Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm[at]glorianet.org dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Gelandangan Dari Allah (2)
Oleh: Hendra Surasko



          Suatu ketika seorang murid bertanya kepada Bapak Guru Agama: “Bapak guru, di dalam Kitab Amsal dikatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Jadi buat apa  semuanya ini? Kalau toh akhirnya menjadi sia-sia.”

Sejenak Bapak Guru agama itu merenung, lalu menjawab: “Bisa ya, bisa juga tidak. Semuanya itu tergantung bagaimana orang menghayati kehidupannya. Anakku ada orang yang tidak tahu untuk apa hidup, sama seperti seorang gelandangan yang tak punya arah. Mau pulang, tetapi pulang kemana, namanya saja gelandangan. Mau pergi, pergi kemana? Uang saku saja belum tentu ada. Itu yang tidak punya arah, atau hanya sekedar gelandangan. Tetapi ada orang yang menghayati hidupnya sebagai ‘gelandangan dari Allah’. Dia menyadari bahwa lahir tanpa apa-apa, kehidupan dan segala yang dipunyai hanyalah titipan dari Allah semata. Bahkan untuk memperpanjang atau memperpendek hidupnya pun dia tidak punya kuasa. Apakah kamu tahu apa yang bapak maksudkan, anakku?”

Memang benar ada orang yang bisa menghayati hidup ini secara bermakna dan bernilai, tetapi ada banyak orang yang tersesat tak tahu jalan, dan tak tahu apa makna hidup ini. Yang diketahui hanyalah asal hidup, mengenai tujuan kemana hidup dan harus bagaimana hidup itu, sedikit orang yang menyadarinya. Maka tidak heran bila dijumpai, anak remaja yang tersesat dan kemudian terbelenggu dalam kehidupan yang lekat dengan obat-obat terlarang. Tidak jarang ditemui pula orang tua yang hidupnya hanya melulu mencari kesenangan duniawi semata, hanya mengejar kekayaan atau bahkan kesenangan yang semu.

Marilah belajar dari kehidupan Abraham. Abraham ketika dipanggil Tuhan ke tempat yang dijanjikan, dia tidak bertanya-tanya tetapi percaya, dan dengan tekun menjalani panggilan Allah dengan setia. Akhirnya dia digelari “Bapa kaum Beriman”.

Kehidupan dari Ayub ketika dia menderita, apa yang dia lakukan selain tetap setia kepada Allah. Kita mengetahui bahwa cobaan begitu berat dalam kehidupannya tetapi bagaimana dia tetap berpegang teguh pada imannya akan Allah. Dia mengatakan (Ayub 1:21) katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Kehidupan dari Saulus yang kemudian bertobat menjadi Paulus. Dia ‘ditangkap’ oleh Yesus untuk dijadikan alat-Nya. Bagaimana dia menjalani panggilan Yesus untuk menjadi alat-Nya, ternyata dia mengalami banyak rintangan bahkan penderitaan dan siksaan yang diahadapi. Tetapi bagaimana sikapnya ternyata dia setia pada tugas panggilannya, meskipun pada akhirnya dia dipenggal kepalanya.

Mari belajar dari Yesus. Dia mencontohkan bahwa Dia menerima salib dengan penuh cinta. Dengan tabah, Dia menjalani perjalanan salib-Nya menuju Golgota. Dia dipaku di salib dengan tetap diam. Akhirnya dia mengatakan “selesailah sudah”. Hal ini mengungkapkan bahwa Dia telah menjalani semua tugas dengan tuntas. “Ya Bapa ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.”

Mana yang kita pilih dalam menghayati hidup: menjadi sekedar ‘Gelandangan’ atau ‘Gelandangan dari Allah’?

Semuanya kembali kepada kita!