|
Gelandangan Dari Allah (1)
Oleh: Hendra Surasko
Suatu ketika Bapak Guru agama menerangkan kepada para murid di dalam
kelas. “Anak-anak, tidak ada segala yang hidup di muka bumi ini
yang abadi. Pada saatnya kelak semua makhluk yang hidup itu akan
binasa. Coba kalian perhatikan. Biji tumbuh menjadi tanaman/pohon
kemudian berbuah suatu saat kelak dia akan meranggas, kering dan
mati. Kalian coba perhatikan anak binatang lahir, kemudian menjadi
besar, dan suatu saat mati. Manusia
juga sama, dia akan lahir, lalu berkarya dan suatu saat kelak akan
mati.”
Tanggapan dari seorang murid: ”Bapak Guru, lalu apa gunanya kita
ini hidup? Kalau akhirnya kita ini mati. Buat apa kita belajar,
bersekolah dll. Juga buat apa kita mengumpulkan harta, mencari nama
baik, dll. Semuanya sia-sia dong?!”
Memang benar
hidup ini hanya sementara. Kalau kakek-nenek bilang “hidup itu
hanya mampir ngombe” (hidup itu sekedar singgah sejenak untuk
minum). Kalau dilihat dari setiap manusia yang lahir dia tak membawa
apapun jua. ‘Dia telanjang’. Tidak ada sehelai pun benang, tidak
ada segemerlap kilauan permata. Hanya rambut, kaki, tangan, badan
dan seluruh kelengkapan tubuh yang lain. Keistimewaannya adalah
bahwa manusia dibekali oleh Pencipta, Allah Bapa, akal budi, hati
nurani, kasih. Dengan singkat kata manusia lahir tanpa membawa
apapun kecuali bekal yang diberi oleh Dia yang Mencipta dan
menghendaki bahwa insan ini harus lahir di bumi.
Dalam banyak hal, kita, manusia adalah gelandangan dari Allah, yang
memang tidak mempunyai apapun kecuali yang melekat dan ada di tubuh
ini. Bahkan Yesus pun mengatakan kepada pengikut-Nya; “Serigala
mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak
mempunyai apapun bahkan untuk meletakkan kepala pun tidak Dia
punya.” Manusia adalah gelandangan dari Allah, yang mengais
sesuatu yang berharga untuk hidup. Apa sesuatu yang berharga itu?
Sesuatu yang berharga adalah sebuah kebahagiaan. Mana
dan apa itu kebahagiaan? Marilah kita mencarinya bersama. Dimana dan
apa itu kebahagiaan?
Ada
seorang bintang yang sudah termashur, kaya, selalu mendapat job di
mana-mana, tetapi dia tetap mengalami kekosongan. Akhirnya jatuh ke
lembah dosa. Terjebak pada obat terlarang. Apa yang dicarinya?
Kekayaan? Ketenaran? Ternyata semua itu belum membuatnya bahagia?!
Ada
orang lain lagi yang mempunyai kekayaan berlimpah, (sampai-sampai
bingung untuk apa uang ini dihabiskan) tetapi dia belum dianugerahi
seorang anak pun. Dia belum mengalami kebahagiaan! Sementara ada
orang lain yang dikarunia anak berlebih-lebih. Dia sudah berusaha
untuk menghentikan kelahiran anak dengan berbagai cara tetapi selalu
saja gagal, anak karunia Tuhan tetap diberikan kepada dia. Ada lain
lagi orang yang semuanya sudah berlimpah ruah hartanya tetapi tetap
belum bisa mengatakan aku bahagia.
Kebahagiaan ada dimana. Mungkin seperti sikap Maria, bunda Yesus,
yang mengatakan “Semua peristiwa itu direnungkan dalam hatinya”.
Dia merenungkan semua peristiwa hidup, termasuk di dalamnya misteri
penyelamatan. Yang pantas diteladani adalah jawabannya pada sabda
malaikat: ”Aku ini hamba Tuhan Jadilah padaku menurut
perkataanmu”. Inilah kunci kebahagiaan.
|