|
Pelopor
Oleh: Hotman Jonathan Lumbangaol, S.Th.
*)
Dunia
ini tak akan dinamis jika tidak ada pelopor. Pelopor adalah pembuat
sejarah, orang seperti Thomas Alfa Edison menemukan listrik, Ford
menciptakan mobil, Bill Gates membuat piranti lunak. Adalah
orang-orang berkualitas yang sudah teruji---berkualitas--mampu
mempengaruhi insan di sekelilingnya. Sebagai lokomotif, pelopor
menarik gerbong. Maka, semua pelopor layak disebut pemimpin, sebab
pemimpin itu adalah pelopor. Alexander, Jengis Khan, Soekarno,
Gandhi, Sonia Gandhi, Benazir Butto,—sebelum menjadi pelopor,
dimulai dari terlebih dahulu memimpin diri sendiri. Artinya, sang
pelopor sejati memberikan contoh positif pada pengikutnya. Dan turut
aktif terlibat dalam segala hal ketimbang sibuk ‘menonton’
proses kerja para anak buahnya.
Jadi
pelopor tidakkan risih menerima kritik. Penolakan dipandangnya bukan
sebagai ‘penghinaan’ atau bentuk pengecilan diri. Sebab, sehebat
apapun seseorang menguasai bidang
pekerjaan, terkadang kesalahan tidak terhindarkan, sebab, memang
manusia tidak ada yang sempurna. Kekurangan seseorang biasanya
dilihat orang lain. Maka tanda seorang (pelopor) pemimpin tidak akan
senang menerima apresiasi, sebab pujian adalah racun bagi kemajuan.
Namun, pemimpin sejati menerima kritikan dan masukan sama nilainya
dengan sebongkah ‘mutiara’. Dengan cara inilah ia dapat
mengetahui berbagai kelemahan dan kekurangan kita, dan segera
mengoreksinya
Pelopor
Itu Siapa?
Pertama, pelopor adalah orang yang mampu berubah,
menciptakan, menemukan. Pemimpin yang tidak mampu membuat perobahan
adalah benalu bagi orang lain. Secara natural (otomatis) orang-orang
dekatnya akan mengganti dia. Jadi pelopor itu siapa? Pelopor adalah
insan yang mampu berkontribusi, berkolaborasi. Pelopor
adalah orang yang berkomitmen tinggi, sebab tidak ada pelopor yang
setengah hati bekerja. Yang terpenting pelopor harus mampu
berkomunikasi dengan suara hati seorang pelopor.
Namun,
bagaimana bisa berkompeten---kalau pelopor tidak memiliki
nilai-nilai kepemimpinan. Jelas pengikut tidak akan pernah mau
mengikuti pelopor yang demikian. Sebab kompetisi membutuhkan seorang
pemimpin yang handal. Sifat pelopor adalah, berdisiplin, pemimpin
menjadi suri tauladan bagi orang lain.
Yang
terpenting lagi, seorang pelopor harus selalu antusias—sebab
antusiasmenya adalah sumber bagi pengikutnya. Pelopor pun harus
memiliki tekad yang kuat untuk menjadikan setiap tindakannya
berbuah. Pelopor juga harus siap menang dan kalah, gagal dan
berhasil, keduanya bunga-bunga jalannya. Pelopor juga biasanya
pandai membangun dan membina hubungan pada setiap orang. Maka, sang
pelopor seharusnya memperbaiki diri sebelum memperbaiki institusi
yang ia pimpin. Untuk merubah orang lain—harus mengubah diri
sendiri. Dan ia juga tidak mementingkan dirinya atau keluarganya. Mengutamakan kebutuhan orang lain yang pertama. Semua
pekerjaannya berorientasi pada solusi bertekat untuk menemukan
solusi.
Sembilan
Karakter Pelopor
Pertama, karakter The Improver adalah memiliki
kepribadian menjalankan bisnis dengan menonjolkan
gaya
improver dengan kemampuan yang kokoh memperbaiki dunia di
wilayahnya. Jika dalam menjalankan bisnis ia pasti memiliki
integritas dan etika yang tinggi. Walau sifat seperti ini cenderung
menjadi perfeksionis dan terlalu kritis terhadap anak buah. Sifat
ini dimiliki pengusaha Anita Roddick, pendiri The Body Shop.
Kedua, karakter The Advisor. Tipe pelopor
seperti ini tipe orang yang bersedia membantu orang lain. Baginya
melakukan apa saja untuk menyenangkan orang lain. Maka, tak heran
pelopor tipe ini bisa fokus pada kebutuhan orang lain, sehingga
cenderung mengabaikan kebutuhan individu. Pelopor seperti John W.
Nordstrom, pendiri Nordstorm dimiliki tipe ini.
Ketiga, karakter The Superstar adalah
pelopor yang berpusat pada karisma dan energi tinggi dari Sang
Pelopor. Pemimpin dengan kepribadian ini biasanya membangun bisnis
dengan personal brand sendiri. Maka tak heran pemimpin seperti ini
bisa menjadi terlalu kompetitif dan perkerja keras. Misalnya; Donald
Trump, CEO Trump Hotels & Casino Resortsnya.
Keempat, karakter The Artist pelopor
seperti ini biasanya senang menyendiri, namun memiliki kreativitas
yang tinggi. Orang seperti ini biasanya bekerja di perusahaan agen
periklanan, web design. Biasanya ia sangat sensitif terhadap respon
pelanggan, walaupun dikritik, menganggapnya membangun. Itulah yang
ditunjukkan Scott Adams, pendiri dan penggagas Dilbert.
Kelima, karakter The Visionary, dibangun
oleh pelopor yang visioner. Dan biasanya visi masa depan dan
pemikiran pendirinya. Ia memiliki keingintahuan yang tinggi untuk
mengerti dunia di sekitar. Maka, seorang visioner biasanya fokus
pada impian dan kurang berpijak pada logika, itulah yang diperbuat
Bill Gates, pendiri Microsoft Inc.
Keenam, karakter The Analyst biasanya
dalam kerja adalah pelopor yang analis, memfokuskan pada
penyelesaian masalah dalam suatu
cara sistematis. Pelopor seperti ini berbasis pada ilmu pengetahuan,
keahlian teknis atau komputer, seorang analis biasanya sangat hebat
dalam memecahkan masalah. Ia akan hati-hati dalam bekerja dengan
sifat ini dimiliki
Gordon Moore, pendiri Intel.
Ketujuh, karakter The Fireball sifat
pelopor yang dimiliki oleh si ‘Bola Api’ dengan penuh hidup,
energi dan optimisme. Pelopor
tipe ini berkomitmen berlebihan terhadap tim, dan bertingkah laku
terlalu impulsif. Hal ini dicirikan Malcolm Forbes, penerbit dan
pendiri Forbes Magazine.
Kedelapan,
karakter The Hero dimiliki pelopor yang berkemauan dan
kemampuan yang luar biasa dalam memimpin dunia yang ia geluti.
Intinya sifat kemandirian melekat pada sikapnya. Walau, ia kadang
mengumbar janji dan menggunakan politik ambisi penuh untuk
mendapatkan sesuatu dengan cara apapun. Ia berambisi sukses, namun
berhasil dalam jangka waktu panjang. Karakter ini dimiliki Jack
Welch, CEO GE.
Terakhir,
karakter The Healer adalah sifat pelopor ‘penyembuh’,
orang yang memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa dan
keteguhan--disertai dengan ketenangan hati. Sifat seperti ini adalah
pelopor pemberi solusi. Dan selalu menghindari realitas di luar, dan
selalu terlalu berharap. Ia layak disebut religius, Ben Cohen, salah
satu pendiri Ben & Jerry’s Ice Cream menerapkan hal ini dalam
mengelola perusahaannya.
Jiwa Pelopor
Dalam setiap bidang; entah itu menjalankan usaha, memimpin
lembaga pendidikan, aktivis, entrepreneur, pelopor harus mampu
membuat terobosan dengan metode lain. Banyak orang mengira
mengulang-ulang prosedur kerja yang terbukti berhasil adalah
satu-satunya cara terbaik meraih kesuksesan. Selain demi mencari
‘aman’, pemimpin macam ini cenderung bersifat mekanik dan
fanatik dalam urusan-urusan tertentu. Sebaliknya, pemimpin yang
inovatif selalu berani membuat gebrakan baru dan menciptakan
visi-misi yang mungkin ‘asing’ bagi mayoritas orang. Pelopor
tidak punya warna hitam-putih, atau abu-abu, namun semua warna sama
indahnya selama seseorang mahir memadukannya. Tidak mudah memang
menjajal sesuatu hal yang baru. Namun, dengan kemampuan analisa,
kejelian melihat peluang, satu langkah inovatif kadang memberikan
hasil mencengangkan.
Selalu ada risiko dibalik setiap keputusan apalagi yang
bernuansa baru. Tapi seperti dikatakan John F. Keneddy, “Hanya
mereka yang berani mengalami kegagalan besar yang akan lebih
memiliki harapan untuk mencapai sesuatu yang besar” Trial and
error, itulah gerbang terbaik bagi calon-calon pemimpin sejati.
Memang, karakter yang handal seperti sembilan karakter
pemimpin di atas mustahil terbentuk hanya dalam semalam, setahun
atau sepuluh tahun, tetapi sepanjang hayat. Pemimpin yang berhenti
mengembangkan diri, tak ubahnya sebuah pedang berkarat yang
tersimpan di gudang bawah tanah. Misalnya; aktif mengikuti seminar,
gemar membaca buku-buku motivasional dan mau bergaul serta memetik
pengalaman dari pemimpin-pemimpin besar lainnya, merupakan kebiasaan
yang menjadi ciri khas pelopor. Orang yang mengaku sebagai pelopor
sejatinya takkan pernah ringkih
menyaksikan keberhasilan orang lain. Sebaliknya, ia justru
tertantang untuk mengangkat orang lain untuk berhasil. Selamat,
menjadi pelopor.
*) Penulis adalah wartawan, peminat masalah-masalah kepemimpinan.
|