|
Membanggakan, Menggentarkan, Memprihatikan, dan Tak Terduga
Oleh: Arie Saptaji
Saya
menulis artikel, dimuat di sebuah majalah rohani populer, yang
beredar ke berbagai gereja lintas denominasi. Artikel itu akan
dibaca oleh orang-orang yang tertarik dengan topik bersangkutan.
Ada
yang menganggap artikel itu bagus, dan menyetujui pandangan saya.
Ada
pula yang mengerutkan kening, menganggap tulisan itu menyesatkan
umat. Paling tidak begitulah yang saya bayangkan.
Selain menulis, di gereja saya kadang-kadang juga diberi kepercayaan
untuk berkhotbah atau memimpin pendalaman Alkitab. Ya, kebanyakan di
gereja saya sendiri; sejauh ini belum banyak gereja atau persekutuan
yang mengundang saya menjadi pembicara.
Tulisan saya, dengan demikian, menerobos lebih jauh daripada
pelayanan lisan saya. Kalau diundang menjadi pembicara, pengundang
tentu sedikit banyak mempertimbangkan latar teologis saya. Salah
satu pihak, misalnya, sempat memberi catatan, agar saya tidak
menyinggung soal bahasa lidah. Artinya, kalau saya nekad melanggar
aturan, berarti lampu merah menyala: saya tak akan diundang lagi ke
lingkungan mereka.
Tulisan saya relatif bebas dari kekangan semacam itu. Artikel saya
bisa sampai ke tangan jemaat yang kemungkinan besar tidak akan
mengundang saya menjadi pembicara. Saya menulis artikel atau buku
tentang Harry Potter, misalnya, dan menyanjung simbol dan nilai
kristiani yang terkandung di dalamnya. Gereja yang pandangannya
berlawanan dengan saya tentu tak berminat untuk mengundang saya
sebagai pembicara. Namun, bisa saja anggota jemaat tersebut tetap
membaca artikel atau buku saya, bukan? Kalau ada larangan resmi dari
majelisnya, jangan-jangan artikel atau buku saya itu malah akan
dicari-cari dan jadi laris!
Mengingat daya penetrasinya yang hebat, pelayanan literatur jadi
membanggakan dan sekaligus menggentarkan. Membanggakan, karena kita bisa melayani umat Tuhan melintasi ruang dan
waktu. Menggentarkan,
karena hal itu mengandung tanggung jawab yang besar pula. Seperti
diingatkan oleh Yakobus, orang yang menjadi pengajar – dan penulis
dalam pengertian tertentu adalah pengajar – akan dituntut
pertanggungjawaban dengan standar yang lebih berat. Dengan kata
lain, modal utama seorang penulis sebenarnya bukanlah kemahiran
mengolah kata, melainkan integritas pribadi – kesesuaian antara
tulisan dan keseluruhan gaya hidupnya. Sungguh berat, bukan?
Namun, tampaknya bukan itu penyebab tidak banyaknya orang yang
berminat terjun dalam pelayanan literatur. Saya terlibat dalam
pelayanan literatur, dimulai dengan mengurus warta jemaat, sudah
hampir dua puluh tahun. Sepanjang itu, rekan pelayanan saya terus
berganti dari periode ke periode. Nah, jumlah mereka yang masih
bertahan di bidang kepenulisan, dengan tulisannya terpublikasi di
media massa atau terbit menjadi buku, bisa dihitung dengan jari
sebelah tangan. Sebagian besar memilih menekuni pelayanan lain atau
bekerja di bidang yang tidak banyak bersinggungan dengan penulisan
kreatif. Pelayanan literatur, bagi mereka, tinggal jadi nostalgia
masa lalu.
Pelayanan literatur, bagaimanapun, memang bukan bidang yang keren
dan gemerlap. Meskipun relatif luwes menelusup ke segala penjuru,
pelayanan ini kebanyakan bergerak di balik layar, fungsinya lebih
mirip sebagai pelengkap. Kalau orang tertarik dengan khotbah seorang
pengkhotbah, mungkin ia berharap ada buku yang bisa dibaca lebih
lanjut. Atau, kalau majelis gereja mendorong jemaat membeli buku
tertentu sebagai bahan pendalaman Alkitab, barulah buku itu akan
dicari-cari.
Belum ada riset yang bisa dikutip statistiknya, namun kelihatannya
jemaat, dan kebanyakan ibadah gereja, lebih berfokus pada khotbah.
Buku baru ditengok bila perlu, dan bila mau. Secara kasar,
perbandingan ini bisa dilihat dari perbedaan honor berkhotbah dan
menulis. Ketika saya menulis artikel, dengan waktu riset dan
penulisan sekitar dua hari, honorarium yang saya terima paling
banyak hanya sekian puluh ribu. Namun, ketika artikel yang sama saya
jadikan bahan khotbah selama setengah jam di sebuah persekutuan di
ibukota, "dana kasih" yang saya terima jumlahnya hampir
sepuluh kali lipat honor satu artikel. Hm, coba bayangkan kalau saya
diundang sepuluh kali ke persekutuan semacam itu – wah, bisa-bisa
jumlahnya mengungguli royalti yang saya terima dalam satu semester!
Selain itu, meskipun bisa melintasi batas-batas denominasi, dampak
tulisan cenderung tidak langsung. Orang yang berkhotbah lalu
menyampaikan tantangan mimbar akan segera menyaksikan berapa banyak
di antara hadirin yang memberikan respon. Jemaat yang dikunjungi
atau didoakan juga bisa langsung berterima kasih atas pelayanan
tersebut. Sebaliknya, orang yang tersentuh karena sebuah artikel
belum tentu memberikan umpan balik kepada penulisnya. Bisa jadi
sampai meninggal pun seorang penulis belum tahu sejauh mana dampak
karyanya.
Saya jadi ingat akan nasib George MacDonald. Tahun 1858, pendeta dan penulis
dari Skotlandia ini, setelah lumayan sukses dengan beberapa buku,
menerbitkan dongeng Phantastes. Ternyata buku itu tidak laku
karena pembaca menganggap ceritanya ganjil. Penerbit lalu enggan
menerbitkan karya-karyanya yang lain.
Sekitar 60 tahun kemudian seorang pemuda menemukan Phantastes di
kios buku loak di sebuah stasiun. Saat membacanya di atas kereta
api, pemuda itu begitu terpikat oleh dongeng fantasi tersebut: daya
khayalnya serasa dibaptis. Pemuda itu bernama C.S. Lewis, saat itu
seorang ateis.
Ketika kemudian menjadi Kristen, Lewis mengakui, Phantastes telah
menjadi semacam titik balik baginya. Di dalam tulisan MacDonald, ia
menemukan suatu nuansa kekudusan yang belum pernah dijumpainya
sebelumnya. Karya-karyanya yang memancarkan cheerful goodness
'kebaikan yang menyenangkan hati', bukan saja memukau imajinasi,
namun juga meyakinkannya bahwa kebenaran itu bukan sesuatu yang
menjemukan. Siapa sangka sebuah "buku gagal" bisa menjadi
benih pertobatan bagi pembacanya?
Begitulah sebagian dinamika pelayanan literatur: membanggakan secara
daya penetrasi, menggentarkan secara pertanggungjawaban, cukup
memprihatinkan secara ekonomi, dengan dampak yang kadang-kadang
sungguh tak terduga. Masih berminat menekuni bidang pelayanan ini?
***
---Arie
Saptaji
Penulis Warrior: Sepatu untuk Sahabat (GPU, 2007)
http://sepatuwarrior.wordpress.com/
|