Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Allah, Sang Ahli Jiwa yang Hebat
Oleh: Ester SW



         Tahun lalu Allah menghendaki saya untuk bekerja pada suatu bidang yang tidak saya sukai. Bulan-bulan pertama pekerjaan itu terasa berat buat saya tapi saya berpikir bahwa hal itu wajar karena saya masih berada dalam masa adaptasi. Jujur saja saya agak menyesal kenapa saya melamar di instansi itu, andaikan saya tidak melamar tentunya saya tidak akan bekerja di sana . Namun saya selalu ingat bahwa saya berada di situ karena Allah menghendakinya dan bagian saya adalah tunduk kepada-Nya.

         Saya belajar banyak hal dari pekerjaan itu. Banyak pengalaman hidup yang saya dapatkan dan saya dibukakan pada hal-hal yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Selanjutnya saya mulai dapat menikmati pekerjaan saya. Namun ketika hampir satu tahun muncul faktor-faktor dari luar yang menghambat pekerjaan saya. Kondisi itu sempat membuat saya tertekan sehingga saya susah untuk berkonsentrasi dalam bekerja dan pekerjaan itu menjadi terasa berat bagi saya. Akhirnya saya berdoa kepada Allah. Saya terbuka menceritakan kondisi yang saya alami, pergumulan saya dan perasaan saya. Saya jujur mengatakan bahwa saya tidak sanggup lagi melakukan pekerjaan itu. Saya teringat bahwa di awal saya bekerja saya menangkap bahwa tempat itu adalah tempat di mana Allah mengajari saya dan memang saya tidak akan lama berada di situ namun di tempat itu Allah juga menghendaki supaya saya menjadi berkat. Saya mempertanyakan kembali apa yang dulu pernah saya tangkap dari Allah. Ketika mempergumulkan hal itu saya mendapati bahwa Allah sangat memahami kondisi saya. Ia tidak marah atau mencela saya karena saya mengeluh. Ia memerintahkan saya untuk menyelesaikan tugas saya. Jawaban Allah itu membuat saya bersemangat untuk menyelesaikan sisa kontrak saya dan berusaha mengerjakan pekerjaan saya dengan baik serta menjadi berkat di tempat itu. Menjelang hari-hari akhir saya berada di situ saya merasa sedih harus meninggalkan tempat kerja itu.

         Dari pengalaman itu saya belajar bahwa Allah sangat mengerti kondisi kita. Ia sangat memahami kemampuan kita. Ia melihat apa yang kita alami. Ia memberi perintah namun Ia tidak membiarkan kita sendirian setengah mati melakukan perintah itu. Ia menolong kita, bekerja dalam diri kita dan memampukan kita mengerjakan perintah-Nya. Dan ketika kita berada dalam titik “lelah”, Ia tetap memahami keadaan kita.

         Saya belajar dari apa yang dialami Yunus ketika ia menyaksikan pertobatan di Niniwe. Bukannya bersyukur tapi Yunus justru merasa kesal (reaksi yang aneh!). Terhadap reaksi Yunus itu Allah tidak marah atau menghukumnya. Allah kemudian menumbuhkan sebatang pohon jarak agar ia terhibur dari kekesalan hatinya (Yunus 4:6). Dan Allah mulai mengajari Yunus melalui pohon itu. Kondisi yang hampir sama juga dialami nabi Elia. Setelah “perlombaannya” dengan nabi-nabi Baal, Elia berada pada titik “lelahnya”, sehingga ia merasa lebih baik baginya jika ia mati saja. Namun Allah kemudian mengutus malaikat-Nya untuk memberi Elia makan, selanjutnya barulah Allah mengajarinya. Dalam kisah Elia ini saya mendapati bahwa Elia terbuka menyatakan apa yang dialami dan dirasakannya kepada Allah (1 Raja-raja 19:10 ;14). Begitupun ketika kita membaca mazmur-mazmur Daud. Daud adalah seorang yang jujur dan terbuka di hadapan Allah. Dia tidak menyembunyikan apa pun di hadapan Allah karena ia sadar bahwa Allah adalah Allah yang maha tahu. Daud menyatakan ketakutannya menghadapi musuh, kesesakannya, dosanya, kebenciannya terhadap orang fasik, bahkan keinginannya supaya Allah menghukum orang-orang yang berbuat jahat. Ketika Daud terbuka kepada Allah ia mendapatkan kelegaan, kekuatan dan penghiburan hingga ia kemudian dapat bersyukur dan memuji Allah (Mazmur 109).

         Allah menghargai keterbukaan kita dan kalau kita menyadari maka sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tidak dilihat dan diketahui Allah, sekalipun itu tersembunyi di hati kita yang paling dalam. So, sia-sia saja jika kita menyembunyikan atau menutup-nutupi sesuatu dari Allah, toh Allah mengetahuinya. Sebaliknya jika kita terbuka dan menyatakan segala hal –apa pun itu- kepada-Nya maka Ia akan turun tangan. Allah tidak hanya peduli pada kebutuhan rohani kita tetapi Allah peduli pada setiap bidang hidup kita.

         Saat kita jujur dan terbuka kepada Allah maka kedekatan kita dengan-Nya akan semakin terbangun. Saya memulainya dengan menyadari bahwa Allah senantiasa berada di dekat saya di mana pun itu. Ketika saya berada di rumah, dalam bus, di tempat kerja atau di mana saja saya dapat bercakap-cakap dengan Dia (dalam hati saja tentunya). Kadang percakapan itu hanya berupa hal yang sepele, kadang hal yang lucu, kadang juga sesuatu yang menyedihkan. Banyak hal yang saya lihat saya katakan kepada-Nya. Misalnya ketika melihat cowok cakep maka saya kadang berkomentar, “Wah Tuhan, cowok itu cakep ya.” Atau terhadap kondisi lain saya dapat berkata kepada-Nya, “Tuhan, busnya kok lama sekali.” Atau “Tuhan, uang saya habis nih.” Jangan khawatir, Allah tidak akan mengatakan, “Ih, nggak penting banget deh.” Atau “Kayak gitu kok diomongin.” Atau “Emang Gue pikirin.” Tidak ada yang terlalu sepele hingga diabaikan-Nya, bukankah Dia ingin menjadi sahabat kita? Namun tidak berarti juga kita bersikap tidak hormat kepada-Nya. Ada saatnya ketika saya tidak berbicara apa-apa kepada Dia, hanya berdiam diri di hadapan-Nya, membiarkan Dia menyatakan hadirat-Nya. Ketika saya menyadari bahwa Dia ada di samping saya maka itu memberikan kelegaan.    

         Allah, Pencipta kita, mengetahui dengan jelas kondisi kita, Ia memahami jiwa kita, Ia mengerti benar bagaimana menyembuhkan jiwa yang lelah, sakit dan terluka karena Ia adalah sang ahli jiwa yang hebat. Ia sumber segala hikmat dan Ia maha bijaksana. Ia bekerja dengan cara-Nya untuk menangani segala macam kondisi yang kita hadapai. Jadi, terbukalah kepada-Nya!