|
Forgive and Forget
Oleh: Joseph Wise Poriman
Ini
ada sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang
berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka
bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena
tampar, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia
menulis di atas pasir: HARI INI, SAHABAT KARIBKU MENAMPAR
PIPIKU. Lalu mereka berjalan
terus, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk
mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba
berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh
sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia
menulis di sebuah batu:
HARI INI, SAHABAT KARIBKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Lalu
orang yang menolong dan menampar sahabatnya itu bertanya,
"Kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas
pasir, dan sekarang kamu menulisnya di batu?"
Temannya
sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai
kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang
berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan ketika kita menerima
kebaikan dari seseorang kita harus memahatnya di atas batu hati
kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin."
Tuhan Yesus juga pernah menulis dengan jarinya, saat kapan? Saat ada seorang
perempuan yang kedapatan berbuat zinah dan orang-orang akan
melemparinya dengan batu, dan di saat itulah Yesus tampil dengan
tangan-Nya menulis di tanah.
Yesus menuliskan jarinya di tanah dan berkata kepada perempuan yg berdosa
itu: “Pulanglah dan jangan lagi berbuat dosa.” Artinya Tuhan
selalu mengampuni dan memberikan kita kesempatan untuk bertobat dari
segala kesalahan kita. Tuhan tidak akan menghukum, Tuhan tidak akan
mengingat segala kesalahan kita, sebab IA
selalu mengampuni dan selalu melupakan kesalahan kita.
Bagaimana dengan kita? Seringkali kita tidak bisa memaafkan orang yang telah
berbuat salah kepada kita. Bahkan kadang sampai puluhan tahun kita
masih saja mengingat kesalahan seseorang yang mungkin sempat
menyakiti hati kita.
Tanpa kita sadari, sebenarnya seringkali satu hal yg membuat hidup kita
tidak bahagia adalah: karena kita sulit memaafkan orang yang
bersalah pada kita dan kita terus mengingat kesalahan itu. Kita
sulit melupakan sehingga hati kita menjadi begitu tertekan, hidup
kita pun menjadi tidak bahagia.
Padahal Tuhan sendiri sudah melupakan segala kesalahan kita dan Tuhan tidak
pernah mengingatnya lagi (Roma 4:7-8
“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan
yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya
tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya")
Tuhan saja tidak pernah mengingat segala kesalahan kita. IA sudah mengampuni
dan melupakannya. Ada sebuah pujian yang sangat saya sukai yang
liriknya berbunyi demikian:
“Tuhan
s’lalu ampuni…
Dan
lupakan yang sudah..
Dia
tak
kan
ingat salahku..
Tuhan
s’lalu ampuni…”
Di atas kayu salib,
saat Tuhan mengalami satu penderitaan yang demikian besar, DIA masih
teringat kepada orang-orang yang di sekitarnya yang telah menyiksa
dan menyalibkan-Nya. Yesus tidak mendendam mereka, Yesus tidak
membenci mereka, justru Tuhan Yesus berdoa untuk mereka “Ya Bapa,
ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka
perbuat.“
Yesus berdoa untuk
mereka yang telah menyalibkan-Nya, mari biarlah kita juga belajar
seperti Yesus untuk melupakan segala kesalahan orang lain dan
memaafkan mereka. Sebagaimana Tuhan sudah mengampuni kesalahan kita,
berikanlah juga pengampunan itu kepada orang yang sempat bersalah
kepada kita.
Inilah doa kita: Ya
Bapa, berikan kepada kami kasih-Mu, supaya dengan kasih-Mu kami juga
bisa melupakan dan mengampuni orang yang bersalah kepada kami. AMIN.
|