Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Beasiswa Bagi Anak Yang Bodoh dan Malas
Oleh:
Ester SW



         Tentu kita akan berpikir seribu kali untuk memberikan beasiswa kepada anak yang bodoh dan malas. Beasiswa biasanya diberikan kepada anak yang pandai, rajin dan berprestasi namun berasal dari keluarga tidak mampu sehingga anak itu terancam putus sekolah. Seringkali proses seleksi beasiswa sangat ketat dan para pendaftar harus melengkapi syarat ini dan itu.

         Selama satu tahun menjadi pengajar, saya mulai memahami bahwa seringkali masyarakat kita memberikan penilaian yang salah atas anak yang pandai dan bodoh. Anak-anak yang pandai adalah anak-anak yang nilai pelajaran eksaknya bagus sedangkan anak yang bodoh adalah kebalikannya. Banyak orang lupa bahwa Tuhan menciptakan setiap pribadi dengan kemampuan dan keunikannya sendiri. Dan yang amat disayangkan banyak bakat-bakat terpendam tidak tergali karena perspektif yang salah itu, sehingga yang tertinggal adalah anak-anak yang mencap dirinya sebagai anak bodoh dan tidak punya kemampuan apa-apa. Anak-anak itu pada akhirnya akan menjadi orang-orang yang bingung menghadapi kehidupan dan seringkali menyerah pada nasib. Selama satu tahun ini saya belajar memahami mengapa murid-murid saya kadang susah konsentrasi dan malas mengikuti pelajaran. Sebagian besar disebabkan oleh persoalan-persoalan berat yang mereka hadapi. Bagaimana mereka bisa belajar kalau mereka masih harus memikirkan uang untuk bayar SPP, ibu yang sedang sakit keras, ayah yang lari meninggalkan keluarga, adik-adik yang juga butuh biaya sekolah, orang tua yang bercerai atau pacar yang sedang marah. Kita tidak boleh menghakimi seorang anak tidak berniat sekolah tanpa melihat apa yang sesungguhnya sedang dialaminya.

         Orang akan berpikir bahwa sia-sia saja memberikan beasiswa kepada anak yang bodoh. Uang yang diberikan akan percuma saja atau seringkali orang beranggapan mereka tidak layak menerima bantuan itu. Pernahkah Anda tidak mau memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan karena menganggap orang itu tidak pantas menerimanya? Atau karena Anda berpikir pemberian itu terlalu berharga untuk diberikan kepadanya?

         Seperti halnya ilustrasi di atas marilah kita melihat kasih karunia Allah yang diberikannya kepada kita. Bukankah kita juga tidak layak menerima kasih karunia-Nya? Apakah Tuhan hanya memberikan pengampunan-Nya, kasih-Nya, serta keselamatan-Nya hanya kepada orang-orang yang saleh, rajin ke gereja, baik hati dan tidak sombong, suka beramal dan suka berbuat baik? Puji Tuhan karena keadilan-Nya! Tuhan Yesus datang tidak untuk mencari orang yang sehat tetapi orang yang sakit, orang yang hancur hatinya karena menyadari bahwa ia orang berdosa. Tuhan Yesus tidak menolak Zakheus, perempuan yang kedapatan berzinah, Matius si pemungut cukai, orang-orang yang kerasukan setan, orang bukan Yahudi, dan masih banyak lagi. Roh Kudus menjamah siapa saja yang dikehendaki-Nya, entah itu orang yang dianggap baik ataukah sampah masyarakat. Bukan perbuatan lahiriah yang diperhitungkan-Nya sehingga Ia mengaruniakan keselamatan tetapi karena Ia mengasihi manusia.

         Jika kita berkaca maka sebenarnya kita sangat tidak pantas menerima kasih karunia-Nya. Kita seperti anak-anak yang bodoh dan malas yang tidak pantas menerima beasiswa dari-Nya. Sayangnya lagi banyak orang tidak merasa membutuhkannya. Mereka mengira hidup mereka sudah baik, mereka selalu berbuat baik dan berusaha tidak menyakiti orang lain. Tetapi perbuatan baik manusia di mata Allah hanyalah seperti kain kotor (Yesaya 64:6). Syukur kepada Allah karena mengaruniakan Yesus Kristus untuk menebus kita. Oleh darah-Nya kita diampuni, diperdamaikan dengan Allah dan memperoleh hidup kekal. Darah Yesuslah yang membersihkan dan menguduskan kita, bukan perbuatan baik kita. Kita yang tidak layak telah dilayakkan untuk menjadi anak-Nya. Bagian kita adalah mengaku segala dosa dan percaya kepada Yesus, itu saja!