|
Ambil saja hikmahnya …
Oleh: Kikis Istianta
Seringkali kita mendengar, ketika kita atau orang di sekitar kita mengalami suatu musibah, suatu hal yang kurang menyenangkan, hampir setiap kita melontarkan kata-kata, sudahlah, ambil hikmahnya saja, mungkin bla..bla..bla…
Demikian halnya dengan kehidupan kita. Dunia ini memang diciptakan berimbang, ada hitam, ada putih, ada senang, ada sedih, ada hidup, ada mati dan masih banyak perimbangan kata yang menyatakan keseimbangan itu.
Ketika harapan kita pupus, misalnya, kita merasa segalanya telah lenyap, hancur, dan tak tahu bagaimana kita harus berbuat, apa lagi Tuhan yang harus saya lakukan untuk memulihkan kembali harapan yang musnah
itu? Seringkali kita berseru memohon supaya Tuhan membantu kita mencapai keinginan
kita. Peristiwa ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap keseimbangan rohani
kita. Sangat berpengaruh. Bagaikan seorang pemuda yang sedang ditolak cintanya, atau seorang pemudi yang diputus tali pertunangannya dengan
tiba-tiba. Shock, frustasi, bisa-bisa gila atau entah apapun yang terjadi, dan rata-rata yang sering saya dengar, buntutnya mereka menyalahkan
Tuhan? Dengan pertanyaan sederhana saja, mengapa ini terjadi padaku
Tuhan? Mengapa? Jadi rencana Tuhan tidak indah?
Banyak pertanyaan yang mengalir dalam diri ketika saya harus kehilangan ibu saya, saya seperti anak ayam yang kehilangan induknya, lari ke sana ke mari, mencari sosok yang lain, stress, bayangkan saja, saya yang notabene termasuk jajaran kelas berat seimbang dengan Mike Tyson, menjadi kurus kering layaknya penikmat
candu. Tidak ada gairah, tidak ada semangat. Itulah yang sebenarnya terjadi dalam diri saya ketika
itu. Saya tidak pernah terbayang seandainya peristiwa kehilangan itu tidak
terjadi. Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Tuhan memang
adil. Tuhan memang perkasa, bukan menjerumuskan, tetapi Dia meminta kesabaran kita, Dia berharap kita mau
dipeluk-Nya, kita diberikan waktu untuk tersadar, dan bersandar penuh pada kuat
kuasa-Nya. Itu yang membuat saya tersenyum setelah hampir sepuluh tahun berlalu.
Saya tidak pernah menggubris dengan kata mungkin, tapi saya yakin tentang segala sesuatu indah pada waktu Tuhan.
Seiring dengan bergulirnya waktu, saya bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa, bagaimana kehidupan saya terberkati
oleh-Nya.
Saya jadi teringat ketika saya menuliskan judul tulisan saya, hikmah bukan sekedar penghiburan, tetapi suatu kekuatan yang memulihkan, suatu cara yang Allah mau tunjukkan kepada kita, makna dan arti sesungguhnya kehidupan itu.
Sapat, 16 Nov 07 / 20:05,
selepas Anugrah IV singgah.
|