|
Beasiswa Bagi Anak Yang Bodoh dan Malas
Oleh: Ester
SW
Tentu kita akan berpikir seribu kali untuk memberikan
beasiswa kepada anak yang bodoh dan malas. Beasiswa biasanya
diberikan kepada anak yang pandai, rajin dan berprestasi namun
berasal dari keluarga tidak mampu sehingga anak itu terancam putus
sekolah. Seringkali proses seleksi beasiswa sangat ketat dan para
pendaftar harus melengkapi syarat ini dan itu.
Selama satu tahun menjadi pengajar, saya mulai memahami bahwa
seringkali masyarakat kita memberikan penilaian yang salah atas anak
yang pandai dan bodoh. Anak-anak yang pandai adalah anak-anak yang
nilai pelajaran eksaknya bagus sedangkan anak yang bodoh adalah
kebalikannya. Banyak orang lupa bahwa Tuhan menciptakan setiap
pribadi dengan kemampuan dan keunikannya sendiri. Dan yang amat
disayangkan banyak bakat-bakat terpendam tidak tergali karena
perspektif yang salah itu, sehingga yang tertinggal adalah anak-anak
yang mencap dirinya sebagai anak bodoh dan tidak punya kemampuan
apa-apa. Anak-anak itu pada akhirnya akan menjadi orang-orang yang
bingung menghadapi kehidupan dan seringkali menyerah pada nasib.
Selama satu tahun ini saya belajar memahami mengapa murid-murid saya
kadang susah konsentrasi dan malas mengikuti pelajaran. Sebagian
besar disebabkan oleh persoalan-persoalan berat yang mereka hadapi.
Bagaimana mereka bisa belajar kalau mereka masih harus memikirkan
uang untuk bayar SPP, ibu yang sedang sakit keras, ayah yang lari
meninggalkan keluarga, adik-adik yang juga butuh biaya sekolah,
orang tua yang bercerai atau pacar yang sedang marah. Kita tidak
boleh menghakimi seorang anak tidak berniat sekolah tanpa melihat
apa yang sesungguhnya sedang dialaminya.
Orang akan berpikir bahwa sia-sia saja memberikan beasiswa
kepada anak yang bodoh. Uang yang diberikan akan percuma saja atau
seringkali orang beranggapan mereka tidak layak menerima bantuan
itu. Pernahkah Anda tidak mau memberikan sesuatu kepada orang yang
membutuhkan karena menganggap orang itu tidak pantas menerimanya?
Atau karena Anda berpikir pemberian itu terlalu berharga untuk
diberikan kepadanya?
Seperti halnya ilustrasi di atas marilah kita melihat kasih
karunia Allah yang diberikannya kepada kita. Bukankah kita juga
tidak layak menerima kasih karunia-Nya? Apakah Tuhan hanya
memberikan pengampunan-Nya, kasih-Nya, serta keselamatan-Nya hanya
kepada orang-orang yang saleh, rajin ke gereja, baik hati dan tidak
sombong, suka beramal dan suka berbuat baik? Puji Tuhan karena
keadilan-Nya! Tuhan Yesus datang tidak untuk mencari orang yang
sehat tetapi orang yang sakit, orang yang hancur hatinya karena
menyadari bahwa ia orang berdosa. Tuhan Yesus tidak menolak Zakheus,
perempuan yang kedapatan berzinah, Matius si pemungut cukai,
orang-orang yang kerasukan setan, orang bukan Yahudi, dan masih
banyak lagi. Roh Kudus menjamah siapa saja yang dikehendaki-Nya,
entah itu orang yang dianggap baik ataukah sampah masyarakat. Bukan
perbuatan lahiriah yang diperhitungkan-Nya sehingga Ia mengaruniakan
keselamatan tetapi karena Ia mengasihi manusia.
Jika
kita berkaca maka sebenarnya kita sangat tidak pantas menerima kasih
karunia-Nya. Kita seperti anak-anak yang bodoh dan malas yang tidak
pantas menerima beasiswa dari-Nya. Sayangnya lagi banyak orang tidak
merasa membutuhkannya. Mereka mengira hidup mereka sudah baik,
mereka selalu berbuat baik dan berusaha tidak menyakiti orang lain.
Tetapi perbuatan baik manusia di mata Allah hanyalah seperti kain
kotor (Yesaya 64:6). Syukur kepada Allah karena mengaruniakan Yesus
Kristus untuk menebus kita. Oleh darah-Nya kita diampuni,
diperdamaikan dengan Allah dan memperoleh hidup kekal. Darah
Yesuslah yang membersihkan dan menguduskan kita, bukan perbuatan
baik kita. Kita yang tidak layak telah dilayakkan untuk menjadi
anak-Nya. Bagian kita adalah mengaku segala dosa dan percaya kepada
Yesus, itu saja!
|