Selamat Datang di Gloria Cyber Ministries -- Connecting Believers -- Updated Harian
 

Kolom Kita adalah Kolom Bersama Milik Kita Semua. Kolom ini sifatnya terbuka untuk semua netters. 

Kirimkanlah Artikel/tulisan Anda untuk Kami muat dalam page ini. 

Kirimkan ke gcm@glorianet.org  dengan subject: kolom kita.

Ke Arsip Kolom Kita







Sinterklas
Oleh: Buyung Asmara Ratna Hadi

Hari menjelang sore ketika keretaku sampai di Amesfort. Fuihh ... lumayan juga perjalanannya. Empat jam dari stasiun utama Hannover sampai sini. Setelah ini masih harus ganti kereta pula ke Den Haag Central. Tapi tak apa. Rencananya, malam itu aku akan merayakan 'hari Sinterklas' bersama pasangan suami istri kenalan baik keluargaku semasa mereka masih di Indonesia. Mereka berdua aktif di gereja dan gerakan misi. Dan suatu saat dulu, pernah menjadi misionaris di Indonesia, tinggal dekat rumah masa kecil ibuku.

Sekarang mereka mengundangku untuk merayakan hari yang kedengaran agak asing ini. Di Eropa barat, hari Sinterklas (Belanda) atau hari St. Nikolaus (Jerman) memang dibedakan dari hari Natal. Konon kabarnya, Martin Luther sendiri yang mempelopori pemisahan ini, gara-gara jengah dengan popularitas old St. Nick yang membayangi arti Natal sebenarnya. Well, pemisahan memang terjadi dan dipatuhi sampai sekarang ... namun arti Natal sebenarnya juga tetap bersaing dengan pemaknaan-pemaknaan lain.

Satu jam perjalanan dari Amesfort, dan sampailah aku di Den Haag. Sang suami dari pasangan ini (yang sudah sejak pertama kali kenal dulu sudah kami panggil opa) menjemputku di stasiun. Lumayan ger-ger..an juga pertemuan kali ini. Maklum pertama kali bertemu di tanah airnya. Banyak yang opa ceritakan ketika melewati gedung-gedung dalam perjalanan ke rumah mereka. Sampai di rumah, oma tak kalah hangat menyambut. Dulu, tak pernah terbayang akan pernah bertemu di tempat sebegitu jauh dari Indonesia. Allah memang selalu punya rencana yang tak terduga ...

Hari mulai gelap. Selesai makan malam, kami mulai membuka kado-kado di depan perapian. Belum sempat satu kado terbuka, Dar .. dar ... dar .. dar!!! Seseorang menggedor pintu rumah opa!!! Kami terkejut! 'Apa nih?' batinku ... Dan ketika kami beramai-ramai membuka pintu .... 'Ho Ho Ho Ho!!!!' Wajah penuh jenggot putih dengan mantel merah menyambut kami semua dari luar. Sementara itu, dua oknum lain dengan wajah belepotan cat hitam menyeruak masuk seraya menyebar-nyebar permen ke sudut-sudut ruangan ... WOW!! Sinterklas dan piet hitam!!!! 

Kagetku setengah mati ... lebih dari 20 tahun hidup, belum pernah sekalipun aku melihat sinterklas beneran datang nyebar permen .... Dan bukan hanya permen, tapi juga hadiah-hadiah kecil seperti pulpen dan kalender.

Usut punya usut, ternyata itu ide putera tetangga opa. Ia ingin agar seluruh tetangga ibunya dapat kejutan yang benar-benar mengejutkan malam Sinterklas itu … Dan apa lagi yang benar-benar mengejutkan selain … Sinterklas "benar-benar" yang datang tanpa diundang? Ia pula yang menyaru jadi Sinterklas, dan dua anaknya jadi Piet Hitam ...

Well, buatku ia sudah "benar-benar" jadi Sinterklas. Malam bulan Desember di Belanda tahun ini lumayan dingin dan berangin banyak pula (rumah opa dekat pantai Scheveningen). Dan di tengah malam seperti itu, dia mengunjungi tetangga-tetangga ibunya yang rata-rata sudah tua, mungkin agak jarang dikunjungi anak dan sanaknya. 

Sebelum Sinterklas datang malam itu, opa sempat bercerita tentang hari-hari di mana ia-lah Sinterklas di rumah itu ... membagi kado buat anak-anaknya. Sekarang anak-anak itu sudah meninggalkan rumah orang tua mereka, menjadi Sinterklas buat anak-anak mereka sendiri ... Dan menyenangkan sekali melihat para veteran Sinterklas ini dikunjungi oleh Sinterklas muda, dikejutkan sebagaimana dulu mereka mengejutkan, dihadiahi sebagaimana mereka dulu menghadiahi ...

Sinterklas, atau Santa Claus, atau St. Nicolaus, sebagai icon mungkin bayangannya atas Natal terasa mengganggu. Tapi aku lebih suka menghayati Sinterklas sebagai personifikasi kebaikan, kindness. Yang adalah refleksi rasa syukur karena anugerah keselamatan itu telah datang. Rasa syukur yang tidak mandeg. Rasa syukur yang mengalir keluar, membagikan sebagian dari hidup buat orang lain. ‚Sinterklas' yang seperti ini, bisa jadi siapa saja. 

Sudikah Anda jadi Sinterklas buat orang lain tahun ini?

Hannover, 25 Desember 2003

*)
Buyung Asmara Ratna Hadi, dapat dihubungi langsung b.asmara@lycos.com