|
Rapuh
Oleh: Arie Saptaji
Pagi:
Besuk kawan, seorang guru SLTA, yang diopname. Demam berdarah. Ia,
jadinya, menikmati masa liburnya dengan betul-betul
"berlibur".
Siang: Membeli obat lanjutan
untuk menuntaskan penyembuhan alergi putri kami. Kuharap ini resep
terakhir setelah tiga --- atau empat --- tahun ia, sekecil itu,
mesti menjalani pengobatan beruntun.
Malam: Melayat. Ayah salah
seorang anggota gereja kami meninggal dunia. Serangan jantung.
Setelah serangkaian pemeriksaan sebelumnya dokter menyatakan ia
baik-baik saja.
Pulangnya: Singgah di rumah
kawan lain yang kabarnya flu berat. Ternyata ia sudah merasa enakan.
Sakit-penyakit. Persoalan. Maut. Hidup ini rapuh, ya?
Di ujung malam seorang kawan mengirimiku pesan singkat. Mengutip Mimi
Lan Mintuna-nya Remy Sylado, ia tentu tak berniat memukul gong,
toh ia seakan menggarisbawahi: "Mutu kebaikan justru teruji
melalui kenyataan akan adanya kejahatan yang tidak pernah
punah."
Kerapuhan barangkali mirip dengan kejahatan. Ia senantiasa menguntit
kita, menyelinap tak terduga bahkan ketika hari terasa cerah. Ia
juga hadir untuk menguji mutu kehidupan kita. Ia terus-menerus
menggerus kita, agar tertinggal hanya yang tidak tergerus. Kita bisa
kian getir dan buram, acuh tak acuh sampai dungu dan majal, atau
malih jadi manis dan bening.
Dengan kebeningan itu, semoga, kita dapat menangkap sekilas pantulan
wajah Sang Pembentuk Kehidupan, Dia yang bersemayam dalam terang
yang tak terhampiri, yang senantiasa bekerja di balik segala
kerapuhan. ***
---Arie
Saptaji
Penulis Warrior: Sepatu untuk Sahabat (GPU, 2007)
http://sepatuwarrior.wordpress.com/
|