|
WWJB
Oleh: John Adisubrata
“Inilah
tandanya, bahwa kita
mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila
kita mengasihi Allah serta melakukan
perintah-perintah-Nya.”
(1Yohanes 5:2)
Pertengahan
dasawarsa ke-90, ungkapan ‘What
Would Jesus Do?’
menjadi
termasyhur lagi di dunia setelah dipasarkan
secara global
melalui cetakan-cetakan yang tertera pada baju-baju T-shirt atau barang-barang klenak-klenik,
sebagai akibat ketenaran khotbah seorang Evangelist
dari Amerika Serikat,
bernama
Tony Campolo. Ia diakui
pada masa itu sebagai seorang pengkhotbah yang sanggup ‘mencuci
bersih’ hati nurani setiap pendengarnya, terutama
generasi-generasi yang masih muda belia.
Pelayanannya
diawali akhir tahun 80-an, yang kemudian berkembang secara
internasional awal tahun 90-an. Salah satu dari beberapa khotbahnya
yang paling termasyhur di
dunia adalah:
‘Thank
God It’s Friday, Sunday
is Coming!’
Saya
pernah melihat dia dan mendengar khotbahnya di sebuah gereja Uniting
di
kota
Brisbane
,
Australia
kira-kira tahun 1991.
Ketika
itu saya belum bertemu dengan Kristus. Tetapi terus terang saja,
saya merasakan sesuatu hal sudah terjadi di dalam diri saya malam
tersebut. Pada waktu itu saya tidak menyadari konsekuensinya. Tetapi
saya yakin, khotbahnya telah menggugah
hati saya untuk pertama kalinya sebagai persiapan pertobatan saya
beberapa tahun kemudian, tepatnya di bulan Maret 1997.
Tony Campolo-lah yang
menyebabkan ungkapan pendek WWJD
diperbincangkan lagi oleh orang-orang kristiani di seluruh dunia
abad berikutnya. Dan entah bagaimana awal-mulanya, ... ungkapan
sangat ‘catchy’ itu
berhasil dipasarkan oleh para pengusahawan ‘Kristen’
yang berbakat, sehingga bisa menjadi salah satu ‘trademark’
kristiani yang berharga milyunan dollars!
Tetapi
semenjak
pertengahan dasawarsa terakhir
ini,
ungkapan itu
diplagiat lagi dan dipergunakan oleh para aktivis anti-perang
di dunia barat untuk mengekspresikan semboyan mereka kepada
masyarakat umum.
Singkatan
termasyhur WWJD
mereka
ubah
menjadi … WWJB!
Seperti
10 tahun sebelumnya, sekarang
di mana-mana tampak
berkeliaran baju-baju
T-shirt ‘What Would Jesus Bomb?’
atau ‘Who Would Jesus Bomb?’ yang
dikenakan
oleh orang-orang sebagai cara-cara
mereka untuk mengungkapkan protes terhadap peperangan-peperangan
yang sedang terjadi di dunia. Tentangan tersebut terutama ditujukan
kepada perserikatan tiga
negara
‘Kristen’:
Amerika,
Inggris
dan
Australia
, yang sudah berani bersatu menyerbu
Afghanistan
,
dan
kemudian
Irak awal abad ini.
Ironisnya, ... ungkapan baru
yang dipergunakan sebagai semboyan mereka sebenarnya adalah inti
kisah yang diceriterakan oleh Ev Tony Campolo di dalam khotbahnya
lebih dari 15 tahun yang lalu, yang sudah
menjadi penyebab
peluncuran singkatan termasyhur WWJD
sebagai salah satu dari ungkapan-ungkapan kristiani yang paling
dikenal di dunia.
Di
sana
ia mengisahkan seorang pilot muda yang di luar kemauannya sendiri
dipaksa untuk menjadi anggota militer angkatan udara pada zaman
Perang
Dunia Kedua.
Ia menolak dengan tegas titah atasannya untuk menjatuhkan bom-bom dari
pesawatnya ke
daerah musuh: “Saya adalah
pengikut Kristus. Setiap kali saya melakukan sesuatu yang saya
sendiri tidak bisa memutuskannya, saya selalu bertanya: ‘What
would Jesus do? Apakah
Ia mau melakukan pemboman ini, seandainya Anda memerintahkan hal itu
kepada-Nya?’ Firman Tuhan
mengajarkan,
bahwa Yesus adalah
pengasih umat
manusia,
bukan pembenci mereka.
Ia pengarunia hidup, bukan
pembunuhnya. Ia
penyelamat jiwa, bukan
pencabutnya. Ia penawar
keselamatan hidup, bukan
penyesahnya. Saya sudah berjanji untuk selalu meneladani
perbuatan-perbuatan-Nya. Saya yakin, Ia tidak akan pernah mau
menganiaya umat ciptaan-Nya sendiri. Oleh karena itu,
saya juga menolak perintah
Anda untuk menjatuhkan bom-bom tersebut.”
Sebenarnya
alasan yang diberikan olehnya absah
sekali. Tanpa ingin melibatkan diri di dalam diskusi politik
dunia, mengenai sebab-sebab
atau akibat-akibatnya, meskipun WWJB
dipergunakan oleh para aktivis anti-perang
dan pemrotes-pemrotes yang lain sebagai salah satu cara untuk
mempermalukan negara-negara ‘Kristen’
tersebut, ungkapan baru yang terselip di dalam khotbah Ev Tony
Campolo memperingatkan kita akan ajaran-ajaran Kristus yang harus
selalu diteladani oleh para pengikut-Nya.
Seperti
yang sudah dibahas di dalam artikel sebelumnya, ajaran Tuhan Yesus
yang dicatat di Matius 25:40 meneguhkan, bahwa segala sesuatu yang
kita kerjakan bagi orang-orang lain, baik itu orang-orang kristiani
maupun bukan, adalah tindakan dari Kristus (yang
melayani), untuk
Kristus (yang dilayani). Oleh
karena itu, setiap tindakan yang akan kita lakukan, yang bisa
merugikan atau menyebabkan orang-orang lain menderita, … pasti
bukan berasal dari Dia! Begitu juga tindakan-tindakan yang bisa membingungkan
pengertian orang-orang mengenai ‘Siapakah sebenarnya
Kristus’ serta kebenaran firman-Nya, menyesatkan atau mengakibatkan
hidup mereka menjadi jauh dari Tuhan, … pasti
bukan berasal dari Dia! Apalagi tindakan-tindakan kejam yang membuat
orang-orang menjadi takut, yang bisa membahayakan hidup
atau membunuh mereka, saya jamin … pasti
bukan berasal dari Tuhan!
Tindakan-tindakan
Kristus selalu berkisar pada kasih,
… karena Ia adalah KASIH itu sendiri! Tidak mungkin Ia mau menyesatkan, menganiaya
atau membunuh tubuh-Nya sendiri! Firman Tuhan mengatakan,
bahwa Ia adalah Kepala Gereja-Nya (Tubuh
Kristus). Rasul Paulus
menulis: “Sebab
segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh
Dia, dan kepada Dia: Bagi
Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.”
(Roma 11:36)
Jika
ada seorang ekstremis yang berani mengatakan, bahwa untuk ‘Allah’ ia bersedia mati dengan meledakkan sebuah bom yang
melekat pada tubuhnya guna menganiaya,
membunuh orang-orang, atau
menghancurkan kehidupan
tak terhitung banyaknya orang-orang lain yang tidak bersalah, ia
benar-benar sudah tertipu oleh Iblis.
Yesus
berkata: “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin
melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah PEMBUNUH MANUSIA
sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia
tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas
kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa
segala dusta.” (Yohanes 8:44)
Menurut
firman Tuhan, Yesus bukan hanya Anak
Allah saja, tetapi Ia adalah: ‘The
Great I AM’ (Yohanes 8:58),
Raja
di atas segala raja,
Tuhan di atas segala tuhan (1 Timotius 6:15, Wahyu 17:14), Pencipta
langit dan bumi (Yohanes 1:10), Alfa dan Omega (Wahyu 1:8) dan banyak sekali bukti-bukti lainnya
yang tercatat di
sana
. Mengenai
akhir zaman yang sedang kita lalui saat ini, Tuhan Yesus berkata: “Kamu
akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan MENYANGKA bahwa ia berbuat bakti
bagi Allah.” (Yohanes 16:2)
Sebagai
Alfa dan Omega, Ia sudah mengetahui dari awalnya yang akhirnya akan
terjadi. Ia mengajarkan kepada kita, pengikut-pengikut-Nya, bahwa di
akhir zaman dunia ini akan diliputi oleh kuasa-kuasa kegelapan yang
bermaksud untuk menghalang-halangi, menggagalkan dan menghancurkan
rancangan kasih karunia Tuhan bagi umat yang dikasihi oleh-Nya.
Oleh
karena itu, … apabila kita merasa tergoda untuk mengerjakan
sesuatu yang kita ketahui tidak seharusnya kita lakukan, karena
firman Tuhan jelas tidak merestuinya, ingatlah akan ungkapan
termasyhur: ‘What
Would Jesus Do?’ Pertimbangkanlah terlebih dahulu, …
apakah Yesus juga mau melakukannya dengan senang hati?
Dan
jika hati nurani kita merasa ditegur atau diperingati, karena kita
sudah menyadari, bahwa kita sedang dipengaruhi oleh orang-orang atau
kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan suatu tindakan kejahatan
yang akan merugikan, mencelakakan, bahkan membunuh
sesama kita, pergunakanlah ungkapan termasyhur lainnya: ‘What/Who Would Jesus Bomb?’
Menimbang-nimbang
konsekuensi-konsekuensi yang bisa terjadi menggunakan kedua ungkapan
termasyhur tersebut sebagai ukurannya, adalah salah satu cara yang
amat bijaksana untuk menilai kebenaran tindakan-tindakan yang akan
kita lakukan.
Yesus
tidak pernah bermaksud untuk mencelakakan umat ciptaan-Nya. Ia
terlalu mengasihi kita, … tubuh-Nya sendiri. Oleh karena itu Ia
ingin, agar kita juga saling
mengasihi, saling melayani
dan saling menolong, … dari Dia untuk
Dia!
Selain
menerima Dia sebagai Juruselamat,
apakah kita juga selalu mempertanyakan setiap tindakan yang akan
kita lakukan menggunakan WWJD
atau WWJB
sebagai ukuran standar kebenaran yang sudah diterapkan oleh Kristus
2000 tahun yang lalu?
Syalom,
John
Adisubrata
John.Adisubrata[at]gmail.com
Oktober 2007
|