|
Allah, Sang Ahli Jiwa yang Hebat
Oleh: Ester SW
Tahun lalu Allah menghendaki saya untuk bekerja pada suatu
bidang yang tidak saya sukai. Bulan-bulan pertama pekerjaan itu
terasa berat buat saya tapi saya berpikir bahwa hal itu wajar karena
saya masih berada dalam masa adaptasi. Jujur saja saya agak menyesal
kenapa saya melamar di instansi itu, andaikan saya tidak melamar
tentunya saya tidak akan bekerja di
sana
. Namun saya selalu ingat bahwa saya berada di situ karena Allah
menghendakinya dan bagian saya adalah tunduk kepada-Nya.
Saya belajar banyak hal dari pekerjaan itu. Banyak pengalaman
hidup yang saya dapatkan dan saya dibukakan pada hal-hal yang tidak
pernah saya pikirkan sebelumnya. Selanjutnya saya mulai dapat
menikmati pekerjaan saya. Namun ketika hampir satu tahun muncul
faktor-faktor dari luar yang menghambat pekerjaan saya. Kondisi itu
sempat membuat saya tertekan sehingga saya susah untuk
berkonsentrasi dalam bekerja dan pekerjaan itu menjadi terasa berat
bagi saya. Akhirnya saya berdoa kepada Allah. Saya terbuka
menceritakan kondisi yang saya alami, pergumulan saya dan perasaan
saya. Saya jujur mengatakan bahwa saya tidak sanggup lagi melakukan
pekerjaan itu. Saya teringat bahwa di awal saya bekerja saya
menangkap bahwa tempat itu adalah tempat di mana Allah mengajari
saya dan memang saya tidak akan lama berada di situ namun di tempat
itu Allah juga menghendaki supaya saya menjadi berkat. Saya
mempertanyakan kembali apa yang dulu pernah saya tangkap dari Allah.
Ketika mempergumulkan hal itu saya mendapati bahwa Allah sangat
memahami kondisi saya. Ia tidak marah atau mencela saya karena saya
mengeluh. Ia memerintahkan saya untuk menyelesaikan tugas saya.
Jawaban Allah itu membuat saya bersemangat untuk menyelesaikan sisa
kontrak saya dan berusaha mengerjakan pekerjaan saya dengan baik
serta menjadi berkat di tempat itu. Menjelang hari-hari akhir saya
berada di situ saya merasa sedih harus meninggalkan tempat kerja
itu.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa Allah sangat mengerti
kondisi kita. Ia sangat memahami kemampuan kita. Ia melihat apa yang
kita alami. Ia memberi perintah namun Ia tidak membiarkan kita
sendirian setengah mati melakukan perintah itu. Ia menolong kita,
bekerja dalam diri kita dan memampukan kita mengerjakan
perintah-Nya. Dan ketika kita berada dalam titik “lelah”, Ia
tetap memahami keadaan kita.
Saya belajar dari apa yang dialami Yunus ketika ia
menyaksikan pertobatan di Niniwe. Bukannya bersyukur tapi Yunus
justru merasa kesal (reaksi
yang aneh!). Terhadap reaksi Yunus itu Allah tidak marah atau
menghukumnya. Allah kemudian menumbuhkan sebatang pohon jarak agar
ia terhibur dari kekesalan
hatinya (Yunus 4:6). Dan Allah mulai mengajari Yunus melalui pohon
itu. Kondisi yang hampir sama juga dialami nabi Elia. Setelah
“perlombaannya” dengan nabi-nabi Baal, Elia berada pada titik
“lelahnya”, sehingga ia merasa lebih baik baginya jika ia mati
saja. Namun Allah kemudian mengutus malaikat-Nya untuk memberi Elia
makan, selanjutnya barulah Allah mengajarinya. Dalam kisah Elia ini
saya mendapati bahwa Elia terbuka menyatakan apa yang dialami dan
dirasakannya kepada Allah (1 Raja-raja
19:10
;14). Begitupun ketika
kita membaca mazmur-mazmur Daud. Daud adalah seorang yang jujur dan
terbuka di hadapan Allah. Dia tidak menyembunyikan apa pun di
hadapan Allah karena ia sadar bahwa Allah adalah Allah yang maha
tahu. Daud menyatakan ketakutannya menghadapi musuh, kesesakannya,
dosanya, kebenciannya terhadap orang fasik, bahkan keinginannya
supaya Allah menghukum orang-orang yang berbuat jahat. Ketika Daud
terbuka kepada Allah ia mendapatkan kelegaan, kekuatan dan
penghiburan hingga ia kemudian dapat bersyukur dan memuji Allah
(Mazmur 109).
Allah menghargai keterbukaan kita dan kalau kita menyadari
maka sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tidak dilihat dan
diketahui Allah, sekalipun itu tersembunyi di hati kita yang paling
dalam. So, sia-sia saja jika kita menyembunyikan atau menutup-nutupi
sesuatu dari Allah, toh Allah mengetahuinya. Sebaliknya jika kita
terbuka dan menyatakan segala hal –apa pun itu- kepada-Nya maka Ia
akan turun tangan. Allah tidak hanya peduli pada kebutuhan rohani
kita tetapi Allah peduli pada setiap bidang hidup kita.
Saat kita jujur dan terbuka kepada Allah maka kedekatan kita
dengan-Nya akan semakin terbangun. Saya memulainya dengan menyadari
bahwa Allah senantiasa berada di dekat saya di mana pun itu. Ketika
saya berada di rumah, dalam bus, di tempat kerja atau di mana saja
saya dapat bercakap-cakap dengan Dia (dalam
hati saja tentunya). Kadang percakapan itu hanya berupa hal yang
sepele, kadang hal yang lucu, kadang juga sesuatu yang menyedihkan.
Banyak hal yang saya lihat saya katakan kepada-Nya. Misalnya ketika
melihat cowok cakep maka saya kadang berkomentar, “Wah Tuhan,
cowok itu cakep ya.” Atau terhadap kondisi lain saya dapat berkata
kepada-Nya, “Tuhan, busnya kok lama sekali.” Atau “Tuhan, uang
saya habis nih.” Jangan khawatir, Allah tidak akan mengatakan,
“Ih, nggak penting banget deh.” Atau “Kayak gitu kok
diomongin.” Atau “Emang Gue pikirin.” Tidak ada yang terlalu
sepele hingga diabaikan-Nya, bukankah Dia ingin menjadi sahabat
kita? Namun tidak berarti juga kita bersikap tidak hormat
kepada-Nya.
Ada
saatnya ketika saya tidak berbicara apa-apa kepada Dia, hanya
berdiam diri di hadapan-Nya, membiarkan Dia menyatakan hadirat-Nya.
Ketika saya menyadari bahwa Dia ada di samping saya maka itu
memberikan kelegaan.
Allah,
Pencipta kita, mengetahui dengan jelas kondisi kita, Ia memahami
jiwa kita, Ia mengerti benar bagaimana menyembuhkan jiwa yang lelah,
sakit dan terluka karena Ia adalah sang ahli jiwa yang hebat. Ia
sumber segala hikmat dan Ia maha bijaksana. Ia bekerja dengan
cara-Nya untuk menangani segala macam kondisi yang kita hadapai.
Jadi, terbukalah kepada-Nya!
|