|
Senyuman
Oleh: Kikis Istianta
Aku tersenyum kepada mereka, ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka.
Ayub 29: 24
Kecewa, marah, tidak tahan, sebenarnya adalah sebuah reaksi dari sebuah kenyataan yang tidak diharapkan terjadi dan harus
dihadapi. Bagaimanapun juga kehidupan yang kita jalani semata-mata tidak hanya berkutat dengan yang “baik-baik” saja, terkadang keadaan yang pada awalnya kita anggap baik, berbalik 180 derajat dalam satu detik saja, sehingga keadaan tersebut membuat kita tertekan.
Hal ini berlaku dalam semua aspek kehidupan. Bagaimana kita menyikapinya merupakan salah satu cara untuk mencari jalan keluar dari keadaan yang
demikian. Apakah kita bersikap acuh, santai saja, serius, atau bahkan dengan keegoisan membenarkan kebenaran diri kita, atau mengalah untuk menenangkan situasi, atau apapun yang kita
lakukan. Seperti pada kalimat awal, bagaimana kita menyikapi, menjadikan kita sadar, bahwa kondisi semacam ini merupakan satu peristiwa yang suka atau tidak suka akan kita lalui, dan yang terutama mendidik kita untuk menerima keberadaan orang lain
di sekitar kita dengan segala perbedaan yang ada.
Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah mahluk sosial, yang
diciptakan-Nya untuk saling menjalin komunikasi dan berhubungan dengan orang lain, supaya dalam hubungan tersebut terjalin dengan baik, maka perlu adanya toleransi dan budaya saling
menghargai. Bagaimanapun juga, setiap manusia mempunyai perasaan yang
berbeda. Apa jadinya bila kita yang hidup ini, yang mempunyai rasa ini dianggap sebagai benda mati, yang dipandang hanya dengan sebelah mata, disepelekan, bahkan dianggap sebagai manusia yang tidak
bermanfaat? Seorang pembantu sekalipun, seorang kasta terendah sekalipun, dia adalah manusia, yang pada dasarnya tetap mempunyai kasih dan mempunyai keinginan untuk dihargai keberadaannya.
Saya sungguh bersyukur, ketika kejadian menimpa saya beberapa waktu yang lalu, bagaimana saya ditolong untuk tetap bertahan dan tetap melayani dengan kasih terhadap sikap dan tingkah laku seseorang terhadap diri
saya. Sebenarnya ada keinginan untuk meluapkan kemarahan saya, namun kembali Tuhan pegang kendali saya, dan saya
berterima kasih, keadaan ini menjadikan bahan pelajaran yang sangat berguna, saya bisa menjadi lebih bijaksana dalam menanggapi segala sesuatu.
Ketika ada perbedaan dalam pembuatan laporan, semestinya dengan teguran yang baik, dengan alasan yang bisa diterima,
saya pun akan menerima dengan suka cita, namun ketika perbedaan itu dilontarkan sebagai suatu tudingan terhadap sebuah kebodohan dan diumbar pada setiap orang, siapapun juga akan tersinggung, dan inilah yang
terjadi. Karena kebiasaan yang demikian, sudah mendarah daging dan menjadi sifat pada diri orang itu, saya sangat terpukul dengan kondisi yang
demikian. Saya tidak pernah membenci, namun menyayangkan sikapnya yang tidak sepantasnya dilakukan sebagai orang
tua. Puncaknya ketika laporan itu dibuat dan mengacuhkan saya bahkan
di depan saya sendiri, berbicara pun tidak, tanpa sepatah kata pun, malah dengan menyuruh bawahan saya dan menganggap bahwa saya tidak ada, saya sangat kecewa sekali, namun puji Tuhan, saya bisa melewati itu dengan penuh
kesabaran. Meskipun di sisi lain kemarahan mungkin nampak pada roman muka saya, namun saya berusaha sekuat tenaga memendam dan perlahan-lahan sirna larut dalam
aktivitas saya yang lain. Sungguh satu pengalaman yang menyebalkan, memuakkan, namun juga pelajaran yang sangat berharga untuk pertumbuhan kejiwaan saya, belajar memakai satu perisai kesabaran dan kesadaran tentang arti diri saya untuk orang lain di sekitar kita.
Meskipun saat ini saya masih merasakan kekecewaan itu, saya berusaha untuk melupakan kejadian itu dan menghilangkannya dalam hati saya rasa kecewa serta tetap menghargai dirinya, dan saya ungkapkan melalui sebuah senyuman, bahkan saya berusaha untuk tetap menjalin kerjasama yang baik dengannya.
Sangat bertentangan dengan kondisi yang terjadi pada “dunia” kita, ketika kemarahan dibalas dengan kemarahan, kebencian dibalas dengan kebencian, dan ketika dendam berkecamuk dalam dada, pertengkaran dan kesalahpahaman akan lebih sering terjadi, dan kita akan dilenakan dengan kedengkian, iri hati, tidak puas, dan akar pahit yang akan semakin subur tertanam dalam hati
kita. Kalau kita dapat menyadarinya bahwa sebenarnya perbedaan itu menjadikan kita dewasa, kita tidak akan tenggelam dalam lingkup keegoisan yang berakhir dengan kesombongan, sehingga mengakibatkan hubungan sosial kita akan semakin
runyam. Kalau hubungan dengan sesama kita saja semakin runyam, bagaimana pertanggungjawaban hubungan kita dengan Tuhan?
Kita dituntut untuk menyampaikan segala sesuatu dengan sikap yang benar, menyampaikan dengan penuh kesabaran, tetap menghargai sebuah perbedaan tanpa harus menyakiti perasaan orang lain di sekitar kita. Sebagai salah satu pengikut Kristus kita dikendalikan oleh Roh Kudus, kita
dituntun-Nya untuk menghindari semua itu dengan kasih. Kita akan selalu dituntut untuk menyatakan kasih kita dengan memperhatikan kepentingan orang lain di sekitar kita.
Ketika saya tersenyum, saya sadar bahwa senyuman saya bukan senyum basa-basi, tetapi benar-benar senyuman yang
tulus. Hal sederhana yang bisa saya lakukan, meskipun saya tidak akan pernah tahu, seberapa besar dampak yang saya timbulkan dengan senyuman itu, namun paling tidak dengan kuasa Roh Kudus saya percaya mampu melumerkan sisi-sisi keegoisan pada diri orang lain.
Tuhan Yesus terima kasih.
|