Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Walaupun ...
Oleh:
Manasje Korniawan



“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:17,18)

Tentunya dalam menjalani kehidupan ini, kita sering kali dihadapkan pada suatu keadaan yang tidak mengenakkan, jalan yang kita lalui tidak selalu mulus, adakalanya tersendat-sendat. Kadang saat kita menghadapi masalah yang berat, penyakit, ancaman, kekurangan, persaingan bisnis yang sangat berat sehingga menyebabkan usaha kita merugi terus, timbul pertanyaan kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa semua ini Kau ijinkan menimpa saya, dan Tuhan tidak segera menolong? Apakah kesalahan atau dosa yang telah saya lakukan sehingga Tuhan menghukum saya?”
Juga menjadi pertanyaan sepanjang jaman, “Mengapa orang baik menderita?”

Kadang kita berpikir dan berharap setelah kita menerima Yesus, hidup sesuai dengan firmanNya, pasti Tuhan Yesus memelihara, menjaga, memberkati hidup kita secara melimpah, menjadi kaya, seperti janji-janji yang banyak ditulis dalam Alkitab, dan menjauhkan kita dari masalah, tidak mengalami penderitaan, sakit penyakit, kekurangan, bencana, malapetaka, kesusahan.

Tetapi justeru sebaliknya, ketika kita mengikut Tuhan, banyak tantangan yang menghadang kita, mulai dari keluarga sendiri, lingkungan kita, bahkan sering jenjang karir kita di tempat kerja menjadi terhambat, mandeg, karena iman kita kepada Tuhan. Karir kita bisa maju asal kita mau menukarkan iman kita. Sungguh ironis.
Kita juga dihadapkan dengan penyakit, penderitaan, kekurangan, jalan yang berbatu-batu.

Jadi mengapa Tuhan tidak melindungi kita, tidak menjaga kita secara menyeluruh, agar hidup kita nyaman, enak kepenak, berbahagia sepanjang hidup kita?
Jawabannya adalah jika kita sangat dilindungi, maka kita tidak akan bertumbuh menjadi dewasa, tidak berakar kuat, dan cenderung sangat rentan terhadap masalah.

Seperti yang dikatakan Iblis kepada Tuhan, “Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: ‘Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?’ Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.” (Ayub 1:9,10)
Iblis si penuduh, mengejek Ayub, karena diberkati, dilindungi, menjadi kaya,  maka Ayub taat, setia, takut kepada Tuhan. Demikian pula halnya dengan hidup kita, karena berkatlah kita takut dan menyembah Tuhan, tetapi jika kita tidak diberkati, tidak mendapat apa-apa dari Tuhan, apakah kita masih setia dan menyembah Tuhan?

Seperti ayat yang kita baca di atas, Daniel 3:1-30, mengisahkan tentang iman Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, orang Yahudi yang menjadi tawanan dan buangan di Babel, saat Raja Nebukadnezar membuat patung emas, dan memerintahkan seluruh rakyat untuk menyembah patung emas tersebut.
Saat itu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dihadapkan pada suatu pilihan sulit, mempertahankan iman kepada Tuhan dengan konsekuensi dihukum, dimasukkan ke dalam dapur api yang menyala-nyala, yang akan mengakibatkan kematian, atau menyangkal iman kepada Tuhan dengan menyembah patung emas, dan tetap hidup.

Suatu pengakuan iman yang luar biasa, yang terucap dari mulut Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, yang dengan berani mempertahankan iman mereka, mereka mengatakan, “...tetapi seandainya tidak,...”, atau walaupun, yang berarti jika mereka harus mati  karena Tuhan tidak membela, tidak menolong, tidak melepaskan mereka dari ancaman, mereka tetap setia kepada Tuhan, tidak akan berpaling dari Tuhan, apapun akibatnya.
Demikian juga dengan sikap Ayub, tetap setia dan taat kepada Tuhan, seperti yang dikatakannya, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Juga saat isterinya menyuruh menghujat Allah, Ayub berkata,”... Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?..." (Ayub 2:10)

Inilah contoh sikap yang harus dimiliki oleh anak-anak Tuhan, kita yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Iman yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, iman yang teguh, yang tidak dapat digoyahkan oleh apapun. Suatu bentuk iman yang telah dewasa dan berakar kuat di dalam Tuhan.
Jangan oleh karena pacar yang tidak seiman, terus kita menjual iman kita, atau hidup kita susah, tak ada perubahan, terus kita minta ke gunung-gunung, orang pintar, paranormal, atau karir terhambat, tidak maju-maju, terus menukar iman kita dengan kedudukan.

Kalau kita baca kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, akhirnya oleh pertolongan Tuhan mereka terlepas dari dapur api yang menyala-nyala, dan Raja Nebukadnezar mengeluarkan perintah agar rakyat menyembah Allah mereka, dan mereka mendapat kedudukan yang tinggi di Babel.
Demikian juga kisah Ayub, akhirnya menerima kembali miliknya dua kali lipat, dan anak-anak yang sangat cantik yang tak tertandingi di negerinya.

Bagaimana dengan iman kita kepada Tuhan Yesus? Kita harus bersyukur atas penebusan, oleh korban Yesus di atas salib, sehingga kita beroleh keselamatan, terbebas dari maut. Dan kita harus bersyukur atas kasih karunia Tuhan yang melimpah dalam hidup kita, apapun yang kita terima, seberapa besar yang Tuhan berikan. Dan walaupun kita tidak menerima saat ini, kita memiliki pengharapan akan keselamatan, pengharapan akan hidup kekal bersama Tuhan Yesus selama-lamanya dalam kerajaan sorga.
Jadi tidak ada  yang dapat kita jadikan alasan untuk meninggalkan Tuhan yang telah begitu besar mengasihi kita, memanggil dan menyelamatkan kita.

Seperti Rasul Paulus katakan, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Roma 8:35)

Tak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, jika kita benar-benar mengasihi Tuhan Yesus dan mengharapkan hidup kekal bersama Tuhan.
Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah benarkah kita telah mengasihi Tuhan, telah menjadi dewasa di dalam Tuhan, sehingga kita sanggup menghadapi penderitaan?
Jika belum, mintalah kekuatan dan pimpinan Roh Kudus yang senantiasa menolong kita melewati semua beban persoalan hidup.

 

Sapat, 10 November 2007.