipun hidup ini memang sulit!!

***