Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Gelandangan Dari Allah (1)
Oleh: Hendra Surasko



          Suatu ketika Bapak Guru agama menerangkan kepada para murid di dalam kelas. “Anak-anak, tidak ada segala yang hidup di muka bumi ini yang abadi. Pada saatnya kelak semua makhluk yang hidup itu akan binasa. Coba kalian perhatikan. Biji tumbuh menjadi tanaman/pohon kemudian berbuah suatu saat kelak dia akan meranggas, kering dan mati. Kalian coba perhatikan anak binatang lahir, kemudian menjadi besar, dan suatu saat mati. Manusia juga sama, dia akan lahir, lalu berkarya dan suatu saat kelak akan mati.”

          Tanggapan dari seorang murid: ”Bapak Guru, lalu apa gunanya kita ini hidup? Kalau akhirnya kita ini mati. Buat apa kita belajar, bersekolah dll. Juga buat apa kita mengumpulkan harta, mencari nama baik, dll. Semuanya sia-sia dong?!”

          Memang benar hidup ini hanya sementara. Kalau kakek-nenek bilang “hidup itu hanya mampir ngombe” (hidup itu sekedar singgah sejenak untuk minum). Kalau dilihat dari setiap manusia yang lahir dia tak membawa apapun jua. ‘Dia telanjang’. Tidak ada sehelai pun benang, tidak ada segemerlap kilauan permata. Hanya rambut, kaki, tangan, badan dan seluruh kelengkapan tubuh yang lain. Keistimewaannya adalah bahwa manusia dibekali oleh Pencipta, Allah Bapa, akal budi, hati nurani, kasih. Dengan singkat kata manusia lahir tanpa membawa apapun kecuali bekal yang diberi oleh Dia yang Mencipta dan menghendaki bahwa insan ini harus lahir di bumi.

          Dalam banyak hal, kita, manusia adalah gelandangan dari Allah, yang memang tidak mempunyai apapun kecuali yang melekat dan ada di tubuh ini. Bahkan Yesus pun mengatakan kepada pengikut-Nya; “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai apapun bahkan untuk meletakkan kepala pun tidak Dia punya.” Manusia adalah gelandangan dari Allah, yang mengais sesuatu yang berharga untuk hidup. Apa sesuatu yang berharga itu?

          Sesuatu yang berharga adalah sebuah kebahagiaan. Mana dan apa itu kebahagiaan? Marilah kita mencarinya bersama. Dimana dan apa itu kebahagiaan? Ada seorang bintang yang sudah termashur, kaya, selalu mendapat job di mana-mana, tetapi dia tetap mengalami kekosongan. Akhirnya jatuh ke lembah dosa. Terjebak pada obat terlarang. Apa yang dicarinya? Kekayaan? Ketenaran? Ternyata semua itu belum membuatnya bahagia?! Ada orang lain lagi yang mempunyai kekayaan berlimpah, (sampai-sampai bingung untuk apa uang ini dihabiskan) tetapi dia belum dianugerahi seorang anak pun. Dia belum mengalami kebahagiaan! Sementara ada orang lain yang dikarunia anak berlebih-lebih. Dia sudah berusaha untuk menghentikan kelahiran anak dengan berbagai cara tetapi selalu saja gagal, anak karunia Tuhan tetap diberikan kepada dia. Ada lain lagi orang yang semuanya sudah berlimpah ruah hartanya tetapi tetap belum bisa mengatakan aku bahagia.

          Kebahagiaan ada dimana. Mungkin seperti sikap Maria, bunda Yesus, yang mengatakan “Semua peristiwa itu direnungkan dalam hatinya”. Dia merenungkan semua peristiwa hidup, termasuk di dalamnya misteri penyelamatan. Yang pantas diteladani adalah jawabannya pada sabda malaikat: ”Aku ini hamba Tuhan Jadilah padaku menurut perkataanmu”. Inilah kunci kebahagiaan.