|
Lega…
Oleh: Manasje Korniawan
“Aku
harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka
mulutku …” (Ayub 32:20)
Perkataan ini diucapkan oleh Elihu, salah satu
sahabat Ayub yang datang untuk menghibur Ayub, saat Ayub mengalami
pencobaan, penderitaan.
Elihu merupakan sahabat yang paling muda di antara empat sahabat
Ayub, dan memiliki sikap yang bijaksana karena saat sahabat-sahabat
yang lain menyampaikan pendapat mengenai sebab penderitaan Ayub, dan
cenderung menyalahkan Ayub, Elihu berdiam diri, karena merasa paling
muda, ia memberi kesempatan yang lebih tua untuk berbicara terlebih
dulu.
Kalau kita membaca keseluruhan kitab Ayub,
perkataan dan pendapat Elihu baru ditulis pada pasal-pasal terakhir
(pasal 32-37), sebelum Allah menyampaikan jawaban atas penderitaan
Ayub (pasal 38-42).
Juga pada akhirnya Allah berkenan kepada Elihu karena menyampaikan
hal yang benar tentang Allah, sementara kepada tiga sahabat Ayub
yang lain, Allah tidak berkenan karena tidak menyampaikan hal yang
benar tentang Allah.
Untuk memulihkan hubungan antara Allah dan ketiga sahabat Ayub yang
bersalah, Ayublah yang mempersembahkan korban bakaran bagi
pengampunan ketiga sahabat itu.
Ayub dan sahabat-sahabatnya merupakan contoh
teladan yang baik bagi kita. Dalam kehidupan sehari-hari, pastilah
kita banyak bergaul, baik di lingkungan keluarga, di lingkungan
pekerjaan, di gereja, di sekolah, dan lain sebagainya.
Dalam pergaulan, kita cenderung akan memiliki sahabat-sahabat,
sesama pekerja, sesama anggota jemaat atau pengurus, teman sekolah,
orang-orang yang paling dekat dengan kita, teman berbagi, yang kita
anggap bagai saudara sendiri.
Seperti Elihu, Elifas, Bildad, dan Zofar, mereka adalah
sahabat-sahabat Ayub yang sangat dekat, saling berkomunikasi dengan
terbuka, saling berbagi dan saling mengenal dari hati ke hati. Dan
saat Ayub mengalami masalah, mereka datang untuk menghibur dan
menguatkan Ayub yang sedang ditimpa penderitaan.
Tetapi kadang persahabatan yang dibina tidak
berjalan mulus, kadang terjadi gesekan-gesekan, karena pendapat yang
keliru, walaupun maksudnya untuk kebaikan, seperti yang dihadapi
Ayub. Ketiga sahabatnya, Elifas, Bildad dan Zofar, berpendapat bahwa
Ayub menderita karena berbuat dosa sehingga dihukum oleh Allah,
sementara Ayub membela diri, merasa tidak ada dosa besar yang
dilakukannya yang sebanding dengan hukuman berat yang diterimanya.
Karena dekat hubungannya, mereka saling adu pendapat, untuk mencari
penyelesaian yang dihadapi Ayub, mereka memiliki kasih, sehingga
saling memerhatikan.
Dalam membina persahabatan, yang terpenting adalah adanya
komunikasi, keterbukaan, saling mengasihi, saling memerhatikan.
Seperti yang dilakukan Elihu, setelah mendengarkan dan menyaring
semua perdebatan sahabat-sahabatnya, Elihu berkata, “Aku harus
berbicara, supaya merasa lega.” Dengan menyampaikan
pikirannya, uneg-unegnya, maka hati Elihu menjadi lega, dan
Ayub pun merasa dikuatkan, ada yang membelanya.
Jika komunikasi menjadi mandeg, tidak ada
lagi keterbukaan, maka akan timbul bermacam-macam prasangka, kadang
kita merasa bahwa masalah itu akan selesai sendiri, atau
menganggap dengan berjalannya waktu, nanti akan menjadi
baik, padahal tidak akan demikian, makin lama akan semakin
runyam, yang sesungguhnya terjadi adalah kita sedang menyimpan bom
waktu, yang suatu ketika, saat hati kita sudah menjadi penuh,
sesak, maka akan meledak, kata-kata yang keluar dari dalam hati
sudah tak terkontrol lagi, yang akan mengakibatkan rusaknya
persahabatan.
Dalam Injil tulisan Yohanes, Tuhan Yesus
mengatakan, “… tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku
telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah
Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yohanes 15:15).
Tuhan Yesus menganggap kita sebagai sahabat, oleh karena itu tanpa
ragu Yesus memberitahu segala sesuatu tentang Bapa kepada kita,
tidak ada rahasia yang disembunyikan, agar hidup kita diubahkan,
menjadi serupa dengan Yesus Kristus, dan dapat bersekutu dengan
Bapa, seperti Yesus. Inilah contoh sahabat sejati, yang penuh kasih,
tanpa mencari keuntungan pribadi, tetapi demi tercapainya
persekutuan, kesempurnaan hidup kita untuk memperoleh hidup kekal.
Jadi bagaimana dengan hidup kita, apakah kita
peduli dengan sahabat-sahabat kita? Apakah kita memandang teman,
sahabat, dari segi untung rugi, hanya sekedar memanfaatkan untuk
kepentingan kita sendiri?
Berbahagialah kita jika kita memiliki sahabat sejati, yang
mengarahkan kita, tidak hanya membuat kita senang padahal
menjerumuskan kita, dan tidak jemu-jemu mengingatkan kita ke arah
hidup yang lebih baik.
Seperti Alkitab mengatakan, “Seorang sahabat menaruh kasih
setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”
(Amsal 17:17)
Juga perlu diingat dalam mencari teman atau
sahabat, kita harus hati-hati, jangan sampai kita bergaul dengan
orang-orang yang tidak baik, seperti yang diingatkan oleh Rasul
Paulus dalam suratnya pada jemaat Korintus, “Janganlah kamu
sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”
(1 Korintus 15:33).
Sapat, 26 November 2007
|