Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Lho Allah Kok Diam?
Oleh:
Hendra Surasko



            Di Kelas Bapak guru Agama mengatakan: “anak-anak, dunia kita sekarang ini mengalami banyak situasi yang buruk. Tsunami menelan korban ratusan ribu jiwa, Gempa di Yogyakarta menelan sekian jiwa. Kelaparan terjadi di beberapa tempat, penyakit flu burung mematikan beberapa nyawa. Belum lagi ancaman gunung berapi yang siap meletus. Dan kalian juga tahu bahwa harga barang mulai mahal-mahal….” Tiba-tiba seorang anak memotong, “Lho Allah kok diam?” Semua temannya menertawakan anak itu.

            “Lho Allah kok diam?” Dalam banyak perkara sering dialami bahwa seakan-akan Allah itu diam saja. Ketika penderitaan datang mengharu-biru perasaan dan kehidupan, serasa sakit merobek hati dan jiwa. Bagaimana tidak penderitaan itu sangat teramat berat untuk ditanggung. “Aku menjerit kepada-Mu Allah, memohon pertolongan-Mu. Aku sedih Allah, seakan aku tak kuasa menahan penderitaan ini. Tolong aku Allah!” Tetapi ‘lho Allah kok diam?’ Sama sekali Dia kok nggak mendengarkan keluhan dan penderitaanku. Berapa banyak kali mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Tetapi tetap saja “lho Allah kok Diam”

            Apakah hanya manusia biasa, seperti kita, yang mengeluh demikian? Ternyata para rasul pun pernah mengalami pengalaman yang sama. Ingat peristiwa Yesus meredakan angin ribut? Pasti ingat akan perikop tersebut. Bukankah pada saat itu Petrus dan kawan-kawan kebingungan menghadapi angin ribut dan gelombang yang besar. Mereka putus asa, seakan tak ada harapan untuk selamat. Lalu Petrus memutuskan untuk membangunkan Allah. Lalu apa kata Yesus? “Mengapa engkau tidak percaya?” Sadarkah bahwa teguran kepada Petrus juga teguran bagi kita? Kadang badai gelombang kehidupan menerpa, kita cenderung mencari jalan keluar dengan mengandalkan kekuatan dan pemikiran sendiri. Atau kalau kita berdoa kepada Allah, kita mengharapkan jalan keluar yang diberikan-Nya seperti yang kita ingini. Jadi seringkali kita berdoa, mengharapkan pertolongan Allah tetapi sebenarnya memaksa Allah untuk memenuhi keinginan kita, supaya Allah bertindak sesuai dengan jalan keluar yang kita ingini. Pertanyaannya adalah “Siapa yang mengatur hidup kita itu, Allah atau kita sendiri?”

            “Mengapa engkau tidak percaya” Kata ini berarti bahwa Dia menuntut kepasrahan total dari pihak kita manusia kepada Allah. Sebaliknya bila kita percaya tetapi memaksa Allah untuk mengabulkan permohonan seperti yang kita kehendaki, hal ini jelas bukan kepasrahan total (itu berarti memang kita tidak percaya).

Lalu apakah jalan keluar Allah sama seperti konsep jalan keluar kita? Jelas tidak! “Jalan-Ku bukan jalanmu, Rencana-Ku bukan rencanamu” Namun ada kalanya kehendak Allah cocok dengan keinginan kita, kalau demikian itu berarti berkat! Bersyukurlah!

Selain para rasul, Yesus sendiri pun pernah merasa ditinggalkan oleh Allah. Yakni ketika Dia di kayu salib, sabda-Nya “AllahKu… AllahKu…. Mengapa Engkau meninggalkan Daku.” (dengan kata lain. Lho Allah kok diam? Dimana Engkau?”). Lalu apa yang terjadi? Yesus berkata lagi kepada Allah Bapa-Nya, “Ke dalam tanganMu Kuserahkan NyawaKu.” Inilah kepasrahan total! Maka tidak heran Dia ditempatkan pada tempat yang paling tinggi karena kepatuhan-Nya pada kehendak Bapa.

Apakah Yesus yang taat pada kehendak Bapa-Nya hidup-Nya lepas dari penderitaan? Ternyata tidak! Dia dikandung dari perempuan yang masih sangat muda. Kemudian ketika Dia akan dilahirkan ditolak oleh setiap tuan rumah. Akhirnya Dia dilahirkan di kandang hewan, berbungkus kain lampin, tidur di atas jerami di dalam makanan ternak. Hidupnya pun sederhana, anak tukang kayu. Menderita disiksa memanggul salib, bahkan wafat-Nya pun di salib. Sadarkah kita bahwa pribadi yang kita imani sebagai penyelamat (Yesus Kristus) pun telah bergulat dalam penderitaan. Jadi kalau kita menderita dan mengeluh berkepanjangan, apakah sikap ini benar? Kembalilah membaca Injil, dan temukanlah di sana sebuah jawaban dari penderitaanmu. Percayalah bahwa Dia sungguh Allah yang hidup, yang tidak tinggal diam. Dia selalu hadir, dan menunggu kepercayaanmu yang total. Biarlah Dia yang mengatur kehidupanmu.