|
Gelandangan Dari Allah
(2)
Oleh: Hendra Surasko
Suatu ketika seorang murid bertanya kepada Bapak Guru Agama:
“Bapak guru, di dalam Kitab Amsal dikatakan bahwa segala sesuatu
adalah sia-sia. Jadi buat apa semuanya ini? Kalau toh akhirnya
menjadi sia-sia.”
Sejenak
Bapak Guru agama itu merenung, lalu menjawab: “Bisa ya, bisa juga
tidak. Semuanya itu tergantung bagaimana orang menghayati
kehidupannya. Anakku ada orang yang tidak tahu untuk apa hidup, sama
seperti seorang gelandangan yang tak punya arah. Mau pulang, tetapi
pulang kemana, namanya saja gelandangan. Mau pergi, pergi kemana?
Uang saku saja belum tentu ada. Itu yang tidak punya arah, atau
hanya sekedar gelandangan. Tetapi ada orang yang menghayati hidupnya
sebagai ‘gelandangan dari Allah’. Dia menyadari bahwa lahir
tanpa apa-apa, kehidupan dan segala yang dipunyai hanyalah titipan
dari Allah semata. Bahkan untuk memperpanjang atau memperpendek
hidupnya pun dia tidak punya kuasa. Apakah
kamu tahu apa yang bapak maksudkan, anakku?”
Memang
benar ada orang yang bisa menghayati hidup ini secara bermakna dan
bernilai, tetapi ada banyak orang yang tersesat tak tahu jalan, dan
tak tahu apa makna hidup ini. Yang diketahui hanyalah asal hidup,
mengenai tujuan kemana hidup dan harus bagaimana hidup itu, sedikit
orang yang menyadarinya. Maka tidak heran bila dijumpai, anak remaja
yang tersesat dan kemudian terbelenggu dalam kehidupan yang lekat
dengan obat-obat terlarang. Tidak jarang ditemui pula orang tua yang
hidupnya hanya melulu mencari kesenangan duniawi semata, hanya
mengejar kekayaan atau bahkan kesenangan yang semu.
Marilah
belajar dari kehidupan Abraham. Abraham ketika dipanggil Tuhan ke
tempat yang dijanjikan, dia tidak bertanya-tanya tetapi percaya, dan
dengan tekun menjalani panggilan Allah dengan setia. Akhirnya dia
digelari “Bapa kaum Beriman”.
Kehidupan
dari Ayub ketika dia menderita, apa yang dia lakukan selain tetap
setia kepada Allah. Kita mengetahui bahwa cobaan begitu berat dalam
kehidupannya tetapi bagaimana dia tetap berpegang teguh pada imannya
akan Allah. Dia mengatakan (Ayub 1:21) katanya: "Dengan
telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku
akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil,
terpujilah nama TUHAN!"
Kehidupan
dari Saulus yang kemudian bertobat menjadi Paulus. Dia
‘ditangkap’ oleh Yesus untuk dijadikan alat-Nya. Bagaimana dia
menjalani panggilan Yesus untuk menjadi alat-Nya, ternyata dia
mengalami banyak rintangan bahkan penderitaan dan siksaan yang
diahadapi. Tetapi bagaimana sikapnya ternyata dia setia pada tugas
panggilannya, meskipun pada akhirnya dia dipenggal kepalanya.
Mari
belajar dari Yesus. Dia mencontohkan bahwa Dia menerima salib dengan
penuh cinta. Dengan tabah, Dia menjalani perjalanan salib-Nya menuju
Golgota. Dia dipaku di salib dengan tetap diam. Akhirnya dia
mengatakan “selesailah sudah”. Hal ini mengungkapkan bahwa Dia
telah menjalani semua tugas dengan tuntas. “Ya Bapa ke dalam
tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”
Mana
yang kita pilih dalam menghayati hidup: menjadi sekedar
‘Gelandangan’ atau ‘Gelandangan dari Allah’?
Semuanya
kembali kepada kita!
|